kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Sentimen Geopolitik hingga Kebijakan Moneter Jadi Penentu, Ini Prospek Rupiah 2026


Rabu, 08 April 2026 / 20:38 WIB
Sentimen Geopolitik hingga Kebijakan Moneter Jadi Penentu, Ini Prospek Rupiah 2026
ILUSTRASI. Nilai Tukar Terlemah Sepanjang Sejarah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kombinasi faktor global dan domestik diperkirakan membentuk arah pergerakan nilai tukar rupiah. Sentimen geopolitik hingga kebijakan moneter diproyeksi menjadi sejumlah faktor yang menjadi penentu pergerakan rupiah pada tahun 2026. 

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot pada 31 Desember 2025 berada di level Rp 16.680 per dolar AS. Kemudian, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.012 per dolar AS pada perdagangan Rabu (8/4/2026). 

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan mengatakan, pelemahan rupiah hingga di atas Rp 17.000 per dolar AS tidak berdiri sendiri. Akan tetapi kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Dari eksternal, sebelumnya pasar sempat menghadapi eskalasi geopolitik yang mendorong harga energi naik dan memperkuat dolar, apalagi dengan peran dolar Amerika Serikat (AS) (USD) sebagai petrodollar. 

“Dengan adanya gencatan senjata sementara Iran-AS, tekanan memang sedikit mereda. Tapi karena sifatnya masih sementara, rupiah kemungkinan tetap bergerak fluktuatif,” kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Level Terburuk, Ekonom Soroti Lonjakan Risk Premium Indonesia

Dari domestik, salah satu yang perlu dicermati adalah penurunan cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa per Maret 2026 turun menjadi sekitar US$ 148,2 miliar yang merupakanlevel terendah dalam 9 bulan terakhir. Penurunan ini berkaitan dengan pembayaran utang luar negeri dan upaya stabilisasi rupiah. 

“Artinya, ruang intervensi tetap ada meski mengecil, tapi tekanan terhadap rupiah memang sedang cukup besar,” ucap Brahmantya. 

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede Josua juga melihat pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.000 per dolar AS lahir dari gabungan faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, perang di Timur Tengah mendorong penghindaran risiko global, menaikkan harga minyak, memperkuat dolar AS, dan membuat pasar keuangan dunia lebih gelisah.

Berdasarkan riset ekonomi Permata Bank juga menekankan bahwa ketidakpastian arah suku bunga global, perang dagang, dan perlambatan ekonomi Tiongkok ikut menambah tekanan pada arus modal dan nilai tukar negara berkembang. 

Adapun dari sisi domestik, pasar juga masih menimbang menyempitnya surplus perdagangan, proyeksi defisit transaksi berjalan, turunnya cadangan devisa menjadi US$ 148,2 miliar dolar AS per Maret 2026, serta sentimen terhadap kebijakan domestik dan fiskal. Tekanan itu diperberat oleh revisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch, yang membuat premi risiko Indonesia tetap tinggi. 

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Ekonom: Intervensi BI Hanya Pereda Sesaat

“Karena itu, rupiah melemah bukan hanya karena perang, tetapi karena perang datang ketika fondasi eksternal dan persepsi risiko domestik memang sedang sensitif,” ucap Josua.  

Josua menjelaskan ada beberapa sentimen yang perlu diawasi sampai akhir tahun untuk mencermati pergerakan rupiah. Pertama tentu keberlangsungan gencatan senjata dan normalisasi jalur energi di Selat Hormuz, karena ini akan langsung menentukan arah harga minyak. Kedua adalah arah inflasi dan suku bunga Amerika Serikat, sebab sampai sekarang pejabat Bank Sentral Amerika Serikat masih menilai perang dan harga energi menambah ketidakpastian inflasi. 

Ketiga adalah pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, karena dua variabel ini sangat menentukan tekanan ke mata uang negara berkembang. Keempat adalah arus modal asing ke pasar obligasi, saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Kelima adalah cadangan devisa, surplus perdagangan, serta defisit transaksi berjalan Indonesia. Serta yang keenam adalah sentimen kebijakan domestik, termasuk kredibilitas fiskal, prospek peringkat utang, dan perkembangan isu pasar modal seperti MSCI. 

“Jadi, meskipun perang mereda sementara, arah rupiah sampai akhir tahun tetap akan sangat ditentukan oleh apakah tekanan eksternal benar-benar mereda dan apakah kepercayaan investor terhadap cerita domestik Indonesia ikut membaik,” terang Josua. 

Brahmantya juga melihat sejumlah faktor yang perlu dicermati. Antara lain, perkembangan geopolitik (apakah gencatan senjata berlanjut atau tidak), harga minyak dan distribusi energi global, kebijakan suku bunga AS karena The Fed diperkirakan akan masih menahan suku bunga hingga Powell selesai menjabat. Serta kondisi cadangan devisa Indonesia. 

Baca Juga: Rupiah Menguat Ditopang Gencatan Senjata AS-Iran, Ini Proyeksi Kamis (9/4)

Selain itu, Brahmantya mengatakan ada risiko tambahan dari faktor domestik yakni potensi kemarau panjang akibat El Nino pada semester II-2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan pada tahun 2026 berpotensi mengalami kemarau cukup kering, terutama di wilayah pesisir Jawa. Jika hal ini berdampak ke produksi pangan atau energi, bisa menambah tekanan inflasi dan mempersempit ruang stabilisasi rupiah.

“Semua faktor ini saling terhubung dan akan menentukan arah rupiah ke depan,” ujar Brahmantya.

Brahmantya melihat rupiah sampai akhir tahun 2026 berpotensi bergerak di kisaran Rp 17.100 – Rp 17.600 per dolar AS. Jika kondisi global membaik dan tekanan energi mereda, rupiah bisa kembali di bawah Rp 17.000 per dolar AS. Tapi jika risiko geopolitik meningkat kembali, rupiah masih berpotensi melemah lebih lanjut. 

“Rupiah saat ini sedang menghadapi tekanan global yang besar dan selama dolar masih perkasa dan energi masih menajdi masalah utama, pergerakannya akan lebih banyak ditentukan dari faktor luar, bukan dari domestik,” terang Brahmantya. 

Sementara Josua melihat prospek rupiah sampai akhir tahun masih membaik secara terbatas, bukan menguat tajam. Dalam jangka sangat pendek, selama gencatan senjata ini bertahan, rupiah punya peluang bergerak kembali ke bawah Rp 17.000 per dolar AS karena harga minyak turun, dolar melemah, dan pasar kembali membuka ruang penurunan suku bunga Amerika Serikat. Namun untuk akhir tahun, Josua belum terlalu optimistis rupiah akan kembali rata ke asumsi APBN di Rp 16.500. 

“Perkiraan saya, dalam skenario dasar, rupiah berpeluang ditutup di kisaran Rp 16.900 sampai Rp 17.000 per dolar AS,” ucap Josua. 

Josua memperkirakan skenario yang lebih baik, yaitu sekitar Rp 16.500 sampai Rp 16.900 per dolar AS, baru mungkin bila gencatan senjata berlanjut, harga minyak turun lebih stabil ke bawah sekitar US$ 95 dolar AS per barel, dan arus masuk ke pasar keuangan Indonesia kembali kuat. Sebaliknya, bila gencatan senjata gagal, harga minyak kembali melonjak di atas US$ 100 dolar AS, dan dolar AS kembali menguat, rupiah berisiko kembali bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Baca Juga: AS – Iran Gencatan Senjata, Apa Dampaknya Terhadap Rupiah?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×