Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada awal perdagangan Rabu (8/7/2026), setelah penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantau (watchlist) untuk potensi penurunan status pasar dari emerging market menjadi frontier market.
Mengutip data RTI pada pukul 09.15 WIB, IHSG terkoreksi 51,75 poin atau 0,86% ke level 5.934,75.
Baca Juga: Resmi Melantai Hari Ini (8/7), Saham Esa Medika Mandiri (EMMI) Naik 11,7%
Sebanyak 407 saham melemah, 144 saham menguat, dan 156 saham bergerak stagnan. Total volume perdagangan mencapai 3,8 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,7 triliun.
Pelemahan IHSG dipicu penurunan di hampir seluruh sektor. Sebanyak 10 indeks sektoral berada di zona merah, dengan penurunan terdalam dicatat sektor properti yang turun 1,70%, disusul sektor barang konsumsi siklikal (cyclicals) yang melemah 1,64%, serta sektor bahan baku yang terkoreksi 1,52%.
Di jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Solusi Energi Digital Tbk (WIFI) menjadi top losers setelah turun 3,46% ke Rp 1.675. Disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang melemah 3,09% ke Rp 3.450 dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 2,96% ke Rp 1.475.
Sementara itu, penguatan dipimpin PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang naik 3,56% ke Rp 1.165. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 0,81% ke Rp 2.500, sedangkan PT United Tractors Tbk (UNTR) naik 0,52% ke Rp 24.125.
Baca Juga: Bach Multi Global (BACH) Resmi Melantai di BEI Hari Ini, Sahamnya Langsung ARA
Sentimen negatif datang dari pernyataan S&P DJI yang dirilis Selasa (7/7) malam waktu setempat. Dalam pernyataannya, lembaga penyedia indeks global tersebut memasukkan Indonesia dan Turki ke dalam watchlist untuk kemungkinan ditinjau dalam proses klasifikasi pasar tahun depan.
Sementara itu, Nigeria masuk dalam daftar pantau untuk kemungkinan naik status dari standalone market menjadi frontier market.
S&P DJI menyatakan, risiko penurunan status Indonesia berkaitan dengan isu transparansi pasar, sejalan dengan perhatian yang sebelumnya telah disampaikan MSCI.
Sejak Januari 2026, MSCI telah menempatkan Indonesia dalam status under review. Kekhawatiran atas potensi penurunan status tersebut telah menekan pasar saham domestik.
Sepanjang tahun berjalan, indeks saham Indonesia telah turun lebih dari 30%, atau sekitar 35% jika dihitung dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis ke Rp 17.981 Per Dolar AS Hari Ini (8/7), Asia Turun
Pada bulan lalu, MSCI memutuskan memperpanjang masa peninjauan hingga November 2026. Keputusan tersebut memberi waktu tambahan bagi regulator Indonesia untuk melanjutkan berbagai reformasi pasar, meski ancaman penurunan status masih membayangi.
Sebagai tindak lanjut atas evaluasi tersebut, pemerintah dan regulator pasar modal telah mengambil sejumlah langkah perbaikan.
Salah satunya dengan meningkatkan persyaratan free float minimum emiten dari 7,5% menjadi 15%, sebagai upaya meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar modal Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













