Reporter: Dimas Andi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten jasa pertambangan, PT Petrosea Tbk (PTRO) belakangan ini mendapat sorotan seiring aktifnya pengendali emiten tersebut yakni PT Kreasi Jasa Persada melakukan akumulasi pembelian saham dalam beberapa waktu terakhir.
Terbaru, Kreasi Jasa Persada menambah kepemilikan saham di PTRO usai memborong 15.197.600 saham atau setara 0,151% saham emiten tersebut senilai Rp 36,77 miliar pada 18 dan 19 Maret 2025. Kreasi Jasa Persada membeli saham PTRO di harga Rp 2.419,45 per saham.
Kreasi Jasa Persada sendiri merupakan anak usaha PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang dimiliki oleh konglomerat Prajogo Pangestu.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Mendirikan Perusahaan Baru di Bidang Perdagangan
Berkat transaksi tersebut, porsi kepemilikan saham oleh Kreasi Jasa Persada di PTRO bertambah dari 44,234% menjadi 44,385%.
“Tujuan transaksi pembelian saham ini adalah untuk investasi dengan status kepemilikan saham langsung,” kata Sekretaris Perusahaan Petrosea Anto Broto dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), 26 Maret 2025.
Sejak awal Maret, Kreasi Jasa Persada begitu rajin memborong saham PTRO. Pada 17 Maret misalnya, perusahaan ini membeli saham PTRO sebanyak 72.104.600 saham yang mana 65.000.000 saham di antaranya dibeli dari PT Caraka Reksa Optima melalui pasar negosiasi.
Adapun harga saham PTRO yang ditransaksikan Kreasi Jasa Persada kala itu yakni sebesar Rp 2.815,10 per saham di pasar reguler dan Rp 3.500 per saham di pasar negosiasi.
Mundur ke belakang, pada 10 dan Maret lalu, Kreasi Jasa Persada juga pernah membeli saham PTRO sebanyak 8.269.900 saham di harga Rp 3.263,46 per saham. Kreasi Jasa Persada juga membeli saham PTRO sebanyak 48.545.800 saham di harga Rp 3.306,84 per saham pada 6 dan 7 Maret lalu.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Terbitkan Obligasi & Sukuk Senilai Rp 1,5 Triliun, Ini Penggunaannya
Sebelumnya lagi, pada 4 dan 5 Maret silam, mereka sempat membeli saham PTRO sebanyak 39.718.000 saham di harga Rp 3.030,66 per saham.
Bila ditelusuri, harga saham PTRO bergerak cukup volatil sejak awal tahun dengan kinerja menurun 11,67% year to date (ytd) ke level Rp 2.440 per saham pada 27 Maret 2025, atau hari terakhir perdagangan sebelum libur Lebaran Idulfitri.
Namun, harga saham PTRO sempat mengalami lonjakan pada Januari silam. Bahkan, pada 20 Januari 2025 lalu, saham PTRO pernah menyentuh level Rp 4.180 per saham.
Dari sisi kinerja, PTRO mampu membukukan kenaikan pendapatan sebesar 19,60% year on year (yoy) menjadi US$ 690,81 juta pada 2024. Namun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PTRO menyusut 20,49% yoy menjadi US$ 9,70 juta.
Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menyampaikan, secara umum prospek kinerja emiten jasa pertambangan berpotensi flat pada 2025, mengingat ada beberapa tantangan.
Contohnya adalah kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) yang berisiko memicu perlambatan ekonomi dan perang dagang yang membuat harga batubara bergerak volatil.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Terbitkan Obligasi Rp 1 Triliun dan Sukuk Ijarah Rp 500 Miliar
Belum lagi, rencana penyesuaian tarif royalti minerba dapat menekan margin di tengah tren permintaan komoditas tambang yang masih moderat. “Emiten di sektor ini harus bisa mempunyai kemampuan untuk diversifikasi,” kata dia, Kamis (27/3) lalu.
Indy merekomendasikan tarling buy untuk saham PTRO dengan target harga di level Rp 3.180 per saham.
Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas dalam riset tertanggal 4 Februari 2025 merekomendasikan beli saham PTRO dengan target harga Rp 6.000 per saham.
Salah satu faktor pendukung kinerja PTRO adalah keberhasilan perusahaan tersebut dalam memperoleh kontrak bernilai jumbo. Dalam hal ini, PTRO mendapat kontrak jasa pertambangan di konsesi blok nikel milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang meliputi wilayah Blok Bahopi 2 dan Blok Bahadopi 3 di Sulawesi Tengah. Kontrak tersebut bernilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 16 triliun dengan durasi 10 tahun.
Baca Juga: Petrosea (PTRO) Kantongi Nilai Kontrak Rp 64,3 Triliun di 2024, Rekor Terbesar
Belum lama ini juga, PTRO menerbitkan obligasi dan sukuk senilai Rp 1,5 triliun. Sukarno menilai, penerbitan surat utang ini merupakan langkah strategi untuk memperkuat posisi keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan pada masa mendatang.
“Alokasi dana yang proporsional untuk berbagai keperluan operasional menunjukkan bahwa PTRO memiliki rencana matang dalam memanfaatkan dana tersebut,” tulis dia.
Selanjutnya: Indonesia Kena Tarif Trump 32%, Apindo: Cari Pasar Baru, Kurangi Ketergantungan AS
Menarik Dibaca: 15 Macam Makanan yang Paling Cepat untuk Menurunkan Kolesterol Tinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News