Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) akan memperoleh dividen interim sebesar Rp 176 miliar dari anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menilai Protelindo merupakan anak usaha yang hampir sepenuhnya dimiliki TOWR. Dengan demikian, dividen interim tersebut merupakan transaksi internal grup yang akan tereliminasi dalam laporan keuangan konsolidasi.
"Di laporan konsolidasi, dividen tersebut tereliminasi dan tidak menambah laba maupun kas grup," ujar Abida kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Menurut Abida, dampak dividen tersebut lebih kepada perpindahan kas dari anak usaha ke induk. Dana tersebut dapat digunakan untuk membayar dividen kepada pemegang saham TOWR atau memenuhi kewajiban di tingkat induk.
Baca Juga: Reksadana USD Bisa Tambah Cuan, Waspadai Risiko Pembalikan Arah Dolar AS
Dari sisi kinerja, Abida melihat TOWR mulai keluar dari titik terendah siklusnya. Risiko churn pascamerger EXCL disebut sebagian besar telah teratasi. TOWR mempertahankan seluruh site EXCL tanpa churn dan memperpanjang sisa tenor kontrak menjadi 12 tahun dari sekitar tujuh tahun, dengan imbal penurunan tarif sewa efektif sekitar 7,5%.
Dampak operasionalnya dinilai terbatas, tercermin dari penurunan net kolokasi hanya 552 unit antara kuartal II-2025 dan kuartal II-2026.
Abida menilai, katalis utama pertumbuhan TOWR berasal dari siklus investasi jaringan 5G operator seluler. Kebutuhan bandwidth 5G sebesar 1-5 Gbps per site jauh di atas kemampuan jaringan microwave lama, sehingga mendorong permintaan fiber to the tower.
Katalis tambahan berasal dari potensi konsolidasi DATA dan permintaan jaringan untuk layanan FWA. Lalu, dari sisi strategi, Abida mengatakan keunggulan TOWR terletak pada tingkat fiberisasi menara yang mencapai 67% pada semester I-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis di dalam negeri yang berada di kisaran 50%-60%, meski masih di bawah Thailand sekitar 90% dan Malaysia sekitar 80%.
Ruang peningkatan fiberisasi tersebut menjadi peluang pertumbuhan bagi TOWR. Namun, investasi perlu dikelola secara hati-hati karena sekitar separuh utang TOWR berbunga mengambang, sehingga sensitif terhadap suku bunga tinggi.
Terkait prospek saham, Abida merekomendasikan buy saham TOWR dengan target harga Rp 610 berbasis DCF, setara dengan 6,6x EV/EBITDA FY26F.
Menurutnya, valuasi TOWR saat ini tergolong konservatif karena pasar seolah-olah mengasumsikan pertumbuhan jangka panjang negatif. Sementara itu, Abida memproyeksikan pertumbuhan laba sekitar 7,9% per tahun pada periode 2026-2030.
Baca Juga: Reksadana USD Beda Nasib, Efek Luar Negeri Cuan, Saham Domestik Tertekan
Konsolidasi DATA juga berpotensi menambah upside sekitar 3,8%. Adapun risiko utama yang perlu diperhatikan adalah permintaan FWA yang masih bergantung pada satu pelanggan, yakni WIFI, serta beban bunga yang lebih tinggi.
Sementara itu, Tim Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Sekuritas menilai dampak dividen interim Protelindo terhadap laba konsolidasi TOWR adalah nol. Pasalnya, Protelindo hampir sepenuhnya dimiliki TOWR sehingga dividen tersebut hanya memindahkan kas dari anak usaha ke induk dan tereliminasi dalam laporan konsolidasi. Manfaatnya adalah memperkuat likuiditas induk untuk membayar utang dan dividen. Nilai dividen tersebut juga relatif kecil dibandingkan dengan laba semester I.
Tim Riset KISI menilai prospek kinerja TOWR relatif stabil, tetapi motor pertumbuhannya mulai bergeser. Pendapatan semester I naik 13% dan laba meningkat 12% karena bisnis non-menara tumbuh 44%, terbantu oleh konsolidasi BACH.
Di sisi lain, pendapatan menara turun 3% akibat konsolidasi operator pasca-merger XL-Smartfren. Margin EBITDA juga turun dari 83% menjadi 77%. Realisasi semester I 50% konsensus, jadi target setahun dinilai masih sesuai.
Baca Juga: Emiten Grup Salim Buyback Saham Rp 2,25 Triliun, Simak Prospek dan Rekomendasinya
Menurutnya, katalis pertumbuhan TOWR meliputi penurunan beban bunga sebesar 23% pada semester I, pertumbuhan fiber, densifikasi jaringan dan 5G, serta kontrak jangka panjang. Adapun risiko yang perlu diperhatikan adalah churn penyewa, suku bunga tinggi, dan pelemahan rupiah.
“Strateginya diversifikasi ke fiber dan infrastruktur digital karena ruang penambahan penyewa menara makin sempit. Tantangannya capex besar dan margin lebih tipis. Persaingan bisa berubah kalau merger MTEL-TBIG terealisasi,” tutur Tim Riset KISI.
Terkait rekomendasi saham, ia menyatakan target harga saham TOWR masih under review.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













