Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Penguatan rupiah ditopang kombinasi sentimen positif dari dalam negeri serta membaiknya selera risiko pasar global. Penguatan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut pada Senin (15/6/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,72% ke level Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6). Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) juga menguat 0,33% menjadi Rp 17.921 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran berpotensi menekan harga minyak mentah dunia.
Baca Juga: 12 Saham Cum Dividen Hari Ini (15/6), Yield Tembus 9%
Kondisi tersebut mendorong sentimen risk-on di pasar keuangan dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Menurut Lukman, sentimen tersebut masih akan menjadi penggerak utama pasar pada awal pekan ini. Jika optimisme terhadap proses perdamaian terus berlanjut, permintaan terhadap aset berisiko berpotensi meningkat.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong oleh revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.
Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% pada 2026, mencerminkan kinerja ekonomi kuartal I-2026 yang lebih kuat dari perkiraan.
Menurut Ibrahim, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,6% secara tahunan pada kuartal I-2026, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2021.
Baca Juga: Cair Tiap 3 Bulan, Hari Ini (15/6) Cum Dividen Interim I Saham Blue Chip Perbankan
Kinerja tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat selama Ramadan dan Idul Fitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pertumbuhan ekonomi yang solid memberikan keyakinan terhadap prospek fundamental domestik dan menjadi sentimen positif bagi rupiah," ujar Ibrahim, Jumat (12/6/2026).
Meski demikian, Bank Dunia juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain ruang fiskal yang semakin terbatas, potensi kenaikan beban subsidi akibat gejolak harga minyak dunia, serta ketidakpastian pasar keuangan terkait evaluasi indeks MSCI.
Untuk perdagangan Senin (15/6/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700-Rp 17.850 per dolar AS.
Sementara Ibrahim memproyeksikan rupiah berada pada rentang Rp 17.860-Rp 17.910 per dolar AS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













