Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada perdagangan Rabu (8/4/2026), ditopang oleh meredanya ketegangan geopolitik global.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.012 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (8/4/2026), menguat 0,55% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.105 per dolar AS.
Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.009 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (8/4/2026), menguat 0,48% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.092 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, penguatan rupiah dipicu oleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik, khususnya keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyetujui gencatan senjata dengan Iran.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Kamis (9/4), Ini Proyeksi dan Sentimen
Trump disebut akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, setelah menilai bahwa tujuan militer utama Amerika Serikat telah tercapai.
Gencatan senjata ini ditengahi oleh Pakistan melalui upaya diplomatik intensif pada menit-menit terakhir.
Selain itu, kesepakatan tersebut juga mencakup jaminan dari Iran untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz secara aman. Jalur ini merupakan rute vital yang dilalui sekitar 20% aliran minyak global, sehingga kepastian aksesnya menjadi faktor penting bagi stabilitas pasar energi dunia.
“Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran,” ujar Ibrahim, Rabu (8/4/2026).
Untuk perdagangan Kamis (9/4/2026), Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Salah satu katalis yang dicermati pelaku pasar adalah rilis data inflasi Amerika Serikat.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,55% ke Rp 17.012 per Dolar AS pada Rabu (8/4/2026)
Pasar saat ini menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS periode Maret yang akan diumumkan pada Jumat (10/4/2026).
Data tersebut dinilai akan memberikan gambaran awal terkait dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi.
Ibrahim juga menyebut para ekonom memperkirakan inflasi bulanan AS akan meningkat, terutama didorong oleh kenaikan harga bahan bakar. Kondisi ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Jika tekanan inflasi tetap tinggi, maka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan semakin terbatas, yang pada akhirnya dapat memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Dengan mempertimbangkan sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.010 hingga Rp 17.040 per dolar AS pada Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Rupiah Perkasa ke Rp 17.014 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (8/4), Seluruh Asia Naik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












