Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,19% ke level Rp 18.014 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terkoreksi 34 poin dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.980 per dolar AS.
Pelemahan serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) yang merosot 0,09% ke level Rp 18.005 per dolar AS dari posisi kemarin Rp 17.988 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai ambruknya rupiah hingga menembus level psikologis baru ini dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah setelah Komando Pusat AS (Centcom) melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.
Baca Juga: Trump Klaim MOU Iran-AS Berakhir, Harga Minyak Mentah Melonjak 4%
"Kembalinya permusuhan di jalur maritim strategis tersebut memicu kekhawatiran hebat atas gangguan pasokan minyak mentah dunia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Tekanan terhadap mata uang domestik kian diperberat oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang kini bertengger di level 4,525%.
Di sisi lain, pelaku pasar global juga terus mencermati rilis notulen rapat FOMC bulan Juni dini hari nanti untuk meraba arah kebijakan suku bunga The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 yang mencatatkan defisit sebesar Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% dari PDB.
Ibrahim bilang, pelemahan nilai tukar yang terjadi saat ini berpotensi mempersempit ruang fiskal karena mendorong kenaikan belanja energi jauh lebih cepat daripada penerimaan negara.
"Meskipun posisi cadangan devisa Juni meningkat menjadi US$ 145,6 miliar, jumlah tersebut dinilai masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir," tambahnya.
Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah mendarat di zona merah setelah sempat menyentuh level terlemahnya dengan depresiasi hingga 35 poin.
Baca Juga: BACH dan EMMI Resmi Melantai di BEI, Begini Prospek Kinerjanya
Guncangan harian ini memaksa rupiah menyerah kalah dan harus rela mengakhiri perdagangan di level Rp 18.014 per dolar AS.
Menatap arah pergerakan selanjutnya, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melanjutkan tren pelemahan.
Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergulir dalam rentang konsolidasi baru di kisaran Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














