kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.872   -4,00   -0,02%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Strategi Menata Portofolio Investasi di Era Suku Bunga Tinggi


Rabu, 23 September 2026 / 05:10 WIB
Strategi Menata Portofolio Investasi di Era Suku Bunga Tinggi
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di BRI Danareksa Sekuritas, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investor perlu menata ulang portofolio di tengah tekanan pasar akibat suku bunga tinggi, kenaikan yield US Treasury dan ketidakpastian ekonomi global. 

The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%–4% dalam FOMC September 2026.

Tekanan turut terasa di pasar domestik. IHSG pada Selasa (22/9/2026) anjlok 1,69% ke 6.277,04, sehingga turun 3,94% dalam sepekan dan 3,81% dalam sebulan.

Di pasar obligasi AS, yield US Treasury 10 tahun sempat mendekati 5% dan berada di 4,93% pada Selasa (22/9) pukul 17.27 WIB.

Kondisi tersebut membuat investor perlu mengutamakan likuiditas dan pengelolaan risiko sebelum mengejar imbal hasil.

Baca Juga: Summarecon (SMRA) Pertimbangkan Refinancing Obligasi di Era Suku Bunga Tinggi

Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, deposito dan reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas, dengan emas sebagai diversifikasi.

Untuk saham, peluang masih terbuka secara selektif di sektor energi, kesehatan dan komoditas. “Untuk saat ini, fokus bisa bertahan sudah sangat baik,” ujarnya. 

Founder Finansialku Melvin Mumpuni menilai instrumen pendapatan tetap dan aset berisiko rendah menarik di tengah bunga tinggi.

Pasar uang dan SBN ritel jangka pendek berpotensi memberikan imbal hasil 5,5%–6,8% per tahun, sedangkan obligasi korporasi berkualitas sekitar 6,5%–7,2% dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, potensi imbal hasil pasar uang dan SBN sekitar 5%–6% per tahun, sementara obligasi korporasi berkualitas sekitar 7,5%–10%, termasuk peluang capital gain saat siklus penurunan suku bunga dimulai.

Baca Juga: Menilik Prospek Kinerja Emiten di Era Suku Bunga Tinggi

Untuk saham, Melvin menyarankan pendekatan selektif pada saham defensif dan pembagi dividen, seperti bank berkapitalisasi besar, consumer staples dan telekomunikasi.

Emas juga tetap dapat digunakan sebagai diversifikasi dan lindung nilai terhadap volatilitas rupiah serta risiko geopolitik.

Komposisi portofolio

Melvin menyarankan investor membagi portofolio berdasarkan profil risiko. Investor konservatif dapat menempatkan 30% pada aset likuid, 50% aset penghasil cash flow dan 20% aset untuk capital gain. 

Investor moderat dapat menggunakan komposisi 30% likuiditas, 35% cash flow dan 35% capital gain. Sementara investor agresif dapat menempatkan 30% likuiditas, 20% cash flow dan 50% capital gain. 

Baca Juga: Kinerja Emiten Properti Masih Tertekan di Era Suku Bunga Tinggi

Aset likuid mencakup reksadana pasar uang, deposito dan emas. Sumber cash flow dapat berasal dari dividen saham, obligasi pemerintah dan korporasi, sedangkan capital gain dapat dikejar melalui saham, reksadana, bitcoin dan DPLK.

Investor juga disarankan mempertahankan kas sekitar 10%–20% sebagai amunisi saat terjadi koreksi.

Menurut Melvin, arah kebijakan The Fed dan BI perlu menjadi perhatian. Perubahan menuju kebijakan lebih dovish dapat menjadi pertimbangan memperpanjang tenor obligasi.

Di saham, investor perlu mencermati leverage emiten karena utang berbunga besar berisiko menekan laba saat bunga tinggi.

Arus dana asing, rupiah dan yield US Treasury juga perlu dipantau. Sementara pada obligasi korporasi, kualitas kredit dan tenor menjadi faktor penting, dengan peringkat minimal A atau AAA dapat dipertimbangkan untuk menekan risiko gagal bayar.

Baca Juga: Strategi Atur Portofolio di Tengah Suku Bunga Tinggi, Investor Perlu Jaga Likuiditas

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, alokasi aset harus disesuaikan dengan tujuan investasi, horizon waktu dan profil risiko.

Investor dengan horizon panjang dan toleransi risiko tinggi dapat mempertimbangkan saham berfundamental baik saat valuasinya menarik. Sebaliknya, investor dengan toleransi risiko rendah dapat memperbesar obligasi dan deposito.

“Semua jenis investasi boleh dimasukkan, emas, saham, obligasi, deposito, valuta asing. Hanya saja yang membuatnya berbeda adalah berapa persen dari masing-masing alokasi tersebut.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×