kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.940   -77,07   -0,96%
  • KOMPAS100 1.111   -13,95   -1,24%
  • LQ45 806   -6,90   -0,85%
  • ISSI 283   -3,09   -1,08%
  • IDX30 427   -2,07   -0,48%
  • IDXHIDIV20 519   1,40   0,27%
  • IDX80 125   -1,34   -1,06%
  • IDXV30 141   0,27   0,19%
  • IDXQ30 137   -0,41   -0,30%

Wall Street Dibuka Rontok Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Ketakutan Inflasi


Selasa, 03 Maret 2026 / 22:18 WIB
Wall Street Dibuka Rontok Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Ketakutan Inflasi


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tajam pada Selasa (3/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi dan perdagangan global.

Melansir Reuters pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 411,7 poin atau 0,84% ke level 48.493,11.

Indeks S&P 500 melemah 81,4 poin atau 1,18% ke 6.800,26, sementara Nasdaq Composite anjlok 456,5 poin atau 2,01% ke 22.292,37.

Baca Juga: BEI & KSEI Rilis Kepemilikan Saham Emiten di Atas 1%, Kepercayaan Asing Bisa Kembali?

Tekanan pasar dipicu oleh ancaman Teheran untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Lonjakan harga minyak mentah dan gas alam mendorong kenaikan tarif pengiriman global.

Sektor yang sensitif terhadap harga energi, seperti maskapai penerbangan dan pariwisata, kembali tertekan untuk hari kedua berturut-turut.

Saham maskapai Delta Air Lines turun sekitar 3,6%, sementara operator kapal pesiar Royal Caribbean merosot 4,3%.

Baca Juga: BEI dan OJK Kembali Bertemu MSCI, Bahas Reformasi Pasar Modal dan Kenaikan Free Float

Di sisi lain, saham sektor energi dan pertahanan justru menguat. Occidental Petroleum naik 2% dan Cheniere Energy melonjak 5,3%, sedangkan AeroVironment bertambah 5%.

“Ini adalah hari-hari yang tidak nyaman bagi para pengambil risiko. Untuk saat ini, energi adalah raja,” ujar Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB.

Namun ia mengingatkan, lonjakan harga energi sangat merugikan ekonomi global dan menimbulkan tekanan di sektor lain.

Aksi jual terjadi secara luas, termasuk pada saham teknologi. Nvidia turun 2,6% dan Microsoft melemah 1,9% setelah mencatat kenaikan pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Investor Kripto Tembus 20,7 Juta, Transaksi Januari 2026 Turun

Inflasi Jadi Perhatian The Fed

Investor khawatir kenaikan harga minyak dapat memicu tekanan inflasi yang lebih luas dan memperumit kebijakan bank sentral AS yang tengah menghadapi kenaikan harga akibat tarif perdagangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed baru akan terjadi pada September, mundur dari ekspektasi sebelumnya di Juli.

Sejumlah pejabat bank sentral dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka hari ini, termasuk John Williams, Jeffrey Schmid, dan Neel Kashkari.

Baca Juga: UNVR Resmi Jual Bisnis Teh Sariwangi ke Savoria Kreasi Rasa Senilai Rp 1,5 Triliun

Di luar faktor geopolitik, pasar juga mencermati dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap model bisnis tradisional serta volatilitas di pasar kredit swasta.

Saham MongoDB anjlok 27,2% setelah perusahaan perangkat lunak basis data itu memproyeksikan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar.

Sebaliknya, saham Target naik 3,5% setelah CEO baru Michael Fiddelke menjanjikan pemulihan pertumbuhan penjualan dan memberikan proyeksi laba yang optimistis.

Penguatan dolar AS turut menekan harga aset safe haven tradisional seperti logam mulia. Saham perusahaan tambang yang tercatat di AS, seperti Sibanye Stillwater dan Gold Fields, masing-masing merosot 14,4% dan 9,8%.

Pasar kini bergerak di bawah bayang-bayang konflik Timur Tengah yang berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×