kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

IHSG Berpeluang Menguat pada Jumat (31/7), Ini Rekomendasi Analis


Kamis, 30 Juli 2026 / 17:41 WIB
IHSG Berpeluang Menguat pada Jumat (31/7), Ini Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (30/7/2026) di zona hijau (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (30/7/2026) di zona hijau. Penguatan indeks didorong kombinasi sentimen positif dari dalam maupun luar negeri, ditambah penguatan saham-saham perbankan dan munculnya aksi beli investor setelah koreksi dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup naik 1,56% atau 94,98 poin ke level 6.186,36. Seluruh sektor mencatat penguatan, dengan sektor consumer cyclicals menjadi kontributor terbesar setelah menguat 2,25%.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan penguatan IHSG terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih diwarnai berbagai sentimen, terutama terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG ditutup menguat sebesar 1,56% ke level 6.186,36. Bursa Asia bergerak mixed seiring pelaku pasar kembali mengevaluasi prospek kebijakan The Fed,” kata Nico kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).

Baca Juga: Tensi Geopolitik dan Isu BI Tekan Rupiah, Cek Proyeksi Perdagangan Jumat (31/7)

Menurutnya, keputusan bank sentral Amerika Serikat yang kembali mempertahankan suku bunga masih menyisakan ketidakpastian di pasar. Perbedaan pandangan di internal Federal Open Market Committee (FOMC) juga membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mencermati arah kebijakan berikutnya.

Nico menjelaskan, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat menjadi sekitar 67%, sehingga berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.

Dari sisi domestik, sentimen positif datang dari langkah pemerintah dalam mengantisipasi dampak fenomena El Nino guna menjaga ketahanan energi dan keberlangsungan sektor industri. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar masih dibayangi sejumlah faktor risiko, mulai dari ketidakpastian suksesi kepemimpinan Bank Indonesia, tekanan terhadap kondisi fiskal, hingga hambatan ekspor mineral.

Secara teknikal, Nico memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (31/7/2026), selama mampu bertahan di atas level penting.

Ia memproyeksikan indeks akan bergerak dalam rentang 6.060 hingga 6.290, dengan peluang mempertahankan tren positif apabila tetap berada di atas level 6.170.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai kenaikan IHSG juga didukung oleh faktor teknikal serta membaiknya kinerja sejumlah emiten berkapitalisasi besar.

Baca Juga: Laba Mitra Adiperkasa (MAPI) di Atas Ekspektasi, Begini Rekomendasi Sahamnya

“IHSG ditutup menguat 1,56% disertai dengan munculnya volume pembelian. Pergerakan ini sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang juga menguat,” jelasnya.

Herditya menambahkan, saham-saham sektor perbankan menjadi salah satu motor penggerak utama indeks. Selain itu, penguatan IHSG juga dipicu aksi rebound setelah selama enam hari perdagangan berturut-turut mengalami tekanan.

Untuk perdagangan Jumat (31/7/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih memiliki ruang penguatan dengan level support di 6.163 dan resistance di 6.199.

Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati sejumlah sentimen utama, antara lain rilis data produk domestik bruto (GDP) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Dari sisi strategi perdagangan, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham AADI pada kisaran harga Rp9.400–Rp9.650 per saham, BBRI di rentang Rp3.080–Rp3.190 per saham, serta TINS pada area Rp3.650–Rp3.790 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×