kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Harga Ayam Turun, Indo Premier Yakin Kinerja Japfa (JPFA) Pulih di Semester II


Minggu, 23 Agustus 2026 / 08:00 WIB
Harga Ayam Turun, Indo Premier Yakin Kinerja Japfa (JPFA) Pulih di Semester II
ILUSTRASI. Pakan Japfa Comfeed (Dok/Japfa Comfeed)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga ayam broiler dan day-old chick (DOC) yang melemah pada kuartal II-2026 menekan kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Meski begitu, Indo Premier Sekuritas melihat tekanan tersebut hanya bersifat sementara dan mempertahankan rekomendasi buy untuk saham JPFA dengan target harga Rp 3.400 per saham.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dalam riset 20 Agustus 2026 menilai prospek JPFA masih menarik karena kinerja perseroan diperkirakan kembali pulih pada semester II-2026. Pemulihan terutama diharapkan datang dari harga DOC dan broiler yang lebih kuat serta kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Optimisme tersebut muncul meski kinerja kuartal II-2026 belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi. JPFA membukukan laba bersih Rp 659 miliar pada kuartal II-2026, tumbuh 18,6% secara tahunan. Namun, angka tersebut baru memenuhi 16% proyeksi Indo Premier dan 15% konsensus, lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebesar 21%.

Baca Juga: Estika Tata (BEEF) Baru Realisasi 15,77% Target Buyback Saham, Harga Telah Naik 203%

Tekanan pada kuartal II terutama berasal dari segmen DOC dan broiler. Harga DOC turun 24,6% secara kuartalan, sementara harga broiler merosot 16,2%.

Pada segmen broiler, tekanan harga bahkan membuat margin EBIT JPFA berbalik negatif menjadi -6,5% pada kuartal II-2026, dibandingkan positif 10,1% pada kuartal sebelumnya. Indo Premier memperkirakan titik impas (break-even point/BEP) broiler JPFA berada di sekitar Rp 19.100 per kilogram, sedangkan harga broiler rata-rata pada kuartal II hanya sekitar Rp 18.900 per kilogram.

Segmen DOC juga mengalami tekanan. Margin EBIT turun menjadi 21,4%, merosot 779 basis poin secara kuartalan akibat penurunan harga DOC.

Sementara itu, margin segmen pakan ternak turun tipis menjadi 9,5%, atau berkurang 15 basis poin secara kuartalan. JPFA dinilai belum sepenuhnya dapat meneruskan kenaikan biaya input kepada konsumen. Salah satu tekanan datang dari harga soybean meal (SBM) yang naik 9% secara kuartalan.

Terlepas dari tekanan pada kuartal II, kinerja JPFA secara keseluruhan pada semester I-2026 masih berada di atas ekspektasi.

JPFA mencatatkan laba bersih Rp 2,5 triliun pada semester I-2026, melonjak 100% YoY. Realisasi tersebut telah mencapai 59% dari estimasi Indo Premier dan 56% dari konsensus, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun sebesar 49%.

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh kuatnya perolehan laba pada kuartal I-2026.

Baca Juga: Volume Transaksi BEI Melonjak 47,9%, IHSG Menguat 1,93% dalam Sepekan

Dari sisi pendapatan, JPFA membukukan penjualan Rp 35,4 triliun pada semester I-2026, tumbuh 28,7% YoY. Realisasi ini setara dengan 53% proyeksi Indo Premier, di atas rata-rata tiga tahun sebesar 48%.

Profitabilitas perusahaan ini juga membaik. Gross profit margin (GPM) meningkat menjadi 14%, naik 153 basis poin YoY. Rasio beban operasional terhadap penjualan membaik menjadi 7,1%, turun 31 basis poin. Alhasil, margin EBIT meningkat menjadi 6,9%, naik 183 basis poin secara tahunan.

Di tengah tekanan pada bisnis DOC dan broiler, segmen makanan olahan justru mencatatkan perbaikan. Margin EBIT segmen tersebut naik menjadi 6,1%, meningkat 140 basis poin secara kuartalan. Perbaikan didorong oleh biaya input yang lebih rendah, termasuk penurunan harga broiler sebesar 16,2% secara kuartalan.

Andrianto menilai tekanan kinerja pada kuartal II-2026 sebagian telah tercermin dalam pergerakan saham JPFA. Dalam tiga bulan terakhir, saham JPFA telah terkoreksi sekitar 15%.

Karena itu, Indo Premier memperkirakan ruang pemulihan kinerja pada semester II dapat menjadi katalis bagi saham JPFA. Selain harga DOC dan broiler yang diharapkan membaik, dimulainya kembali program MBG dinilai dapat memberikan dukungan tambahan terhadap permintaan.

Dengan pertimbangan tersebut, Indo Premier mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga Rp 3.400 per saham. Target tersebut didasarkan pada valuasi 9,5 kali PE tahun 2026, setara dengan rata-rata PE lima tahun JPFA.

Harga saham JPFA ditutup di level Rp 2.210 per saham, turun 1,78% dari hari sebelumnya pada Jumat (21/8/2026).

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Indo Premier melihat potensi kenaikan biaya input akibat El Niño, pelemahan harga DOC dan broiler, serta perubahan nilai tukar USD/IDR sebagai faktor yang dapat menekan kinerja JPFA dan menjadi risiko terhadap target harga tersebut.

Baca Juga: SR025 Mulai Ditawarkan, Mampukah Menandingi ORI030?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×