kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

ORI030 Terjual Rp 40 Triliun, Bagaimana Prospek SBN Ritel hingga Akhir Tahun?


Kamis, 30 Juli 2026 / 18:05 WIB
ORI030 Terjual Rp 40 Triliun, Bagaimana Prospek SBN Ritel hingga Akhir Tahun?
ILUSTRASI. Obligasi Negara/SUN (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penjualan SBN ritel seri ORI030 telah terjual Rp 40 triliun. Minat investasi SBN ritel diproyeksi tetap terjaga hingga akhir tahun 2026. 

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, Novi Puspita Wardani mengatakan, tingginya animo investor terhadap ORI030 karena karakteristik ORI yang menawarkan kupon tetap, dijamin pemerintah, dan dapat diperdagangkan di pasar sekunder menjadikannya instrumen yang menarik, khususnya di tengah kondisi pasar keuangan yang masih cukup volatil. Penyerapan ORI030 yang tinggi ini juga karena adanya reinvestasi yang dilakukan investor. Adanya kebutuhan reinvestasi karena selama masa penawaran ORI030 terdapat dua seri SBN Ritel yang jatuh tempo, yaitu ORI023-T3 dan SBR013-T2.

Baca Juga: Kas Jumbo Emiten, Peluang atau Sekadar Bantalan?

“Pemerintah melihat minat masyarakat terhadap SBN Ritel hingga sisa tahun 2026 masih positif, didukung oleh semakin luasnya basis investor domestik, meningkatnya literasi keuangan, serta kebutuhan terhadap instrumen investasi yang aman, mudah diakses, dan kompetitif,” ucap Novi kepada Kontan, Kamis (30/7/2026). 

Adapun untuk SBN ritel yang selanjutnya akan ditawarkan pemerintah adalah SR025 (SBN Syariah) yang rencananya ditawarkan pada 21 Agustus sampai 16 September 2026. Novi mengatakan bahwa pemerintah optimistis seri tersebut akan memperoleh respons yang baik dari masyarakat. Salah satu faktor pendukungnya adalah potensi reinvestasi, mengingat selama periode penawaran SR025 terdapat seri sukuk ritel yang jatuh tempo.

“Namun demikian, tingkat penyerapan setiap seri tetap akan dipengaruhi oleh kondisi pasar, tingkat imbal hasil, preferensi investor, dan ketersediaan likuiditas,” terang Novi. 

Oleh karena itu, Pemerintah akan terus menetapkan struktur penerbitan secara terukur, memperkuat edukasi dan komunikasi, serta meningkatkan sinergi dengan mitra distribusi agar SBN ritel tetap menarik bagi masyarakat, dengan tetap menjaga prinsip prudent, efisien, dan selaras dengan strategi pembiayaan APBN. 

Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William memperkirakan permintaan investor terhadap SBN ritel akan tetap tinggi hingga akhir tahun 2026, kecuali jika Bank Indonesia memutuskan untuk kembali menurunkan suku bunga. 

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Muhammad Rizal Taufikurahman mengatakan, prospek penyerapan SBN ritel hingga akhir 2026 masih positif. Penjualan ORI030 yang mencapai sekitar Rp40 triliun atau dua kali target awal Rp 20 triliun menunjukkan permintaan investor domestik tetap kuat. Hal ini didorong oleh tingginya ketidakpastian pasar sehingga investor lebih memilih instrumen yang aman dan berimbal hasil pasti. 

"Karena itu, penyerapan SBN ritel berpotensi tetap tinggi, tetapi pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan biaya utang," ujar Rizal.

Rizal menyebut, minat investor ke depan akan dipengaruhi oleh arah BI Rate, inflasi, yield SBN, stabilitas rupiah, dan kondisi APBN. Di tengah suku bunga yang masih relatif tinggi, investor akan membandingkan imbal hasil SBN dengan deposito dan instrumen investasi lainnya. Semakin kompetitif kupon yang ditawarkan, semakin besar minat investor. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas makro dan kredibilitas fiskal menjadi faktor utama mempertahankan permintaan.

Rizal menilai SBN ritel SR025 yang akan ditawarkan dalam waktu dekat berpeluang kembali menarik minat investor. Keberhasilan ORI030 membuktikan bahwa basis investor ritel masih kuat dan minat terhadap instrumen pemerintah tetap tinggi. 

Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada tingkat kupon, tenor, dan kondisi pasar saat penawaran. Artinya, SR025 berpotensi kembali mengalami oversubscribe apabila menawarkan nilai investasi yang kompetitif.

Rizal memperkirakan kupon SR025 berada di kisaran 6,9%–7,2% per tahun. Estimasi ini mempertimbangkan kondisi suku bunga, yield SBN, inflasi, dan dinamika pasar keuangan. Jika volatilitas pasar masih tinggi, kupon cenderung berada di batas atas kisaran tersebut. 

"Yang terpenting, pemerintah tidak hanya mengejar penjualan besar, tetapi juga menjaga efisiensi biaya pembiayaan APBN," pungkas Rizal. 

Seperti diketahui, terdapat sejumlah SBN ritel yang akan ditawarkan hingga akhir tahun 2026. Antara lain, Sukuk Ritel seri SR025 (ditawarkan pada 21 Agustus - 16 September 2026), Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 (28 September - 22 Oktober 2026), dan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 (6 November - 2 Desember 2026).

Baca Juga: Cek Teknikal Saham CTRA, BULL, dan DSNG Berikut Rekomendasinya untuk Jumat (31/7)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×