Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026), dipicu kombinasi sentimen domestik dan global.
Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp 17.952 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (1/7/2026), melemah 0,25% dari sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.907 per dolar AS.
Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 17.961 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (1/7/2026), melemah 0,35% dari sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.899 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen pelemahan rupiah dari dalam negeri yakni pasar merespons negatif defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 yang mencapai US$ 1,61 miliar, menjadi defisit pertama dalam enam tahun terakhir.
Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 12,07% pada Juni, Begini Prospeknya pada Semester II-2026
Defisit tersebut terjadi karena nilai impor mencapai US$ 24,81 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang sebesar US$ 23,20 miliar. Ini sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Ia menjelaskan, defisit terutama berasal dari sektor migas yang mencatatkan defisit US$ 3,76 miliar, didorong tingginya impor minyak mentah dan hasil minyak. Secara tahunan, impor migas melonjak 70,78%, sedangkan impor nonmigas meningkat 14,69%.
Selain itu, Ibrahim menilai data inflasi Indonesia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan (year on year/YoY). Kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi.
"Realisasi inflasi ini sejalan dengan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,27 pada kondisi Juni 2025 menjadi 111,89 pada kondisi Juni 2026 yang menunjukkan peningkatan dalam satu tahun terakhir, tetapi tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia," ujar Ibrahim, Rabu (1/7/2026).
Dari eksternal, ketidakpastian terkait kemajuan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran juga masih mempertahankan risiko geopolitik di pasar keuangan. Kondisi itu terjadi meskipun produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tertinggi yang mencerminkan peningkatan pasokan global.
Untuk perdagangan Kamis (2/7/2026), Ibrahim mengatakan perhatian investor akan tertuju pada serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Terkoreksi pada Kamis (2/7), Cermati Sentimen Ini
Ia menjelaskan, laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS naik menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta.
Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen AS versi Conference Board pada Juni juga membaik seiring meredanya harga bahan bakar setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati rilis data ADP Employment Change yang dijadwalkan terbit pada Rabu malam, disusul data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Kamis. Rilis NFP dimajukan sehari karena adanya hari libur nasional di Amerika Serikat.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.010 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/7).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














