CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.529   -129,00   -0,73%
  • IDX 6.678   -8,24   -0,12%
  • KOMPAS100 877   0,02   0,00%
  • LQ45 664   -1,33   -0,20%
  • ISSI 234   0,36   0,15%
  • IDX30 369   -2,14   -0,58%
  • IDXHIDIV20 457   -1,61   -0,35%
  • IDX80 100   -0,15   -0,15%
  • IDXV30 127   -0,14   -0,11%
  • IDXQ30 118   -0,39   -0,33%

Penjualan Mobil Cetak Rekor, Emiten Otomotif Bakal Makin Ngegas?


Rabu, 09 September 2026 / 15:51 WIB
Penjualan Mobil Cetak Rekor, Emiten Otomotif Bakal Makin Ngegas?
ILUSTRASI. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) (KONTAN/Leni Wandira)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

RKONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri otomotif Tanah Air mencatatkan performa positif memasuki pertengahan semester kedua 2026. Berdasarkan data yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume distribusi mobil dari pabrikan ke diler (wholesales) pada Agustus 2026 mencapai 81.756 unit. 

Ini menjadi angka tertinggi yang pernah dicatat sepanjang tahun berjalan. Capaian ini melampaui rekor sebelumnya yang terjadi pada Februari 2026, saat wholesales sempat menyentuh 81.247 unit. 

Tren positif juga terlihat dari sisi penjualan ritel, yakni transaksi dari diler langsung ke konsumen. Pada periode yang sama, angka retail sales tercatat sebesar 83.422 unit. Yang menarik, ini menjadi kali pertama pada tahun 2026 penjualan ritel berhasil menembus ambang 80.000 unit, menandakan permintaan riil di tingkat konsumen turut menguat. 

Baca Juga: Unit Bisnis Sinar Mas (DSSA) Punya Mesin Pertumbuhan Baru, Data Center Capai 1 GW

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan prospek emiten otomotif dan komponen masih cukup positif seiring penjualan mobil nasional yang kembali menguat. Performa wholesales Agustus mencapai 81.756 unit atau naik 32,4% YoY, sementara retail sales tumbuh 25,5% YoY menjadi 83.422 unit. Ini menunjukkan perbaikan bukan hanya dari distribusi diler, tetapi juga permintaan konsumen. 

Jika tren ini berlanjut, emiten otomotif berpeluang mencatat perbaikan volume penjualan dan utilisasi produksi, sehingga mendukung margin. 

"Dari sisi saham, sentimen ini positif, tetapi pergerakannya tetap akan dipengaruhi valuasi, earnings growth, dan sentimen pasar secara keseluruhan," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Secara terpisah, Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menerangkan kenaikan penjualan mobil belum tentu otomatis membuat seluruh saham otomotif ikut naik, karena pasar tetap akan melihat kualitas pertumbuhan masing-masing emiten, mulai dari margin, pangsa pasar, pembiayaan hingga valuasinya.

Disisi lain, Thoriq mencermati kinerja retail sales yang pertama kalinya tahun ini menembus 80 ribu unit. Menurutnya, perbaikan penjualan tidak hanya terjadi di sisi distribusi dari pabrikan ke dealer, tetapi mulai terlihat dari permintaan konsumen.

Dari sisi emiten, ASII menjadi salah satu contoh bahwa pemulihan pasar otomotif mulai tercermin dalam kinerja perusahaan. Pada semester I-2026, laba bersih bisnis otomotif Astra tumbuh 9% menjadi Rp5,9 triliun, sementara kontribusi bisnis komponen naik 23% menjadi Rp921 miliar. Pada periode yang sama, penjualan mobil nasional tumbuh 16% menjadi 437 ribu unit, penjualan grup Astra naik 10%, dan pangsa pasar Toyota-Daihatsu serta merek Astra lainnya masih berada di sekitar 51%.

"Meski demikian, saya tidak melihat kondisi ini sebagai alasan untuk membeli semua saham otomotif," ujar Thoriq. 

Kenaikan volume penjualan memang positif, tetapi yang lebih penting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut bisa masuk ke laba. Dus, pasar kemungkinan akan lebih menghargai emiten yang mampu menjaga margin, mempertahankan pangsa pasar, memiliki neraca yang sehat, dan menunjukkan pertumbuhan laba yang konsisten.

Dari sisi makro, suku bunga juga masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini berada di 5,75%, sehingga biaya pembiayaan kendaraan masih menjadi tantangan bagi konsumen, meskipun kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas dan mendorong 

Saham Pilihan

Untuk pilihan, Elandry melihat ASII, AUTO, dan DRMA cukup menarik. ASII relatif lebih defensif karena memiliki ekosistem otomotif yang lengkap serta bisnis yang terdiversifikasi, sehingga tidak semata bergantung pada penjualan kendaraan. 

AUTO lebih direct beneficiary karena kenaikan produksi kendaraan akan meningkatkan kebutuhan komponen, sementara DRMA menarik dari sisi growth karena ekspansi dan pertumbuhan kinerja masih cukup kuat. Adapun SMSM juga dapat dicermati karena memiliki exposure aftermarket dan ekspor, sehingga sumber pendapatannya lebih terdiversifikasi.

Sementara itu, Thoriq melihat prospek emiten sektor otomotif dan komponen semakin konstruktif, meski potensi kenaikan harga saham tetap akan selektif karena bergantung pada kemampuan masing-masing emiten mengonversi pertumbuhan volume menjadi laba. 

ASII menjadi pilihan utama karena memiliki skala, pangsa pasar, dan integrasi bisnis yang kuat. Untuk segmen komponen otomotif, AUTO menjadi pilihan favorit karena pertumbuhan labanya lebih tinggi. Model bisnis aftermarket juga membuat AUTO tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan mobil baru, dengan jaringan 49 main dealer, 27 sales office, lebih dari 15.000 toko spare parts, dan 667 outlet retail, serta mulai membangun eksposur ke komponen xEV dan charging equipment. 

Sementara itu, DRMA lebih menarik bagi investor agresif karena mencatat pertumbuhan pendapatan 13,8% menjadi Rp 3,16 triliun dan laba bersih 17,8% menjadi sekitar Rp 283 miliar pada semester I-2026. Penjualan roda empat bahkan tumbuh 36%, dengan debt/equity sekitar 0,13x, sementara ekspansi EV terus dilakukan melalui fast charging roda dua dengan TKDN 50%. 

GJTL juga memiliki fundamental kuat, dengan penjualan semester I-2026 naik menjadi Rp9,0 triliun dari Rp8,52 triliun dan laba bersih melonjak 76,8% menjadi Rp 796 miliar, tetapi harga saham sekitar Rp1.380 per 9 September telah naik 31,6% YTD, tentu ada kekhawatiran adanya aksi taking profit.

Saran untuk Investor dan Rekomendasi Saham Pilihan

Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.511 Per Dolar AS Hari Ini (9/9), Paling Kuat di Asia

Elandry menyarankan agar Investor sebaiknya tetap selektif dan tidak hanya mengejar kenaikan penjualan bulanan. Sentimen yang perlu diperhatikan ialah keberlanjutan permintaan setelah efek GIIAS, daya beli konsumen, biaya bahan baku, persaingan harga, serta perkembangan kendaraan listrik yang dapat mengubah struktur industri komponen. 

Untuk investor konservatif Elandry lebih menyukai ASII, sedangkan AUTO dan DRMA lebih menarik bagi investor yang mencari higher growth dengan risk appetite yang lebih besar. 

"Momentum sektor masih positif, tetapi strategi buy on weakness lebih ideal dibanding mengejar harga ketika sudah naik terlalu cepat," jelas Elandry.

Thoriq juga mengingatkan agar investor tetap perlu selektif dan tidak sekadar membeli saham otomotif karena penjualan nasional mencetak rekor. Kenaikan volume memang menjadi katalis positif, tetapi yang lebih penting adalah melihat emiten yang mampu menerjemahkan pertumbuhan penjualan tersebut menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Thoriq menyarankan buy saham ASII di level Rp 4.850, target harga Rp 5.125-Rp 5.300 dan stop loss Rp 4.720 per saham. Sementara AUTO direkomendasikan buy pada harga Rp3.340-Rp 3.360, target harga Rp 3.520, dan stop loss Rp 3.260 per saham.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Telah Serap Capex Rp 4,4 Triliun Hingga Semester I 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×