kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Proyeksi Rupiah Senin (15/6): Sentimen Damai AS-Iran Jadi Penopang Penguatan


Minggu, 14 Juni 2026 / 16:34 WIB
Proyeksi Rupiah Senin (15/6): Sentimen Damai AS-Iran Jadi Penopang Penguatan
ILUSTRASI. Penguatan rupiah dibayangi risiko fiskal dan harga minyak dunia. (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Penguatan mata uang Garuda didorong oleh kombinasi sentimen positif dari dalam negeri, termasuk membaiknya prospek ekonomi Indonesia, serta meningkatnya optimisme pasar global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,71% ke level Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6). Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) juga mencatat penguatan sebesar 0,33% menjadi Rp 17.921 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga internasional tersebut memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,0% pada 2026, mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.

Menurut Ibrahim, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,6% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2021.

Baca Juga: Dibayangi Dinamika Geopolitik, Begini Proyeksi Harga Emas Sepekan Kedepan

Kinerja ekonomi yang solid tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga selama momentum Ramadan dan Idul Fitri, percepatan pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur sipil negara, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pertumbuhan ekonomi yang solid memberikan keyakinan terhadap prospek fundamental domestik dan menjadi sentimen positif bagi rupiah," ujar Ibrahim, Jumat (12/6).

Meski demikian, Bank Dunia tetap mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang berpotensi membayangi perekonomian Indonesia. Beberapa di antaranya adalah ruang fiskal pemerintah yang semakin terbatas, potensi peningkatan beban subsidi akibat fluktuasi harga minyak dunia, hingga ketidakpastian di pasar keuangan terkait evaluasi indeks MSCI.

Dari sisi eksternal, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah dunia.

Baca Juga: Relaksasi RKAB 2026 Bisa Dongkrak Kinerja Kontraktor Tambang, Ini Rekomendasinya

Penurunan harga minyak dipandang dapat memperkuat sentimen risk-on di pasar keuangan global, sehingga mendorong investor untuk kembali memburu aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Menurut Lukman, sentimen positif tersebut masih berpeluang menjadi penggerak utama pasar pada awal pekan ini. Jika optimisme terhadap proses perdamaian antara AS dan Iran terus berlanjut, maka minat investor terhadap aset berisiko diperkirakan semakin meningkat.

Untuk perdagangan Senin (15/6), Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp 17.700 hingga Rp 17.850 per dolar AS. Sementara itu, Ibrahim memperkirakan rupiah berada pada rentang Rp 17.860 hingga Rp 17.910 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×