Reporter: Yuliana Hema | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang solid di tengah tantangan bisnis menara telekomunikasi. Pertumbuhan bisnis konektivitas dan layanan Home Connect diperkirakan akan menjadi motor utama TOWR.
Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, TOWR membukukan pendapatan sebesar Rp 3,55 triliun. Ini tumbuh 10,82% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 3,20 triliun.
Dari sisi bottom line, laba periode berjalan TOWR mencapai Rp 972,11 miliar di kuartal I-2026. Raihan ini melonjak 20,75% YoY dari posisi kuartal I-2025 yang sebesar Rp 805,04 miliar.
Secara operasional, total menara TOWR mencapai 36.672 dengan 60.673 penyewa per 31 Maret 2026. Dengan demikian, tenancy ratio TOWR mencapai 1,66 kali.
Baca Juga: Kocok Ulang Portofolio saat Pasar Saham Terkoreksi Dalam
Sampai dengan 31 Maret 3036, TOWR memiliki sekitar 237.800 kilometer serat optik yang menghasilkan pendapatan. Sementara aset Fiber to the Home (FTTH) TOWR mencapai 1,84 juta home passed.
Equity Analyst Sucor Sekuritas Niko Pandowo menjelaskan, kinerja TOWR pada kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan bisnis yang cukup baik yang utamanya didorong oleh bisnis konektivitas yang terus menunjukkan momentum kuat.
“Segmen konektivitas mulai memberikan kontribusi yang semakin signifikan terhadap pertumbuhan TOWR di luar bisnis menara tradisional,” tulisanya dalam riset yang dirilis pada Kamis (5/6/2026).
Menurut Niko, perkembangan bisnis Home Connect menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan potensi pertumbuhan bisnis non-menara. Jumlah pelanggan Home Connect meningkat menjadi 289.800 pelanggan atau naik 59% YoY.
Dus, Sucor Sekuritas memperkirakan, pertumbuhan laba TOWR ke depan masih berada pada kisaran satu digit rendah. EBITDA diproyeksikan mencapai Rp 11,2 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 11,4 triliun pada 2027.
Pertumbuhan tersebut diperkirakan akan lebih banyak ditopang oleh segmen non-menara. Niko memperkirakan pendapatan bisnis non-menara mencapai Rp 5 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 5,3 triliun pada 2027.
Di sisi lain, pendapatan bisnis menara diproyeksikan cenderung stagnan pada kisaran Rp 8,7 triliun selama periode 2026–2027. Ini dipengaruhi dampak konsolidasi industri telekomunikasi pasca-merger XL Axiata dan Smartfren menjadi XLSmart (EXCL).
“TOWR tetap menjadi pilihan utama kami di sektor telekomunikasi karena didukung arus kas bisnis menara yang resilien serta pertumbuhan bisnis non-menara yang terus meningkat,” kata Niko.
Sucor Sekuritas memperkirakan, bisnis non-menara TOWR dapat mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 6% dan berkontribusi hampir 47% terhadap total pendapatan perseroan dalam satu dekade mendatang.
Seiring dengan prospek tersebut, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 920 per saham. Bahkan, TOWR menjadi saham unggulan di sektor telekomunikasi versi Sucor Sekuritas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













