kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.614.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.940   -67,00   -0,37%
  • IDX 6.176   67,33   1,10%
  • KOMPAS100 814   12,72   1,59%
  • LQ45 622   13,33   2,19%
  • ISSI 212   0,39   0,18%
  • IDX30 351   8,04   2,34%
  • IDXHIDIV20 438   9,47   2,21%
  • IDX80 93   1,54   1,68%
  • IDXV30 117   0,44   0,38%
  • IDXQ30 113   2,94   2,65%

Menilik Nasib Pasar Keuangan Jelang RDG BI Bulan Juli 2026


Minggu, 19 Juli 2026 / 18:06 WIB
Menilik Nasib Pasar Keuangan Jelang RDG BI Bulan Juli 2026
ILUSTRASI. IHSG Menguat-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar keuangan diperkirakan masih terus stagnan pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) bulan Juli 2026 nanti. Meskipun begitu, aliran dana asing tercatat mulai masuk ke Indonesia.

Melansir Reuters, data regulator dan asosiasi pasar obligasi di Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India mencatatkan bahwa investor asing membukukan pembelian bersih obligasi senilai US$ 11,51 miliar sepanjang Juni.

Nilai itu menjadi arus masuk bulanan terbesar sejak November 2025. Indonesia menjadi tujuan utama aliran dana asing dengan pembelian bersih mencapai US$ 5,5 miliar. Angka tersebut merupakan arus masuk terbesar sejak Mei 2024 dan melampaui negara-negara lain di kawasan. 

Kepala Riset Asia ANZ, Khoon Goh, mengatakan bahwa sebagian besar dana asing yang masuk ke Indonesia mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Menurutnya, investor masih tertarik pada imbal hasil Indonesia yang relatif tinggi.

Asing pun tercatat masuk ke pasar saham pada akhir pekan lalu. Jumat (17/7/2026), dana asing masuk ke pasar saham Indonesia sebesar Rp 725,11 miliar di pasar reguler.

Sayangnya, aliran dana asing masih keluar di pasar reguler sebesar Rp 1,46 triliun dalam sepekan dan Rp 12,13 triliun dalam sebulan. Sejak awal tahun, dana asing kabur Rp 91,76 triliun year to date (YTD) di pasar reguler.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat lalu tercatat parkir di zona hijau, dengan kenaikan 1,1% ke 6.175. Dalam sepekan, kenaikan IHSG tercatat 4,24%

Baca Juga: Tekanan Pasar Keuangan Belum Selesai, Pinnacle Jaga Fleksibilitas Portofolio

Senasib dengan arus dana asing, IHSG turun 0,03% dalam sebulan. Sejak awal tahun, indeks anjlok 28,58% YTD.

Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan memproyeksikan, BI kemungkinan bisa memasuki fase wait and see pada RDG BI Juli 2026, mengingat sudah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin (bps) sejak Mei.

“Tujuannya untuk mengamati transmisi kebijakan yang mulai menunjukkan hasil, termasuk yield SBN yang terangkat dan pergerakan aliran modal asing di pasar SBN yang sudah berbalik menjadi net inflow sejak pekan pertama Juli 2026,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, rupiah masih relatif terjaga di kisaran Rp 17.900 – Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sejak 9 Juni 2026, relatif stabil dibanding sebelumnya yang sempat menembus Rp 18.100 per dolar AS. 

Ditambah faktor eksternal yang mulai bersahabat seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta risiko downgrade S&P yang sudah sepenuhnya hilang pasca afirmasi outlook stable BBB. 

Inflasi yang diperkirakan menembus batas atas 3,5% secara tahunan (year on year/YoY) dan defisit neraca perdagangan menjadi sentimen negatif, sehingga dapat menjadi pembobot peluang kenaikan BI Rate sebesar 25 bps pekan depan.

“Namun kami memandang BI akan melihat kembali dengan menyikap headline data ini bersifat sementara dalam jangka pendek,” tuturnya.

Alhasil, kata Zaidan, dampak hasil RDG BI ke IHSG kemungkinan minim. Yang lebih menentukan pergerakan IHSG ke depan justru respons Rupiah pasca keputusan BI Rate. 

“Selama kurs rupiah bisa bertahan di kisaran Rp 17.900 – Rp 18.000 per dolar AS atau bahkan bergerak menguat, IHSG berpotensi bergerak uptrend,” tuturnya.

Baca Juga: Menanti Putusan MSCI, BI hingga S&P, Pasar Keuangan Indonesia Berpotensi Volatil

Risiko utama untuk pasar saham pun bukan lagi BI rate, melainkan volatilitas konflik Timur Tengah yang masih bisa memicu risk-off dadakan.

Menurut Zaidan, net sell asing di pasar saham kemungkinan masih berlanjut dalam jangka pendek. Namun, asing yang keluar dari saham belum tentu kembali hanya karena keputusan BI rate. Sebab, aliran modal justru bergeser ke SBN yang imbal hasilnya sudah lebih menarik. 

Sementara, katalis positifnya ada di penguatan dolar AS yang mulai pudar secara gradual dan hilangnya risiko downgrade dari S&P. 

“Investor disarankan fokus ke rilis pendapatan emiten pada kuartal II 2026 akhir Juli nanti. Ini akan lebih krusial dalam jangka pendek sebagai momentum entry maupun exit,” katanya.

Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang melihat, mulai masuknya asing ke pasar keuangan merupakan sinyal yang cukup positif, tetapi belum dapat dikatakan sebagai konfirmasi bahwa seluruh kondisi pasar telah benar-benar pulih.

Sentimen penggerak IHSG di pekan depan pun tak hanya dari hasil RDG BI, tetapi juga faktor lainnya. 

Yaitu, arah kebijakan The Fed yang semakin mendekati FOMC berikutnya, perkembangan negosiasi tarif dagang AS dengan berbagai negara, pergerakan yield US Treasury, nilai tukar rupiah, serta laporan keuangan emiten semester I 2026 yang mulai dirilis.

Jika BI mempertahankan suku bunga di 5,75%, maka dampaknya terhadap IHSG kemungkinan relatif netral. Fokus pasar akan bergeser kepada pernyataan (forward guidance) Gubernur BI mengenai prospek inflasi, stabilitas rupiah, pertumbuhan ekonomi, dan peluang penurunan suku bunga berikutnya.

“Yang justru lebih sensitif adalah apabila BI memberikan sinyal bahwa ruang pelonggaran moneter menjadi semakin terbatas karena tekanan eksternal. Sentimen tersebut bisa membuat investor asing kembali berhati-hati,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/7/2026).

Untuk IHSG sepanjang pekan depan bergerak dengan support utama 5.850 dan support kuat 5.600, serta resistance pertama 6.300 dan resistance berikutnya 6.600.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6000, tren jangka menengah masih cukup sehat,” paparnya.

Baca Juga: Pasar Keuangan Indonesia Semester II 2026 Masih Diselimuti Tantangan, Ini Kata Analis

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat, dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan RDG BI Juli 2026. “Level 6.500 menjadi area penopang penting,” ujarnya kepada Kontan, Minggu.

Prospek Akhir 2026

Edwin bilang, pergerakan IHSG hingga akhir tahun cenderung lebih konstruktif. Beberapa tantangan untuk pergerakan IHSG adalah ketidakpastian kebijakan perdagangan global, perlambatan ekonomi dunia, arus dana asing yang masih fluktuatif, harga komoditas yang mulai mengalami normalisasi, dan pertumbuhan ekonomi domestik yang belum terlalu kuat.

Namun Indonesia juga memiliki beberapa faktor pendukung. Yaitu, inflasi masih relatif terkendali, fundamental perbankan masih baik, konsumsi domestik tetap menjadi penopang ekonomi, valuasi IHSG mulai menarik, serta potensi pemangkasan suku bunga global.

Saat ini, price to earning ratio (PER) IHSG berada di bawah kisaran historisnya, bahkan berada di sekitar di bawah 9x. Ini merupakan level valuasi yang jarang terjadi apabila dibandingkan dengan rata-rata historis yang berada di kisaran 13–15x.

“Dengan valuasi seperti ini, banyak saham berkualitas diperdagangkan di bawah nilai wajarnya,” katanya.

Namun, valuasi murah tidak selalu berarti pasar akan langsung naik. Terkadang pasar bisa tetap murah selama beberapa bulan apabila masih terdapat sentimen negatif.

“Investor pun sebaiknya menggunakan pendekatan investasi bertahap,” tuturnya.

Dengan base case scenario, IHSG akan bergerak di rentang 6.800–7.350. Untuk bullish scenario, IHSG diperkirakan bergerak di 7.400–7.800. Sementara, bearish scenario IHSG ada di 5.700–5.900 pada akhir 2026.

Hendra bilang, IHSG masih prospektif hingga akhir 2026, meskipun volatilitasnya masih tinggi. 

Meskipun begitu, kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Dalam kondisi tertentu, langkah tersebut justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi, sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing. 

Masuknya dana asing pada perdagangan akhir pekan lalu dapat menjadi sinyal awal bahwa kepercayaan terhadap pasar domestik mulai membaik, meskipun masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren pemulihan telah sepenuhnya terbentuk. 

“Yang lebih penting adalah apakah arus dana asing tersebut berlangsung secara konsisten dalam beberapa pekan ke depan,” katanya.

Apabila stabilitas makro tetap terjaga, nilai tukar rupiah bergerak stabil, dan laporan keuangan emiten pada semester II menunjukkan perbaikan, maka IHSG berpeluang bergerak menuju kisaran 6.700–6.900 hingga akhir tahun 2026.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan menguji level psikologis 7.000 apabila aliran dana asing terus berlanjut,” ungkapnya.

Sektor Pilihan

Di tengah kondisi saat ini, investor disarankan untuk tetap melakukan diversifikasi portofolio. Edwin melihat, sektor perbankan, infrastruktur, telekomunikasi, consumer staples, healthcare, serta hilirisasi dan industrial, menarik untuk dilirik investor hingga 2026.

Saham yang bisa dicermati investor adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII dengan target harga masing-masing Rp11.800 – Rp 12.500 per saham, Rp 5.500 – Rp 5.900 per saham, Rp 6.600 – Rp 7.000 per saham, Rp 3.300 – Rp 3.600 per saham, dan Rp 5.800 – Rp 6.300 per saham.

Baca Juga: Terancam Turun Kelas oleh MSCI, Pasar Keuangan Dibayangi Risiko Outflow

Lalu, ICBP, INDF, ANTM, dan MDKA dengan target harga masing-masing Rp 13.500 – Rp 14.500 per saham, Rp 9.000 – Rp 9.800 per saham, Rp 2.700 – Rp 3.000 per saham, dan Rp 2.800 – Rp 3.200 per saham.

Hendra melihat, masuknya dana asing tak membuat para investor harus buru-buru membeli seluruh saham. Strategi yang lebih bijak adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi yang masih menarik, sembari tetap memperhatikan perkembangan sentimen global yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi arah arus modal.

Dari sisi valuasi, kondisi pasar saham Indonesia saat ini masih tergolong menarik. Dengan PER HSG yang berada di bawah 9 kali, valuasi pasar dinilai relatif murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah bursa regional. 

Kondisi ini membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap. Namun demikian, pilihan investasi tidak harus terbatas pada saham. 

“Obligasi pemerintah juga tetap menarik karena tingkat imbal hasil yang meningkat seiring kebijakan suku bunga. Sehingga, strategi diversifikasi antara saham dan obligasi menjadi pilihan yang lebih bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian global,” tuturnya.

Di pasar saham, sektor perbankan, telekomunikasi, dan komoditas dinilai masih menarik untuk dicermati para investor.

Hendra merekomendasikan trading buy untuk BMRI dengan target harga Rp 4.710 per saham. Rekomendasi buy on weakness disematkan untuk BBCA, BBRI, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 6.850 per saham, Rp 3.130 per saham, dan Rp 3.030 per saham.

Baca Juga: Pasar Keuangan Domestik Tertekan, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dilakukan Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×