kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Harga Komoditas Masih Tinggi, Emiten Tembaga Berpeluang Raih Kinerja Positif


Minggu, 19 Juli 2026 / 16:05 WIB
Harga Komoditas Masih Tinggi, Emiten Tembaga Berpeluang Raih Kinerja Positif
ILUSTRASI. Fasilitas pertambangan dan smelter PT Merdeka Copper Gold (DOK/MDKA)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten produsen tembaga berpeluang mencatat kinerja keuangan yang lebih baik seiring dengan tingginya harga komoditas tersebut sepanjang tahun 2026 berjalan.

Mengutip situs Trading Economics, harga tembaga masih menunjukkan tren positif berkat pertumbuhan 9,47% year to date (ytd) sejak awal tahun ke level US$ 6,22 per pound hingga Jumat (17/7/2026). Namun, dalam sebulan terakhir, harga tembaga terkoreksi 2,42%.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, pelemahan yang terjadi pada harga tembaga dalam satu bulan terakhir cenderung akan tercermin sebagai penyesuaian terhadap harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) kuartalan, terutama bagi emiten produsen tembaga yang menjual produknya dengan harga yang mengacu ke London Metal Exchange (LME).

Baca Juga: Harga Tembaga Melesat, Begini Efeknya Bagi Emiten Produsen Tembaga

“Meski ada koreksi dalam satu bulan terakhir, level harga tembaga saat ini secara struktural lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujar dia, Minggu (19/7/2026).

Sebagaimana diketahui, pelemahan harga tembaga akhir-akhir ini terjadi akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, sehingga memicu aksi jual besar-besaran di pasar logam. Namun, harga tembaga masih bertahan di level yang tinggi berkat dukungan dari meningkatnya kekhawatiran pasokan setelah badai dahsyat melanda produsen utama di Chili.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, peluang peningkatan kinerja bagi emiten-emiten produsen tembaga tetap terbuka secara signifikan pada semester I-2026. Ini mengingat fundamental harga tembaga masih cukup kuat seiring permintaan yang tinggi dari sektor elektrifikasi, Artificial Intelligence (AI), dan data center.

Tembaga juga mendapat permintaan tinggi sebagai komponen pembangkit energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan permintaan tembaga untuk kebutuhan transisi energi yang naik dari 9,9 juta ton pada 2025 menjadi 14,3 juta ton pada 2030, sedangkan pasokan komoditas tersebut diperkirakan masih akan defisit hingga 2027.

Dari situ, kondisi defisit pasokan secara struktural dan permintaan dari elektrifikasi dan transisi energi yang makin cepat menjadi sentimen positif bagi kelangsungan usaha emiten tembaga. Di samping itu, tren pembelian emas oleh bank sentral juga memberikan efek berganda bagi emiten tembaga yang juga punya emas sebagai mineral ikutan.

Baca Juga: Pasokan dan Permintaan Global Dorong Harga Tembaga

“Sentimen negatif bagi sektor ini berasal dari risiko perlambatan ekonomi China yang masih menjadi konsumen tembaga terbesar di dunia dan risiko penundaan proyek smelter yang bisa mengganggu timeline volume,” ungkap dia, Jumat (17/7/2026).

Rully menilai, emiten seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tetap menjadi unggulan di sektor tembaga. Keduanya tidak hanya terpapar oleh harga tembaga, melainkan juga emas yang tetap berada dalam tren positif sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Di lain pihak, Abida menyebut AMMN menjadi emiten produsen tembaga yang paling prospektif pada 2026. Hal ini didukung oleh siklus laba AMMN yang sedang memasuki fase akselerasi. 

AMMN memperoleh sentimen positif seiring proses ramp-up Fase 8 Batu Hijau yang mampu meningkatkan jumlah bijih primer yang ditambang menjadi 38 juta ton pada kuartal I-2026, dibandingkan 1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Alhasil, produksi konsentrat AMMN melesat 110% year on year (yoy) menjadi 167.792 ton pada tiga bulan pertama 2026.

Selain itu, transformasi bisnis dari produsen konsentrat menjadi penyedia katoda tembaga dan emas murni telah memperkuat integrasi vertikal, sehingga meningkatkan nilai tambah, kualitas pendapatan, dan margin laba bagi AMMN.

Lantas, Abida merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga di level Rp 6.000 per saham.

Baca Juga: Harga Tembaga Tertekan, Konflik AS-Iran Kembali Picu Kekhawatiran Inflasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×