kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

AS – Iran Gencatan Senjata, Apa Dampaknya Terhadap Rupiah?


Rabu, 08 April 2026 / 18:32 WIB
AS – Iran Gencatan Senjata, Apa Dampaknya Terhadap Rupiah?
ILUSTRASI. Rupiah menguat sesaat usai kabar gencatan senjata, tetapi ini bukan perubahan permanen. Pahami alasan di balik pergerakan tak terduga ini. (TRIBUNNEWS/Jeprima)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Amerika Serikat (AS) – Iran memutuskan untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan. Keputusan tersebut diproyeksikan berdampak pada pergerakan mata uang rupiah.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,54% secara harian ke Rp 17.012 per dolar AS pada perdagangan Rabu (8/4/2026). Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,48% secara harian ke Rp 17.009 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan gencatan senjata dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat memberi ruang napas jangka pendek bagi rupiah karena pasar langsung merespons dengan turunnya harga minyak, melemahnya dolar AS, dan menguatnya kembali harapan penurunan suku bunga Amerika Serikat.

Setelah pengumuman itu, harga minyak turun tajam, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menurun, dan indeks dolar ikut melemah.

“Namun, kesepakatan ini baru bersifat sementara, sehingga efek positifnya ke rupiah menurut saya lebih tepat dibaca sebagai pereda tekanan jangka pendek, bukan perubahan arah yang sudah permanen. Penentu utamanya tetap apakah arus pelayaran di Selat Hormuz benar-benar kembali lancar dan apakah dua minggu ini berlanjut menjadi kesepakatan yang lebih tahan lama,” jelas Josua kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: BEI Rilis Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi, Begini Respons Bahana TCW

Josua melihat pelemahan rupiah ke sekitar Rp 17.000 per dolar AS lahir dari gabungan faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, perang di Timur Tengah mendorong penghindaran risiko global, menaikkan harga minyak, memperkuat dolar AS, dan membuat pasar keuangan dunia lebih gelisah.

Dokumen riset ekonomi Permata Bank juga menekankan bahwa ketidakpastian arah suku bunga global, perang dagang, dan perlambatan ekonomi Tiongkok ikut menambah tekanan pada arus modal dan nilai tukar negara berkembang.

Adapun dari sisi domestik, pasar juga masih menimbang menyempitnya surplus perdagangan, proyeksi defisit transaksi berjalan, turunnya cadangan devisa menjadi US$ 148,2 miliar per Maret 2026, serta sentimen terhadap kebijakan domestik dan fiskal.

Tekanan itu diperberat oleh revisi prospek peringkat Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch, yang membuat premi risiko Indonesia tetap tinggi.

“Karena itu, rupiah melemah bukan hanya karena perang, tetapi karena perang datang ketika fondasi eksternal dan persepsi risiko domestik memang sedang sensitif,” ucap Josua.

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menyoroti posisi fiskal Indonesia yang tetap terbatas, karena peningkatan efisiensi sebesar Rp 74,2 triliun hanya memberikan penyangga terbatas terhadap defisit yang lebar sebesar Rp 616 triliun. Sementara penerimaan pajak yang lemah terus membatasi ruang fiskal.

“Meski inflasi tetap relatif terkendali untuk saat ini (3,48% YoY pada Maret 2026), tetapi risikonya cenderung meningkat akibat potensi penyesuaian harga bahan bakar, depresiasi rupiah, dan tekanan pangan yang dipicu oleh El Niño,” ucap Fikri.

Fikri mengatakan bahwa ketahanan eksternal tetap menjadi jangkar utama, dengan surplus perdagangan sebesar US$ 1,28 miliar (bulan ke-70 berturut-turut) yang didukung oleh ekspor hilir dan manufaktur, yang meredam tekanan dari ruang fiskal yang terbatas dan latar belakang global yang menantang.

Baca Juga: Pengumuman FTSE Russell dan Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Penopang IHSG

Lebih lanjut, Josua melihat prospek rupiah sampai akhir tahun masih membaik secara terbatas, bukan menguat tajam.

Dalam jangka sangat pendek, selama gencatan senjata ini bertahan, rupiah punya peluang bergerak kembali ke bawah Rp 17.000 per dolar AS karena harga minyak turun, dolar melemah, dan pasar kembali membuka ruang penurunan suku bunga Amerika Serikat. Namun untuk akhir tahun, Josua belum terlalu optimistis rupiah akan kembali rata ke asumsi APBN di Rp 16.500.

“Perkiraan saya, dalam skenario dasar, rupiah berpeluang ditutup di kisaran Rp 16.900 sampai Rp 17.000 per dolar AS,” ucap Josua.

Josua memperkirakan skenario yang lebih baik, yaitu sekitar Rp 16.500 sampai Rp 16.900 per dolar AS, baru mungkin bila gencatan senjata berlanjut, harga minyak turun lebih stabil ke bawah sekitar US$ 95 per barel, dan arus masuk ke pasar keuangan Indonesia kembali kuat.

Sebaliknya, bila gencatan senjata gagal, harga minyak kembali melonjak di atas US$ 100 per barel, dan dolar AS kembali menguat, rupiah berisiko kembali bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×