Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street ditutup beragam alias mixed pada akhir perdagangan Kamis (2/4/2026), karena sinyal diplomatik dari Timur Tengah membantu menenangkan pasar yang sebelumnya terguncang oleh ancaman Presiden AS Donald Trump tentang tindakan yang lebih keras terhadap Iran menjelang libur panjang akhir pekan.
Mengutip Reuters, pada pukul 4:06 sore, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,13%, ke level 46.504,67, indeks S&P 500 naik 0,11% ke level 6.582,69 dan Nasdaq Composite naik 0,18%, ke level 21.879,18.
Indeks ketakutan Wall Street, indeks CBOE VIX, turun menjadi 23,87 poin.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 16,75 miliar saham, dengan rata-rata 17,82 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Baca Juga: Bursa Wall Street Jatuh Setelah Donald Trump Akan Serang Iran Lebih Agresif
Dalam sepekan, S&P 500 naik 3,36%, Nasdaq naik 4,44%, dan Dow naik 2,96%. Indeks saham perusahaan kecil Russell 2000 naik 3,19%.
Ketiga indeks tersebut mencatatkan kenaikan mingguan terbesar dalam empat bulan dan kenaikan mingguan pertama dalam enam bulan.
Sentimen investor stabil pada sore hari setelah Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan sedang menyusun protokol dengan Oman untuk mengatur lalu lintas melalui Selat Hormuz dan Inggris mengatakan puluhan negara sedang membahas cara untuk mengakhiri krisis, meredakan kekhawatiran tentang gangguan berkepanjangan terhadap aliran minyak global.
Saham dibuka lebih rendah di tengah kenaikan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan serangan yang lebih agresif, menjelang libur Jumat Agung, ketika pasar akan tutup.
Harga minyak mentah untuk pengiriman Mei 2026 melonjak, dengan minyak mentah AS naik 11% menjadi sekitar US$ 111 per barel. Acuan internasional Brent ditutup naik sekitar 7% mendekati US$ 108.
Namun, para pedagang memperkirakan harganya sekitar US$ 82 per barel pada bulan Oktober, sebuah sinyal bahwa mereka memperkirakan gangguan tersebut bersifat sementara.
“Pasar (saham) saat ini tidak memiliki keyakinan yang kuat, tetapi harga minyak Oktober menunjukkan bahwa pasar berpikir krisis ini kemungkinan akan berakhir pada musim gugur,” kata Michael Antonelli, ahli strategi pasar di Baird.
Baca Juga: Wall Street Meroket! Saham Teknologi Pimpin Penguatan Bursa Saham AS
Rebound di Wall Street ini mencerminkan kehati-hatian, dengan investor lebih menyukai segmen saham yang dianggap lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Sektor utilitas, yang cenderung menawarkan pendapatan dan dividen yang stabil, naik 0,6%.
Saham real estat, yang seringkali diuntungkan dari pendapatan sewa yang stabil dan cenderung berkinerja lebih baik ketika investor mencari arus kas yang andal dalam lingkungan yang tidak pasti, naik 1,5%.
Sementara itu, saham sektor barang konsumsi non-esensial merosot 1,5%, sektor dengan kinerja terburuk pada hari itu, dipimpin oleh penurunan 5,4% pada saham Tesla setelah angka pengiriman kuartal pertamanya.
Wall Street dibuka lebih rendah karena isu Iran, sebuah pembalikan tajam dari komentar Trump sebelumnya bahwa AS akan keluar dari Iran dengan cukup cepat.
Secara terpisah, kekhawatiran kredit swasta kembali muncul setelah Blue Owl membatasi jumlah penarikan investor dari dua dana yang berfokus pada ritel. Saham perusahaan tersebut termasuk yang paling banyak diperdagangkan pada sesi terakhir minggu ini.
Data nonfarm payroll hari Jumat akan menjadi sorotan setelah klaim pengangguran mingguan turun pekan lalu, tetapi pasar AS akan tetap tutup sepanjang akhir pekan ini untuk libur Jumat Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













