kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.616.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 18.111   28,00   0,15%
  • IDX 6.186   94,98   1,56%
  • KOMPAS100 811   14,88   1,87%
  • LQ45 619   12,34   2,03%
  • ISSI 214   3,34   1,59%
  • IDX30 349   7,21   2,11%
  • IDXHIDIV20 430   7,44   1,76%
  • IDX80 93   1,76   1,94%
  • IDXV30 117   2,05   1,78%
  • IDXQ30 112   2,25   2,06%

BEI Rebalancing Indeks SMC Liquid, Delapan Saham Jadi Penghuni Baru Simak Prospeknya


Kamis, 30 Juli 2026 / 18:07 WIB
BEI Rebalancing Indeks SMC Liquid, Delapan Saham Jadi Penghuni Baru Simak Prospeknya
ILUSTRASI. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan evaluasi mayor terhadap indeks small-mid cap (SMC) Liquid yang berisikan saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah dengan likuiditas mumpuni. Rebalancing ini berpotensi memengaruhi prospek indeks tersebut dalam beberapa waktu mendatang.

Dari hasil evaluasi yang diumumkan BEI pada Rabu (28/7) malam, terdapat 8 konstituen baru yang menjadi bagian IDX SMC Liquid. Di antaranya adalah saham CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO. Di sisi lain, ada 4 konstituen yang keluar dari penghitungan indeks, yaitu CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG.

Periode efektif konstituen ini ditetapkan mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 2 Februari 2027. Adapun periode efektif jumlah saham penghitungan indeks akan berlaku mulai dari 5 Agustus 2026 sampai 3 November 2026.

Baca Juga: Kas Jumbo Emiten, Peluang atau Sekadar Bantalan?

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah mengatakan, masuknya CYBR, EMTK, EXCL, INKP, KLBF, LPPF, MTEL, dan PTRO ke IDX SMC Liquid menunjukkan bahwa saham-saham tersebut memenuhi kriteria kapitalisasi pasar kecil-menengah dan memiliki tingkat likuiditas yang memadai. Dalam jangka pendek, saham pendatang baru tersebut berpotensi memperoleh sentimen positif dari peningkatan perhatian investor dan penyesuaian portofolio produk investasi yang menjadikan IDX SMC Liquid sebagai acuan.

Namun, kenaikan harga pada awal periode efektif tidak otomatis terjadi, karena pasar biasanya sudah melakukan antisipasi terhadap harga saham sejak pengumuman rebalancing. "Besarnya dampak juga bergantung pada dana kelolaan produk yang mengikuti indeks tersebut," ujar dia, Kamis (30/7).

Secara umum, lanjut dia, saham pendatang baru seperti EXCL, KLBF, MTEL, INKP, dan PTRO berpotensi menjadi penopang IDX SMC Liquid karena memiliki kapitalisasi dan aktivitas transaksi yang relatif lebih besar. Sebaliknya, nasib saham CYBR, EMTK, dan LPPF bakal lebih bergantung pada katalis spesifik masing-masing emiten.

Sementara itu, untuk saham yang keluar seperti CNMA, MNCN, PTPP, dan SRTG, penghapusan dari IDX SMC Liquid dapat menimbulkan tekanan teknikal sementara akibat penyesuaian portofolio.

Namun, keluar dari indeks tidak serta-merta menunjukkan fundamental emiten yang bersangkutan memburuk. Setelah efek rebalancing selesai, harga saham akan kembali ditentukan oleh laba, arus kas, aksi korporasi, dan prospek bisnis masing-masing.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyampaikan, rebalancing yang terjadi pada indeks SMC Liquid lebih mencerminkan adanya perubahan likuiditas dan kapitalisasi pasar, alih-alih kualitas fundamental emiten.

Saham-saham seperti KLBF, EMTK, EXCL, dan MTEL berpotensi menjadi penopang indeks tersebut karena fundamental dan likuiditasnya relatif kuat. Di sisi lain, CYBR, INKP, dan PTRO menawarkan potensi pertumbuhan tetapi dengan volatilitas yang lebih tinggi.

"Pada awal periode efektif Agustus bisa terjadi technical buying dari dana pasif, tetapi dampaknya hanya sementara," kata dia, Kamis (30/7).

Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi

Sebaliknya, saham-saham yang keluar dari indeks berpotensi mengalami tekanan jual jangka pendek, meskipun prospek jangka panjang bakal tetap ditentukan oleh fundamental masing-masing emiten.

Budi melanjutkan, secara umum prospek saham-saham lapis kedua pada semester II-2026 diperkirakan bakal lebih baik dibandingkan semester I-2026 apabila kondisi makro membaik. Dalam kondisi pasar yang normal, indeks SMC Liquid berpeluang mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena saham berkapitalisasi menengah umumnya memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar.

"Namun, kinerjanya tetap akan dipengaruhi oleh arah suku bunga, arus dana asing, stabilitas rupiah, serta pertumbuhan laba emiten," tutur dia.

Hari menyebut, saham-saham kecil-menengah umumnya volatilitas lebih tinggi dan likuiditas lebih rendah dibandingkan saham-saham utama di IHSG. Oleh karena itu, IDX SMC Liquid cenderung lebih unggul ketika kondisi pasar kondusif dan investor memiliki selera risiko yang tinggi.

Di sisi lain, ketika pasar mengalami tekanan, investor biasanya kembali memilih saham berkapitalisasi besar yang dianggap lebih likuid dan defensif.

Menurut dia, sentimen utama yang dapat memengaruhi nasib saham-saham lapis kedua pada sisa tahun ini antara lain arah suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed, nilai tukar rupiah, harga komoditas, pertumbuhan konsumsi domestik, arus dana asing, serta kualitas laporan keuangan semester I dan kuartal III-2026.

Hari meneruskan, sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital berpeluang menjadi tulang punggung indeks SMC Liquid hingga akhir 2026. Dalam hal ini, saham seperti EXCL dan MTEL dapat memperoleh manfaat dari pertumbuhan konsumsi data, ekspansi jaringan, efisiensi industri, serta kebutuhan infrastruktur digital.

"Pendapatannya juga relatif berulang, meskipun pertumbuhan tetap bergantung pada belanja modal operator dan keberhasilan konsolidasi industri," katanya.

Selain itu, sektor kesehatan dan farmasi juga bisa menjadi andalan bagi indeks SMC Liquid. Di sini, saham KLBF berpeluang jadi penopang yang defensif karena permintaan obat, produk kesehatan, dan nutrisi relatif stabil dalam berbagai kondisi ekonomi.

Baca Juga: Cek Teknikal Saham CTRA, BULL, dan DSNG Berikut Rekomendasinya untuk Jumat (31/7)

Berikutnya, sektor komoditas dan jasa pertambangan yang ada di indeks SMC Liquid juga punya daya tarik bagi investor. Saham INKP dan PTRO berpotensi memperoleh dukungan dari harga komoditas, permintaan ekspor, kontrak baru, serta ekspansi proyek. Namun, kontribusinya akan lebih volatil karena bergantung pada harga komoditas global dan keberhasilan pelaksanaan proyek.

Tak ketinggalan, ada sektor konsumer seperti LPPF yang berpeluang jadi penopang IDX SMC Liquid. LPPF dapat meraih manfaat dari pemulihan daya beli, musim liburan, dan momen belanja akhir tahun.

Di lain pihak, Budi menilai sektor yang berpeluang jadi andalan di IDX SMC Liquid antara lain teknologi dan digital, telekomunikasi, energi, serta kesehatan. Keempat sektor ini memiliki prospek pertumbuhan yang relatif lebih baik, berkat dukungan transformasi digital, kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, stabilnya permintaan energi, dan karakter bisnis kesehatan yang defensif.

Budi mengingatkan agar investor tidak membeli saham hanya karena baru masuk indeks SMC Liquid. Dari sekian konstituen baru, saham KLBF, EMTK, EXCL, dan MTEL dapat dicermati investor karena didukung fundamental yang relatif kuat, sedangkan CYBR relatif menarik bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi.

"Yang terpenting tetap memperhatikan valuasi, prospek laba, kualitas tata kelola, dan likuiditas, karena efek masuk indeks umumnya hanya menjadi katalis jangka pendek," jelas dia.

Hari menyebut, di antara pendatang baru IDX SMC Liquid, saham KLBF dan MTEL layak dicermati untuk investasi yang relatif lebih konservatif lantaran karakter bisnisnya cenderung lebih defensif dan memiliki pendapatan relatif stabil.

Sedangkan untuk investor yang mencari pertumbuhan, maka EXCL, INKP, dan PTRO dapat menjadi saham pilihan. Namun, investor tetap harus memperhatikan valuasi, tren laba, utang, kebutuhan belanja modal, dan realisasi katalis perusahaan.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Jumat (31/7), Ini Rekomendasi Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×