kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -1.000   -0,04%
  • USD/IDR 17.876   21,00   0,12%
  • IDX 6.277   -107,68   -1,69%
  • KOMPAS100 821   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,68   -1,37%
  • ISSI 216   -5,69   -2,56%
  • IDX30 347   -5,77   -1,63%
  • IDXHIDIV20 433   -6,98   -1,59%
  • IDX80 94   -1,46   -1,53%
  • IDXV30 119   -2,04   -1,69%
  • IDXQ30 112   -1,71   -1,50%

Strategi Atur Portofolio di Tengah Suku Bunga Tinggi, Investor Perlu Jaga Likuiditas


Selasa, 22 September 2026 / 17:52 WIB
Strategi Atur Portofolio di Tengah Suku Bunga Tinggi, Investor Perlu Jaga Likuiditas
ILUSTRASI. Ilustrasi Menata Keuangan Awlal Tahun (KONTAN/Muradi)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor perlu menata kembali keranjangan investasi. Pasalnya, investor tengah dihadapkan oleh era suku bunga tinggi, kenaikan yield US Treasury hingga ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi pasar keuangan.

Terbaru, bank sentral Amerika Serikat, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4% dalam FOMC September 2026. Keputusan ini membuat pasar keuangan Indonesia tertekan. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,69% ke level 6.277,04 pada Selasa (22/9). Dalam sepekan terakhir, IHSG sudah turun 3,94%. Sementara dalam sebulan terakhir, indeks komposit ini sudah anjlok 3,81%.

Baca Juga: Kenaikan Suku Bunga Tekan NAB Reksadana Pendapatan Tetap

Di sisi lain, imbal hasil alias yield US Treasury 10 Tahun sempat menyentuh US$ 5%. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (22/9) pukul 17:27 WIB, yield US Treasury 10 Tahun berada di posisi 4,93%. 

Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menilai, dalam kondisi penuh ketidakpastian, kemampuan mempertahankan nilai aset dan likuiditas menjadi perhatian utama investor sebelum mengejar imbal hasil.

“Untuk saat ini, fokus bisa bertahan sudah sangat baik. Kondisi banyak ketidakpastian, ekonomi yang belum membaik, jadi untuk keuntungan mungkin menjadi sasaran kedua atau malah ketiga,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).  

Menurutnya, instrumen yang berkaitan dengan aset tetap dan likuid dapat menjadi pilihan saat ini. Ia menyebut deposito dan reksadana pasar uang, dengan emas sebagai tambahan, dapat dipertimbangkan investor.

Sementara itu, untuk saham, Eko melihat peluang masih terdapat pada sektor tertentu, terutama energi, kesehatan dan komoditas. Adapun properti, obligasi serta reksadana pendapatan tetap perlu terus dipantau perkembangannya.

Di sisi lai, Founder Finansialku Melvin Mumpuni menjelaskan kenaikan suku bunga The Fed telah diantisipasi oleh Bank Indonesia. Menurut dia, BI telah menaikkan suku bunga sejak awal 2026, dengan posisi terakhir 5,75%.

Di tengah suku bunga tinggi dan kenaikan yield US Treasury, Melvin menilai instrumen pendapatan tetap dan aset berisiko rendah menjadi menarik dari sisi imbal hasil riil.

Untuk pasar uang dan SBN ritel jangka pendek, Melvin memperkirakan potensi imbal hasil sekitar 5,5%–6,8% per tahun dalam jangka pendek atau kurang dari satu tahun.

Baca Juga: Fundamental Kokoh, Pasar Cermati Konsistensi Bauran Kebijakan BI di RDG

“Sementara dalam jangka panjang di atas tiga tahun, potensi imbal hasil instrumen tersebut berada sekitar 5%–6% per tahun, mengikuti penyesuaian terhadap perkembangan suku bunga acuan,” ucapnya. 

Untuk obligasi korporasi berkualitas dengan tenor menengah, Melvin memperkirakan potensi imbal hasil jangka pendek sekitar 6,5%–7,2% per tahun, terutama berasal dari pembayaran kupon.

“Untuk jangka panjang, potensi return obligasi korporasi berkualitas sekitar 7,5%–10% per tahun, termasuk potensi capital gain ketika siklus pemangkasan suku bunga dimulai,” kata Melvin.

Melvi bilang saham defensif dan pemberi dividen tinggi tetap dapat dipertimbangkan secara selektif. Menurutnya, bank berkapitalisasi besar, consumer staples dan telekomunikasi sebagai sektor yang cenderung lebih kebal.

Melvin memperkirakan saham defensif dan pemberi dividen tinggi berpotensi memberikan return sekitar 4%–7% dalam jangka pendek, sementara jangka panjang berada pada kisaran 10%–15% per tahun.

Adapun emas tetap memiliki fungsi sebagai lindung nilai meski harganya melandai ketika yield US Treasury meningkat. Menurut Melvin, emas dapat menjadi pelindung terhadap volatilitas rupiah dan risiko geopolitik.

Melvin memperkirakan emas berpotensi memberikan return sekitar 8%–11% per tahun dalam jangka panjang. Namun, besaran tersebut merupakan estimasi dan bukan jaminan imbal hasil investasi.

Dia menyarankan untuk investor konservatif dapat porsi likuiditas sebesar 30%, aset penghasil cash flow 50%, serta aset untuk mengejar capital gain sebesar 20%.

Untuk investor moderat, komposisinya dapat berupa 30% likuiditas, 35% aset penghasil cash flow, dan 35% aset yang berorientasi pada capital gain.

“Sedangkan investor agresif dapat mempertimbangkan 30% aset likuid, 20% aset penghasil cash flow, serta 50% aset untuk mengejar capital gain,” ucap Melvin. 

Baca Juga: Rupiah Tertekan Repricing Global, Pasar Uji Kredibilitas Respon BI di RDG

Melvin bilang aset likuid dapat berupa reksadana pasar uang, deposito dan emas. Sementara cash flow dapat berasal dari dividen saham, obligasi pemerintah, obligasi korporasi, maupun fintech lending.

Untuk porsi capital gain, Melvin menyebut saham, reksadana, bitcoin dan DPLK sebagai sejumlah instrumen yang dapat dipertimbangkan. Namun, alokasi tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing investor.

Melvin menyarankan investor memperhatikan sejumlah sentimen, termasuk arah kebijakan The Fed dan BI. Sinyal penghentian kenaikan atau perubahan kebijakan menuju lebih dovish dapat menjadi pertimbangan memperpanjang tenor obligasi.

Selain itu, kesehatan neraca emiten juga perlu dicermati, terutama leverage dan rasio utang. Di tengah bunga tinggi, emiten dengan utang berbunga besar berpotensi menghadapi tekanan beban bunga terhadap laba.

“Investor juga perlu memperhatikan arus dana asing di BEI serta pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan yield US Treasury dapat mendukung penguatan dolar AS dan memengaruhi pergerakan pasar saham domestik,” kata Melvin. 

Untuk obligasi korporasi, Melvin menyarankan investor memperhatikan kualitas kredit dan tenor. Dia menyebut pemeringkat minimal A atau AAA dapat dipertimbangkan untuk mengurangi risiko gagal bayar.

Selain itu, investor disarankan tidak menghabiskan seluruh likuiditas sekaligus. Melvin menyebut porsi kas 10%–20% dapat dipertahankan agar investor memiliki amunisi ketika terjadi koreksi harga di pasar.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menimpali alokasi aset harus mempertimbangkan tiga aspek utama, yakni tujuan investasi, jangka waktu investasi dan profil risiko investor. Ketiganya menentukan besaran dana yang ditempatkan pada setiap instrumen.

Nico bilang investor dengan horizon panjang dan toleransi risiko tinggi, misalnya, dapat mempertimbangkan akumulasi saham berfundamental baik ketika valuasinya dinilai menarik. Sebaliknya, investor dengan toleransi risiko rendah dapat memperbesar obligasi dan deposito.

Baca Juga: Elektrifikasi Armada Jadi Strategi, Simak Prospek Saham BIRD dan WEHA

Dalam menyusun ulang portofolio, Nico juga mengingatkan investor untuk membedakan kondisi antara investor yang sudah memiliki investasi dan investor yang baru mulai berinvestasi.

“Semua jenis investasi boleh dimasukkan, emas, saham, obligasi, deposito, valuta asing. Hanya saja yang membuatnya berbeda adalah berapa persen dari masing-masing alokasi tersebut,” kata Nico.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×