Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor disarankan masih harus wait and see di tengah volatilitas pasar jelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) bulan Juli 2026 pada pekan depan.
Dalam catatan KONTAN, aliran dana asing sebenarnya tercatat mulai masuk ke Indonesia. Melansir Reuters, data regulator dan asosiasi pasar obligasi di Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India mencatatkan bahwa investor asing membukukan pembelian bersih obligasi senilai US$ 11,51 miliar sepanjang Juni.
Nilai itu menjadi arus masuk bulanan terbesar sejak November 2025. Indonesia menjadi tujuan utama aliran dana asing dengan pembelian bersih mencapai US$ 5,5 miliar. Angka tersebut merupakan arus masuk terbesar sejak Mei 2024 dan melampaui negara-negara lain di kawasan.
Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, mengatakan bahwa sebagian besar dana asing yang masuk ke Indonesia mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Menurutnya, investor masih tertarik pada imbal hasil Indonesia yang relatif tinggi.
Asing pun tercatat masuk ke pasar saham pada akhir pekan lalu. Jumat (17/7/2026), dana asing masuk ke pasar saham Indonesia sebesar Rp 725,11 miliar di pasar reguler.
Baca Juga: Menilik Nasib Pasar Keuangan Jelang RDG BI Bulan Juli 2026
Sayangnya, aliran dana asing masih keluar di pasar reguler sebesar Rp 1,46 triliun dalam sepekan dan Rp 12,13 triliun dalam sebulan. Sejak awal tahun, dana asing kabur Rp 91,76 triliun year to date (YTD) di pasar reguler.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat lalu tercatat parkir di zona hijau, dengan kenaikan 1,1% ke 6.175. Dalam sepekan, kenaikan IHSG tercatat 4,24%
Senasib dengan arus dana asing, IHSG turun 0,03% dalam sebulan. Sejak awal tahun, indeks anjlok 28,58% YTD.
Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan memproyeksikan, BI kemungkinan bisa memasuki fase wait and see pada RDG BI Juli 2026, mengingat sudah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin (bps) sejak Mei.
“Tujuannya untuk mengamati transmisi kebijakan yang mulai menunjukkan hasil, termasuk yield SBN yang terangkat dan pergerakan aliran modal asing di pasar SBN yang sudah berbalik menjadi net inflow sejak pekan pertama Juli 2026,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, risiko utama untuk pasar saham pun bukan lagi BI rate, melainkan volatilitas konflik Timur Tengah yang masih bisa memicu risk-off dadakan.
Net sell asing di pasar saham juga kemungkinan masih berlanjut dalam jangka pendek. Namun, asing yang keluar dari saham belum tentu kembali hanya karena keputusan BI rate. Sebab, aliran modal justru bergeser ke SBN yang imbal hasilnya sudah lebih menarik.
Sementara, katalis positifnya ada di penguatan dolar AS yang mulai pudar secara gradual dan hilangnya risiko downgrade dari S&P.
“Investor disarankan fokus ke rilis pendapatan emiten pada kuartal II 2026 akhir Juli nanti. Ini akan lebih krusial dalam jangka pendek sebagai momentum entry maupun exit,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,80% Dalam Sepekan, Pasar Nantikan Keputusan RDG BI
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, secara historis, menjelang RDG BI pasar cenderung wait and see.
Ini lantaran volatilitas intraday meningkat, tetapi pergerakan mingguan relatif terbatas, dengan pelaku pasar fokus pada sinyal kebijakan (guidance) dibanding sekadar level suku bunga.
Ruang penurunan tambahan untuk IHSG akibat hasil RDG BI cenderung terbatas. Namun, yang paling penting adalah bagaimana dampak dari RDG BI itu terhadap nilai tukar rupiah yang saat ini masih belum terlalu efektif.
Kebijakan BI bulan ini dinilai bisa memicu tekanan jangka pendek. Misalnya, melalui persepsi bahwa real rate harus dijaga tinggi demi stabilitas rupiah.
“Namun efeknya ke IHSG lebih ke timing aliran masuk asing, bukan mengubah tesis jangka menengah,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).
Baca Juga: Jelang Pengumuman RDG BI, Rupiah Melemah ke Rp 17.796 per Dolar AS di Tengah Hari
Rully pun menyarankan investor untuk mencermati saham dari sektor perbankan besar.
“Emiten yang justru akan diuntungkan dengan kenaikan bunga adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sebab, BBCA memiliki likuiditas yang cukup baik,” tuturnya.
Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang melihat, investor disarankan untuk kembali memperhatikan profil risikonya. Apabila investor mengutamakan stabilitas dan pendapatan tetap, maka obligasi masih menarik
“Sebab, yield masih kompetitif, potensi capital gain akan meningkat apabila BI nantinya mulai menurunkan suku bunga, serta risiko volatilitas lebih rendah dibanding saham,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).
Sedangkan, untuk investor jangka panjang yang mampu menghadapi fluktuasi, aset saham justru menawarkan potensi imbal hasil yang lebih besar karena valuasi saat ini masih berada pada level yang menarik.
“Alhasil, tak ada pilihan antara saham maupun obligasi, tetapi kombinasi keduanya,” paparnya.
Baca Juga: Pasar Cermati Keputusan FOMC dan RDG BI, Begini Dampaknya ke SBN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
