CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

SIDO Bidik Pemulihan Kinerja pada Semester II Usai Penjualan Turun 19,8%


Rabu, 09 September 2026 / 16:01 WIB
SIDO Bidik Pemulihan Kinerja pada Semester II Usai Penjualan Turun 19,8%
ILUSTRASI. Fasilitas produksi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (DOK/SIDO)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masih menghadapi tekanan kinerja pada 2026 akibat normalisasi persediaan di tingkat distributor. Meski begitu, proses normalisasi tersebut telah rampung pada Mei 2026 dan manajemen mulai fokus mendorong pemulihan kinerja pada paruh kedua tahun ini.

Corporate Secretary SIDO Budiyanto mengatakan, penjualan pada Semester I-2026 turun sekitar 20% secara tahunan. Penurunan terutama berasal dari segmen herbal akibat pengurangan persediaan produk Tolak Angin di tingkat distributor. Secara laporan keuangan, penjualan SIDO tercatat sekitar Rp1,47 triliun atau turun 19,8% secara tahunan.

"Karena adanya beberapa distributor yang mengalami kelebihan persediaan, kami mengambil keputusan untuk mengurangi tingkat persediaan di distributor tersebut hingga mencapai tingkat normal yang sehat. Karena itu revenue yang tercatat atau penjualan yang tercatat ke distributor mengalami penurunan," jelas Budiyanto dalam public expose secara daring, Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: Penjualan Mobil Cetak Rekor, Emiten Otomotif Bakal Makin Ngegas?

Budiyanto menjelaskan, penjualan ke distributor atau sell-in tidak sepenuhnya mencerminkan permintaan konsumen akhir. Sebab, terdapat penjualan dari distributor kepada konsumen atau sell-out yang tidak tercatat sebagai pendapatan SIDO.

"Untuk posisi sell-out saat ini stabil dan tidak ada penurunan, sehingga demand dari end consumer tetap stabil," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut tercermin dari posisi pangsa pasar Tolak Angin yang masih mencapai sekitar 71%. Dengan demikian, manajemen melihat tekanan penjualan pada paruh pertama lebih mencerminkan proses normalisasi stok di saluran distribusi ketimbang penurunan permintaan konsumen.

Secara segmen, penjualan herbal dan suplemen turun sekitar 41% pada Semester I-2026 menjadi sekitar Rp639 miliar. Sebaliknya, makanan dan minuman masih tumbuh sekitar 11% menjadi sekitar Rp760 miliar, sedangkan segmen farmasi naik sekitar 7% menjadi Rp67,4 miliar.

Budiyanto mengatakan, pertumbuhan segmen makanan dan minuman terutama ditopang oleh produk C+Collagen, Alang Sari, serta stabilnya kinerja Kuku Bima Energi.

"Segmen makanan dan minuman bertumbuh 11%, terutama karena pertumbuhan pesat dari C Plus Collagen dan juga varian baru minuman Alang Sari serta stabilnya kinerja penjualan Kuku Bima Energi," kata dia.

Sementara itu, pertumbuhan segmen farmasi didorong oleh penjualan obat bebas atau over the counter (OTC) dan peningkatan penjualan obat resep atau ethical kepada konsumen akhir.

Normalisasi persediaan juga berdampak terhadap profitabilitas SIDO. Margin laba bruto perseroan termoderasi menjadi sekitar 51% karena volume penjualan herbal yang turun, sementara kontribusi makanan dan minuman yang memiliki margin lebih rendah meningkat.

"Gross margin kami termoderasi menjadi 51%, sekali lagi akibat penurunan skala volume herbal dan kenaikan segmen makanan dan minuman, di mana segmen makanan dan minuman memiliki gross margin yang lebih rendah daripada segmen herbal," jelas Budiyanto.

Margin bruto segmen herbal berada di sekitar 60%. Tekanan tersebut sebagian diimbangi oleh penurunan biaya minyak nilam, jahe dan kemasan karton.

Adapun margin bruto makanan dan minuman bertahan sekitar 43%, meski perseroan menghadapi kenaikan sejumlah bahan baku seperti gula, taurin, perisa, asam sitrat dan krimer. Sementara margin bruto farmasi meningkat menjadi sekitar 37% berkat pertumbuhan penjualan dan efisiensi bahan baku.

Tekanan pendapatan kemudian berimbas ke laba usaha yang turun sekitar 43% secara tahunan, dengan margin laba usaha berada di kisaran 29%.

Beban iklan dan promosi juga meningkat 12% seiring pergeseran alokasi ke program ritel modern serta pengembangan pasar ekspor di Malaysia dan Filipina.

"Investasi ini memperkuat kapabilitas eksekusi kami seiring normalisasi persediaan yang sudah selesai pada bulan Mei," ujar Budiyanto.

Laba bersih SIDO pun turun sekitar 44% menjadi Rp333,65 miliar pada Semester I-2026 dari sekitar Rp600,46 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan terhadap laba tersebut sebagian tertahan oleh keuntungan selisih kurs dan penurunan beban pajak.

Di tengah tekanan kinerja, posisi kas perseroan tetap solid sekitar Rp476 miliar pada akhir Semester I-2026.

Baca Juga: Sarjito Resmi Jabat Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral & Komoditas Strategis OJK

Pemulihan kinerja pada semeter II-2026

Memasuki paruh kedua 2026, SIDO menargetkan kinerja kuartal III dan kuartal IV setidaknya dapat menyamai pencapaian pada periode yang sama tahun lalu.

Budiyanto mengatakan, strategi tersebut akan ditopang oleh perubahan pola distribusi yang kembali berbasis permintaan konsumen akhir. Dengan normalisasi persediaan distributor yang telah selesai, permintaan konsumen diharapkan kembali menarik stok distributor dan pada akhirnya meningkatkan penjualan dari pabrik.

"Permintaan end consumer akan menarik stok di distributor dan akan menarik penjualan dari prinsipal atau pabrik ke distributor," jelasnya.

SIDO juga akan meluncurkan berbagai produk baru yang menyasar konsumen muda di kuartal III-2026.

Selain inovasi produk, perseroan memperkuat ekosistem digital dan kanal perdagangan elektronik untuk memperluas jangkauan pasar domestik.

Di pasar internasional, SIDO akan memperkuat jaringan distribusi di Malaysia dan Filipina serta menawarkan produk yang disesuaikan dengan karakteristik pasar ekspor.

Perseroan juga menargetkan perluasan penetrasi secara strategis di kawasan Afrika dan ASEAN.

"Kami akan memperkuat jaringan distribusi dan juga menawarkan produk yang disesuaikan atau customized dengan pasar ekspor," kata Budiyanto.

Selain itu, SIDO melihat peluang pengembangan bisnis B2B untuk menembus pasar global premium.

Dari sisi efisiensi, perseroan akan meningkatkan efisiensi manufaktur dan mengoptimalkan return on investment atas belanja pemasaran. Digitalisasi juga akan diterapkan pada rantai pasok dan distribusi untuk menyediakan visibilitas data secara real time dan meningkatkan produktivitas.

Dengan memperhitungkan dampak normalisasi stok selama empat bulan pertama tahun ini, manajemen memperkirakan penjualan SIDO sepanjang 2026 turun sekitar 10%.

"Untuk tahun 2026 kami memperkirakan adanya penurunan penjualan kurang lebih sebesar 10% diakibatkan adanya normalisasi persediaan di level distributor yang kami lakukan selama empat bulan, dari bulan Februari hingga bulan Mei," ujar Budiyanto.

Meski target penjualan direvisi turun, manajemen tetap menargetkan pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini setidaknya menyamai kinerja kuartal III dan IV tahun lalu. Dengan selesainya proses destocking pada Mei, SIDO berharap pemulihan penjualan berjalan seiring dengan normalisasi stok distributor dan penguatan permintaan konsumen akhir.

Untuk mendukung operasional, SIDO menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp120 miliar-Rp150 miliar pada 2026.

Belanja modal tersebut terutama difokuskan untuk pemeliharaan aset produksi serta peningkatan sejumlah peralatan guna memperkuat efisiensi dan inovasi. Hingga Semester I-2026, realisasi capex baru sekitar Rp24 miliar.

Baca Juga: OJK Segera Terbitkan Aturan BMKS, Jenis Komoditas Masih Digodok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×