Reporter: Melysa Anggreni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja produk reksadana menunjukkan variasi yang signifikan sejak awal tahun 2025. Tren ini diproyeksikan akan berlanjut hingga kuartal II 2025 ini.
Berdasarkan data Infovesta Utama per 27 Maret 2025, reksadana pendapatan tetap mencatatkan return sebesar 1,29% secara year-to-date (ytd), menjadikannya yang tertinggi di antara jenis reksadana lainnya. Indeks reksadana pasar uang menyusul dengan return sebesar 1,19% ytd.
Sementara itu, reksadana campuran dan reksadana saham mengalami penurunan kinerja, masing-masing dengan return minus 4,03% ytd dan minus 9,03% ytd.
Baca Juga: Prospek Reksadana Pendapatan Tetap Masih Menarik, Begini Strategi MI Kerek Return
Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menjelaskan bahwa pertumbuhan dana kelolaan yang berbasis obligasi masih menjadi penopang utama, dengan kontribusi sebesar Rp 148,76 triliun dari total dana kelolaan reksadana pada Februari 2025.
Sebagai informasi, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat total dana kelolaan industri reksadana pada Februari 2025 sebesar Rp 780,41 triliun, mengalami penurunan sebesar 2,07% dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun demikian, kontribusi reksadana pendapatan tetap mengalami peningkatan sebesar 0,69% dari bulan sebelumnya.
"Oleh karena itu, saya optimis pada kuartal II ini, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang masih akan menjadi pilihan utama, terutama mengingat volatilitas pasar yang belum dapat dipastikan kapan akan mereda," ujar Wawan dalam keterangannya kepada Kontan.co.id, Kamis (27/3).
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Head of Business Development Division Henan Putihrai AM, Reza Fahmi Riawan. Menurutnya, investor cenderung memilih produk investasi yang lebih stabil dengan potensi imbal hasil yang lebih konsisten.
Baca Juga: Yield SUN Acuan 10 Tahun Kembali Naik, Begini Prospek Reksadana Pendapatan Tetap
Reza mengungkapkan bahwa reksadana HPAM Pendapatan Tetap mencatat return sebesar 7,11% dalam setahun, dengan portofolio utama berupa obligasi korporasi. Sementara itu, produk reksadana pasar uang HPAM Ultima Money Market mencatatkan return positif sebesar 5,21% dalam setahun.
"Namun, jika terjadi perbaikan dalam sentimen pasar global maupun domestik, tidak menutup kemungkinan reksadana saham akan mengalami pemulihan pada kuartal II," ujar Reza kepada Kontan.co.id, Kamis (27/3).
CEO STAR Asset Management, Hanif Mantiq, menambahkan bahwa investor perlu bersikap adaptif terhadap perubahan pasar akibat ketidakpastian global yang diperkirakan akan berlangsung hingga akhir tahun.
Hanif juga menjelaskan bahwa beberapa faktor, seperti penurunan suku bunga yang mulai terjadi dalam waktu dekat, eskalasi terbaru perang dagang akibat penerapan tarif, serta arah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, akan mempengaruhi kinerja reksa dana ke depannya.
"Pada akhirnya, keputusan investasi kembali kepada toleransi risiko masing-masing investor. Bagi investor konservatif, reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan utama. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dapat menjadi alternatif investasi bagi investor dengan profil risiko moderat," jelas Hanif kepada Kontan.co.id, Kamis (27/3).
Baca Juga: Ketidakpastian Pemangkasan Bunga The Fed Berpengaruh ke Prospek Reksadana Offshore
Sementara itu, investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat mempertimbangkan investasi pada reksadana campuran dan reksadana saham. "Namun, perlu dipertimbangkan aspek investasi jangka panjang serta diversifikasi portofolio," tutup Hanif.
Selanjutnya: Rupiah Cetak Rekor Buruk di Awal Kuartal II, Begini Proyeksi Kedepannya
Menarik Dibaca: 9 Rekomendasi Buah Penurun Gula Darah yang Tinggi dan Terbukti Efektif
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News