Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Timah Tbk (TINS) hingga kuartal III-2026 diproyeksikan bakal tetap solid, ditopang oleh tren harga timah global yang tinggi serta tingginya konsumsi dari sektor hilir.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai tren positif ini dipicu oleh terjaganya harga timah dunia di kisaran US$ 53.000 per ton serta kuatnya permintaan dari industri elektrifikasi dan semikonduktor.
Di samping itu, pengetatan pasokan global dan langkah pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal turut memberikan dampak signifikan bagi operasional perusahaan.
Baca Juga: Simak Prospek Emiten BUMN20 Pasca Evaluasi Indeks
Langkah penegakan hukum tersebut terbukti berhasil mengembalikan arus bahan baku ke fasilitas peleburan (smelter) TINS.
Peningkatan efisiensi ini juga memperkuat posisi perseroan dalam mengamankan pangsa pasar ekspor secara berkelanjutan.
"Volume penjualan berpotensi terdongkrak karena market share membesar, dan harga jual rata-rata ikut terangkat karena pengetatan pasokan global," kata Adrian kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).
Lebih lanjut, Adrian menjelaskan bahwa dorongan kinerja TINS hingga paruh kedua tahun ini juga bersumber dari kebutuhan teknologi masa depan.
Integrasi teknologi pada sektor AI, pusat data (data center), hingga kendaraan listrik memerlukan pasokan timah yang jauh lebih tinggi.
"Permintaan tambahan dari sektor elektronik, AI, semikonduktor, dan data center yang mendorong konsumsi timah," jelas Adrian.
Data riset Ciptadana Sekuritas Asia menunjukkan produksi bijih timah TINS pada semester I-2026 telah melonjak 75% YoY menjadi 12.232 ton Sn, sementara volume penjualan logam timah melesat 84% YoY mencapai 10.984 ton.
Pertumbuhan operasional tersebut berhasil mendorong pendapatan konsolidasi TINS melesat 147% YoY menjadi Rp10,4 triliun pada paruh pertama 2026.
Meski demikian, Adrian mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang berpotensi membayangi laju kinerja perseroan hingga kuartal III-2026.
"Menurut kami, tantangannya berupa volatilitas harga timah dan juga risiko regulasi royalti," ungkap Adrian.
Di sisi lain, pergerakan harga komoditas global dan kondisi makroekonomi domestik juga tetap perlu dicermati oleh para pemodal.
Adrian menyoroti risiko koreksi harga jika permintaan global melambat, di samping pergerakan IHSG yang masih cenderung fluktuatif.
Senada, Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, memproyeksikan volume penjualan logam timah TINS akan terus bertumbuh secara bertahap mencapai 23,3 ribu ton sepanjang tahun 2026.
Jeremy juga menyoroti keunggulan TINS yang berada di dalam ekosistem BUMN di bawah MIND ID dan Danantara.
Masuknya TINS ke dalam ekosistem Danantara turut membuka ruang apresiasi bagi para pemegang saham, khususnya terkait potensi imbal hasil dividen.
Kehadiran entitas ini diharapkan mampu mengoptimalkan tata kelola modal dan strategi hilirisasi perseroan dalam jangka panjang.
"Berdasarkan rekam jejak historis, beberapa emiten yang berada di dalam ekosistem Danantara memberikan pembagian dividend payout ratio yang besar, sehingga kami menilai potensi pembagian dividen juga akan cukup positif," tambah Adrian.
Riset Bahana Sekuritas menaksir TINS berpotensi menghasilkan rata-rata dividend yield hingga 13,4% selama periode tahun fiskal 2026-2028.
Ditinjau dari sisi pergerakan harga saham, aliran dana asing (foreign inflow) pada saham TINS juga dinilai menjadi sentimen pendukung yang menarik untuk dicermati.
Dengan prospek pemulihan operasional dan katalis pasar yang kuat, Adrian merekomendasikan Trading Buy untuk saham TINS dengan target harga di level Rp 3.780 per saham.
Baca Juga: El Nino Bikin Haus Pasar AMDK, Tapi Analis Ingatkan Laba Emiten Belum Ikut Tumbuh
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














