kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%

Rupiah Melemah ke Rp 17.035, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed


Senin, 06 April 2026 / 16:16 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 17.035, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif sepanjang Maret 2026 dengan kecenderungan melemah hingga awal April.

Mengacu data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Senin (6/4), kurs USD/IDR berada di level Rp 17.035 per dolar AS, melemah 0,32%. Sepanjang Maret, rupiah sempat menyentuh level terlemah di Rp 17.041 per dolar AS pada Selasa (31/3).

Analis komoditas dan Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pergerakan rupiah di awal April berada dalam tekanan tinggi akibat kombinasi faktor global.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Sebut Target Merger BUMN Karya & Buka Gembok Saham di Akhir 2026

Menurutnya, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS serta eskalasi geopolitik menjadi sentimen utama yang menahan penguatan rupiah.

“Hingga akhir semester I 2026, rupiah diproyeksikan masih bergerak dalam volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah ke kisaran Rp 16.900 hingga di atas Rp 17.000 per dolar AS,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (6/4/2026).

Ia menambahkan, meski sempat terjadi penguatan teknikal setelah menyentuh titik terlemah di Maret, konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS menjadi penghambat utama pemulihan rupiah.

Kondisi tersebut mendorong aliran modal asing keluar dari pasar keuangan domestik menuju aset safe haven seperti emas dan dolar AS.

Senada, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi tiga faktor utama.

Pertama, eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur pasokan energi global, khususnya di Selat Hormuz.

"Lonjakan harga minyak mentah ke kisaran US$ 110 - US$116 per barel secara logis menekan neraca pembayaran Indonesia melalui kenaikan biaya impor energi," kata Sutopo.

Baca Juga: Sulit Penuhi Ketentuan Free Float, Solusi Tunas (SUPR) Bakal Delisting dari BEI

Terakhir, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang naik ke level 4,35% juga mendorong capital outflow dari pasar obligasi domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×