Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja emiten energi di bawah naungan PT Pertamina (Persero), yakni PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Elnusa Tbk (ELSA), dinilai masih cukup menarik memasuki kuartal II-2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan, ketiga emiten tersebut diperkirakan tetap mencatatkan kinerja yang resilien sepanjang 2026.
“PGEO didorong oleh kenaikan kapasitas terpasang, PGAS melalui optimalisasi infrastruktur pipa gas, dan ELSA diuntungkan oleh peningkatan aktivitas hulu migas nasional,” kata David kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Dipengaruhi Risiko Tekanan Harga Bahan Baku, Simak Rekomendasi Saham Indofood (INDF)
Menurut David, dari sisi strategi, ekspansi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) oleh PGEO menjadi yang paling signifikan dalam mendorong kinerja jangka panjang.
“Ekspansi seperti proyek Lumut Balai Unit 4 memberikan dampak paling terukur terhadap profitabilitas karena margin energi terbarukan yang lebih stabil dan tebal,” jelasnya.
Ia menambahkan, di tengah volatilitas harga minyak dan pelemahan rupiah, PGEO dan ELSA relatif lebih terlindungi karena mayoritas kontraknya berbasis dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: BI Fokus Stabilitas, Rupiah Sulit Kembali ke Rp 16.000 dalam Waktu Dekat
Sebaliknya, PGAS menghadapi tantangan lebih besar, terutama terkait selisih harga beli gas di tengah tekanan kurs.
“PGEO menjadi pemenang utama dalam tren transisi energi karena posisinya sebagai pure-play energi bersih,” imbuh David.
Senada, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai prospek ketiga emiten tersebut tetap menarik, meski memiliki karakter yang berbeda.
“PGEO terlihat paling solid karena ekspansi kapasitas dan pendapatan berbasis kontrak yang stabil,” ujarnya.
Sukarno menambahkan, PGAS saat ini berada dalam fase pemulihan dengan ditopang pertumbuhan volume dan ekspansi ke segmen gas industri, meski margin masih terbatas.
Sementara itu, ELSA cenderung bersifat siklikal karena kinerjanya mengikuti aktivitas hulu migas.
“ELSA berpotensi meningkat saat aktivitas eksplorasi naik, namun tetap dipengaruhi volatilitas harga minyak,” jelasnya.
Di tengah kondisi pasar saat ini, PGEO dinilai paling defensif, sementara PGAS masih menghadapi tekanan biaya dan ELSA diuntungkan saat harga minyak meningkat.
Dalam jangka panjang, PGEO juga dinilai menjadi penerima manfaat utama dari tren transisi energi hijau, sedangkan ELSA unggul dari sisi efisiensi sebagai operator berbiaya rendah.
Untuk rekomendasi, Sukarno memberikan rating buy untuk PGEO dengan target harga Rp 1.200–Rp 1.300, sementara PGAS dan ELSA direkomendasikan trading buy dengan target masing-masing di kisaran Rp 2.000–Rp 2.100 dan Rp 770–Rp 800.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













