Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) yang menguat sejak awal 2026 dinilai bisa menjadi katalis bagi kinerja emiten sawit di paruh pertama tahun ini.
Melansir Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 18.30 WIB, harga CPO global ada di level MYR 4.646 per ton. Harga ini naik 1,37% dalam sebulan. Sejak awal tahun, CPO sudah naik 14,72% year to date (YTD).
Terkait tren harga CPO global, PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) mematok harga jual rerata alias average selling price (ASP) di kisaran Rp 14.750 - Rp 15.000 per kilogram sepanjang tahun 2026.
“Sampai dengan laporan terakhir rata-rata harga CPO kami masih di atas Rp 15.000 per kg. Dari struktur keuangan, ini masih aman buat budget dan operasional, karena masih di atas asumsi budget,” kata Direktur Keuangan & Investasi MKTR, Wawan Sulistyawan dalam Public Expose MKTR beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Harga CPO Naik 11% Sebulan, Analis Soroti Pengaruh Minyak Mentah dan Produksi
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat, kenaikan harga CPO global diproyeksikan menjadi katalis positif bagi ASP emiten di kuartal II 2026.
Kinerja kuartalan para emiten diprediksi lebih baik dibanding kuartal sebelumnya. Hal ini didorong oleh perbaikan harga jual dan pemulihan volume produksi setelah siklus musiman awal tahun berlalu.
“Sentimen positif lain juga berasal dari pengetatan pasokan global akibat efek lanjutan cuaca di negara produsen utama, serta solidnya permintaan domestik untuk program mandat biodiesel, seperti kelanjutan implementasi B40,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Research Associate Panin Sekuritas Panin Sekuritas Luthfi Novardiansyah menilai, harga CPO yang bertahan di level MYR 4.400 – MYR 4.700 per ton sepanjang kuartal II 2026 berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja emiten sawit di periode ini.
Hal itu bisa tercermin melalui peningkatan harga jual rerata alias average selling price (ASP) CPO di periode ini dibandingkan dengan periode kuartal I 2026.
Selain itu, emiten dengan produktivitas yield tandan buah segar (TBS) tinggi di atas 20 ton per hektar, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) berpotensi mencatatkan kinerja yang baik.
Baca Juga: Laba TOTL Melonjak 56% di 2025, Simak Rekomendasi Analis
“Mereka memiliki basis tanaman produktif dengan umur rata-rata berkisar 14–15 tahun,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.
Di semester II 2026, harga CPO yang tertahan di level tinggi pun diperkirakan tetap menjadi penyokong utama pendapatan para emiten sawit. Namun, potensi tantangan muncul dari sisi peningkatan biaya operasional.
David berpandangan, tekanan dari implementasi penyesuaian pungutan atau bea keluar serta wacana kenaikan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani berisiko mengikis margin keuntungan (profit margin).
“Kemampuan emiten dalam mengelola cost efficiency akan menentukan apakah sentimen harga tinggi ini dapat dikonversi menjadi laba bersih yang optimal,” tuturnya.














