Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham emiten telekomunikasi diperkirakan masih menarik hingga akhir 2026 sejalan dengan dilakukannya lelang spektrum frekuensi oleh pemerintah.
Pemerintah memasuki babak akhir penataan spektrum frekuensi radio sebagai fondasi pemerataan layanan internet dan percepatan implementasi 5G. Setelah melepas pita frekuensi 1,4 GHz untuk layanan internet pita lebar tetap (fixed broadband), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) kini menyelesaikan proses seleksi pengguna pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk jaringan bergerak seluler.
Diketahui, pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz mulai diseleksi sejak April 2026. Berdasarkan hasil seleksi yang diumumkan Komdigi, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk menempati peringkat pertama pada seleksi pita 700 MHz dengan blok selebar 30 MHz (2x15 MHz), disusul PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan PT Indosat Tbk yang masing-masing memperoleh alokasi 20 MHz (2x10 MHz).
Baca Juga: Investasi Semester I-2026 Capai Rp 1.010 Triliun, Ini Tantangan Berikutnya
Sementara, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menjadi pemenang alokasi pita frekuensi 2,6 GHz dengan blok selebar 80 MHz. Selanjutnya, PT Indosat Tbk memperoleh alokasi 60 MHz, sedangkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk mendapatkan blok frekuensi 50 MHz.
Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan lelang spektrum ini merupakan katalis positif bagi emiten sektor telekomunikasi, seperti PT. XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT. Indosat Tbk (ISAT) karena spektrum merupakan aset strategis yang menjadi fondasi peningkatan kapasitas jaringan dan kualitas layanan.
Nafan mencermati, pita 700 MHz memiliki jangkauan luas sehingga efektif memperluas cakupan 4G, terutama di wilayah suburban dan rural, dengan biaya investasi yang lebih efisien.
Sementara itu, pita 2,6 GHz menawarkan kapasitas lebih besar sehingga cocok untuk meningkatkan kualitas layanan data di wilayah dengan trafik tinggi sekaligus mempercepat implementasi jaringan 5G.
Meski demikian, Nafan mengingatkan bahwa manfaat lelang spektrum tersebut kemungkinan baru akan terasa dalam jangka menengah hingga panjang dan belum langsung tercermin pada kinerja keuangan emiten tahun ini.
"Investor juga akan mencermati besaran biaya perolehan spektrum (spectrum fee), kebutuhan belanja modal (capex), serta kemampuan operator memonetisasi layanan 5G agar investasi tersebut memberikan tingkat pengembalian (return on investment) yang optimal," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 1,1% ke 6.175 pada Jumat (17/7), KLBF, TLKM, TOWR Top Gainers LQ45
Jika dibedah per emitennya, Nafan menilai TLKM berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan. Hal ini didukung oleh posisi keuangan yang kuat, basis pelanggan terbesar, serta fleksibilitas untuk mengembangkan jaringan 4G dan 5G secara lebih agresif tanpa memberikan tekanan berlebih terhadap neraca keuangan.
Sementara itu, ISAT juga dinilai memiliki prospek yang menarik karena efisiensi operasional pascamerger. Tambahan spektrum diyakini dapat memperkuat kualitas jaringan sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan dalam layanan data.
Adapun EXCL juga diperkirakan memperoleh manfaat dari tambahan spektrum, terlebih setelah integrasi dengan Smartfren yang berpotensi menghasilkan sinergi jaringan, efisiensi operasional, serta optimalisasi penggunaan spektrum sehingga daya saing perusahaan semakin meningkat.
Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, bilang dengan mempertimbangkan harga lelang yang lebih rendah dari ekspektasi dan asumsi bahwa biaya tahunan Biaya Hak Penggunaan (BHP) mulai berlaku pada full year 2027, revisi performa menunjukkan penurunan EBITDA tahun 2027 yang lebih terbatas, yakni 1,5% untuk TLKM, 3,0% untuk ISAT, dan 3,3% untuk EXCL.
"Sebelumnya kami memperkirakan dampaknya mencapai 4,3%, 8,2%, dan 6,8%," ujar Kafi dalam riset 13 Juli 2026.
Baca Juga: Lelang Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz Dimulai, Cek Rekomendasi Saham Telekomunikasi
Selain itu, kata Kafi, muncul pertanyaan apakah biaya spektrum yang lebih murah akan diimbangi dengan kewajiban pembangunan jaringan yang lebih agresif.
Menurut Kafi, kewajiban pembangunan jaringan tersebut justru masih cukup moderat Komdigi mewajibkan operator mencapai cakupan populasi layanan 5G minimal 51% dalam lima tahun, yang berarti penambahan cakupan sekitar 5 poin persentase per tahun dari posisi saat ini sekitar 26%. Kecepatan pembangunan ini masih jauh lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan.
Hingga akhir tahun 2026, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan katalis utama yang dapat menyokong sektor telekomunikasi meliputi implementasi spektrum baru, pertumbuhan konsumsi data monetisasi layanan digital, serta realisasi sinergi pasca merger XLSMART.
Sementara itu, risiko yang perlu dicermati adalah persaingan tarif yang dapat menekan ARPU, tingginya belanja modal (capex) untuk ekspansi 5G, serta kenaikan biaya spektrum yang berpotensi membatasi pertumbuhan laba.
Untuk strategi investasi, Sukarno merekomendasikan buy untuk saham TLKM dengan target harga Rp 3,630 per saham, kemudian buy dengan target harga Rp 2.250 untuk ISAT.
Kafi juga merekomendasikan buy untuk TLKM dengan target harga Rp 3.000, buy ISAT dengan target harga Rp 3.700, dan buy EXCL dengan target harga Rp 3.750 per saham.
Sementara Nafan merekomendasikan add pada ketiga saham telekomunikasi tersebut. Ia memasang target harga EXCL di Rp 3.430 per saham, TLKM Rp 3.030 per saham, dan ISAT Rp 2.740 per saham.
Baca Juga: BACH Ganti Pengendali, Global Telekomunikasi Prima Kini Kuasai 51% Saham
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
