kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Selain MSCI, Hasil Evaluasi FTSE Russel Akan Dirilis, Ini Rekomendasi Analis


Senin, 10 Agustus 2026 / 05:49 WIB
Selain MSCI, Hasil Evaluasi FTSE Russel Akan Dirilis, Ini Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Selain MSCI, Hasil Evaluasi FTSE Russel Akan Dirilis, Ini Rekomendasi Analis


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. MSCI akan mengumumkan hasil review indeks pada 12 Agustus 2026. Selain itu, FTSE Russel juga akan mengeluarkan hasil evaluasi terkait status pembekuan atau freeze pasar saham Indonesia. Keputusan tersebut berpotensi menjadi salah satu katalis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sisa Agustus 2026.

Hasil review MSCI akan efektif berlaku pada 31 Agustus 2026. Sedangkan FTSE Russell diperkirakan melakukan evaluasi pada 10-14 Agustus 2026. Sementara itu, pengumuman hasil peninjauan ulang diproyeksikan berlangsung pada 21 Agustus 2026, dengan tanggal efektif 18 September 2026.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai status freeze masih berpeluang dipertahankan dalam evaluasi Agustus 2026, meskipun regulator telah menjalankan berbagai reformasi pasar modal.

"Pertimbangannya, meskipun regulator telah melakukan berbagai reformasi untuk meningkatkan kualitas pasar, FTSE Russell cenderung menunggu bukti implementasi yang konsisten sebelum mengubah status pasar," kata Sukarno kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).Menurut Sukarno, hasil evaluasi FTSE Russell berpotensi meningkatkan volatilitas IHSG pada awal pekan depan. Namun, dampaknya diperkirakan lebih banyak bersifat sentimen jangka pendek dan belum mengubah tren pasar secara fundamental.

Apabila status freeze kembali dipertahankan, reaksi pasar diperkirakan relatif terbatas karena skenario tersebut telah diantisipasi oleh pelaku pasar.

Sebaliknya, jika FTSE Russell memberikan sinyal menuju normalisasi status pasar Indonesia, sentimen positif berpotensi mendorong penguatan IHSG. Saham berkapitalisasi besar yang menjadi bagian dari indeks global diperkirakan menjadi salah satu kelompok yang paling diuntungkan.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Senin (10/8), Cek Saham Rekomendasi Analis

Peluang freeze FTSE Russell dicabut

Pandangan lebih optimistis disampaikan Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee. Ia melihat adanya peluang FTSE Russell memperbarui atau melonggarkan status pembekuan pasar Indonesia dalam evaluasi terbaru.

Menurut Hans, peluang tersebut didukung progres reformasi terkait keterbukaan informasi dan data kepemilikan saham yang dijalankan regulator.

"Ini menyusul progres reformasi keterbukaan informasi dan data kepemilikan saham yang dijalankan regulator. Tentu pengaruhnya akan positif terhadap pergerakan IHSG," kata Hans.

Reformasi tersebut antara lain mencakup peningkatan keterbukaan data kepemilikan saham serta pengungkapan konsentrasi kepemilikan saham. OJK sebelumnya menyebut berbagai reformasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia.

Pada April 2026, FTSE Russell juga mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List. OJK menilai hal tersebut mencerminkan adanya progres positif dari berbagai reformasi pasar modal yang sedang berjalan.

Tonton: Iran: Kesepakatan Selat Hormuz Makin Dekat, Tapi Kapal Belum Bisa Lewat

Peluang pencabutan freeze masih 30%-40%

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keputusan FTSE Russell tidak hanya akan mempertimbangkan komitmen regulator. Konsistensi implementasi, efektivitas kebijakan, serta bukti perbaikan aksesibilitas dan integritas pasar juga menjadi faktor penting.

Nafan melihat sejumlah langkah OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menunjukkan kemajuan. Namun, FTSE Russell kemungkinan masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi dampak kebijakan tersebut secara lebih komprehensif.

"Peluang pencabutannya berada di kisaran 30%-40%. Namun secara probabilitas, saya menilai pendekatan yang lebih konservatif masih lebih realistis," ujar Nafan.

Menurut Nafan, pencabutan freeze akan memberikan sentimen positif bagi pasar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan optimisme investor asing sekaligus mendorong minat terhadap saham blue chip dan IHSG.

Sebaliknya, apabila freeze diperpanjang, tekanan terhadap pasar berpotensi muncul dalam jangka pendek. Meski demikian, dampaknya diperkirakan tidak terlalu dalam karena sebagian risiko tersebut telah diperhitungkan oleh pelaku pasar.

"Pengumuman FTSE Russell berpotensi menjadi katalis penting bagi sentimen pasar pada pekan depan, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks global," tutur Nafan.

Tonton: IHSG dan Rupiah Menguat, Saatnya Kembali Investasi?

Investor perlu cermati arus dana asing

Nafan menambahkan, arah IHSG setelah keputusan FTSE Russell tetap akan ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan global. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain arus dana asing, prospek suku bunga global, harga komoditas, kinerja emiten pada semester II 2026, serta stabilitas rupiah.

Karena itu, investor disarankan tidak hanya berfokus pada hasil evaluasi FTSE Russell. Pemilihan saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, valuasi menarik, serta prospek pertumbuhan laba yang solid tetap menjadi strategi utama.

"Apabila terjadi volatilitas pasca-pengumuman, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness pada saham-saham berkualitas," kata Nafan.

Untuk perdagangan pekan depan, Nafan memperkirakan IHSG memiliki area support di level 6.354-6.292, sedangkan resistance berada di kisaran 6.454-6.554.

Sukarno juga merekomendasikan strategi selective buying pada saham dengan fundamental kuat sembari tetap menjaga disiplin manajemen risiko.

"Kami tetap merekomendasikan selective buying pada saham berfundamental kuat dan menjaga disiplin manajemen risiko," ucap Sukarno.

Menurut Sukarno, selain hasil evaluasi FTSE Russell, investor perlu mencermati perkembangan arus dana asing. Dinamika foreign flow dinilai berpotensi menjadi faktor yang lebih menentukan arah IHSG dalam jangka pendek.

Dengan demikian, keputusan FTSE Russell memang menjadi katalis penting bagi pasar saham Indonesia. Namun, investor tetap perlu melihat keputusan tersebut dalam konteks yang lebih luas, terutama perkembangan arus modal asing, fundamental emiten, kondisi makroekonomi, serta faktor global.


 

Proyek Gedung DPR di IKN Dikebut! 3 Gedung Utama Ditargetkan Rampung Desember 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×