Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terus bangkit pada semester II 2026 bersamaan dengan laporan keuangan yang membaik.Apakah saham blue chip di Indeks LQ45 ini layak beli atau saatnya jual untuk merealisasikan keuntungan?
Harga saham UNVR pada akhir perdagangan Jumat 7 Agustus 2026 di level Rp 1.820 naik 15 poin atau 0,83% secara harian. Selama perdagangan 30 hari terakhir, harga saham UNVR terakumulasi naik 90 poin atau 5,20%.
Kenaikan harga saham UNVR bersamaan dengan tanda-tanda pemulihan kinerja setelah menghadapi tekanan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir.
Pada kuartal II 2026, pangsa pasar UNVR meningkat baik berdasarkan nilai maupun volume. Kenaikan tersebut menjadi pertumbuhan pangsa pasar secara kuartalan pertama sejak 2024, berdasarkan riset CGS International Sekuritas pada 29 Juli 2026.
Analis CGS International Sekuritas Baruna Arkasatyo mencatat, pangsa pasar Unilever Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 30,8% berdasarkan nilai dan 27% berdasarkan volume.
Angka tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang masing-masing berada di level 30,6% dan 26,3%.
Perbaikan pangsa pasar tersebut sejalan dengan pertumbuhan volume penjualan. Berdasarkan laporan semester I 2026, penjualan bersih dari operasi berkelanjutan Unilever Indonesia mencapai Rp16,9 triliun, tumbuh 7,1% secara tahunan. Penjualan domestik tumbuh 7,1%, sementara volume dasar meningkat 7,3%.
"Pertumbuhan penjualan yang didorong oleh peningkatan volume serta perluasan pangsa pasar berdasarkan nilai," ujar Baruna dalam risetnya.
Dari sisi pencapaian target, penjualan semester I 2026 setara sekitar 50% dari proyeksi setahun penuh CGS International Sekuritas dan sekitar 51% dari konsensus Bloomberg.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat Senin (10/8), Cek Saham Rekomendasi Analis
Segmen HPC jadi penopang
Pertumbuhan bisnis Unilever Indonesia terutama ditopang segmen home and personal care (HPC). Penjualan segmen tersebut tumbuh 12% secara tahunan pada kuartal II 2026.
Sementara itu, penjualan segmen food and refreshments (FR) tumbuh 7% secara tahunan.
Manajemen Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan penjualan dapat melampaui pertumbuhan pasar. Untuk mengejar target tersebut, perseroan memperkuat merek, memperluas distribusi, serta meningkatkan penetrasi pasar.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil melalui perbaikan pangsa pasar pada kuartal II 2026.
Di sisi lain, pertumbuhan harga dan volume diperkirakan semakin seimbang pada semester II 2026. Kondisi ini seiring kenaikan harga yang mulai diterapkan Unilever Indonesia pada Juni 2026.
"Pertumbuhan harga dan volume diperkirakan akan lebih seimbang pada paruh kedua 2026, seiring kenaikan harga yang diterapkan pada Juni 2026 mulai memberikan dampak," tulis Baruna.
Secara semester I 2026, laba bersih dari operasi berkelanjutan Unilever Indonesia mencapai sekitar Rp2,1 triliun, tumbuh 10,2% secara tahunan. Capaian tersebut setara sekitar 51% dari estimasi CGS International Sekuritas dan 50% dari konsensus Bloomberg untuk tahun penuh 2026.
Baca Juga: Jumlah Investor Saham Tembus 30 Juta, Ini Cara Membuat Rekening Efek & Mendapat SID
Margin UNVR masih tertekan
Meski pertumbuhan penjualan dan pangsa pasar mulai membaik, tekanan biaya masih menjadi tantangan bagi Unilever Indonesia.
CGS International Sekuritas mencatat gross profit margin (GPM) pada kuartal II 2026 turun menjadi 45,0%. Penurunan margin dipengaruhi kenaikan biaya bahan baku, termasuk crude palm oil (CPO), bahan kemasan, dan surfaktan.
UNVR juga masih menanggung biaya transformasi yang relatif tinggi, terutama terkait optimalisasi rantai pasok dan distribusi.
Namun, tekanan tersebut diperkirakan mulai mereda pada semester II 2026.
Baruna memperkirakan margin laba kotor UNVR meningkat dari 46,6% pada semester I 2026 menjadi 48,6% pada semester II 2026. Perbaikan tersebut diharapkan berasal dari penurunan biaya transformasi serta dampak kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).
Dalam analyst call pada 28 Juli 2026, manajemen menyampaikan biaya transformasi sepanjang 2026 diperkirakan 30%-40% lebih rendah dibandingkan 2025.
Data perusahaan juga menunjukkan margin kotor operasi berkelanjutan semester I 2026 berada di 46,6%, turun 168 basis poin dari tahun sebelumnya. Tanpa biaya transformasi, margin kotor mencapai 47,7%.
Tonton: IHSG Diprediksi Menguat Terbatas Senin 10 Agustus, Bisa Tembus 6.500? Ini Saham Pilihannya
Target harga saham UNVR Rp2.040
Meski melihat adanya perbaikan operasional, CGS International Sekuritas melakukan penyesuaian terhadap proyeksi kinerja UNVR.
Analis memangkas proyeksi non-core earnings per share (EPS) 2026 sebesar 2%. Penyesuaian tersebut terutama dipengaruhi estimasi nilai bersih divestasi bisnis teh yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Asumsi GPM 2026 juga diturunkan dari 48,3% menjadi 47,6% akibat estimasi biaya input yang lebih tinggi.
Sementara itu, proyeksi EPS 2027-2028 hanya dipangkas 1%. Di sisi lain, estimasi pertumbuhan penjualan segmen HPC dinaikkan menjadi 7% yoy dari sebelumnya 6%, seiring semakin luasnya cakupan distribusi.
Terlepas dari penyesuaian tersebut, CGS International Sekuritas mempertahankan rekomendasi Add untuk saham UNVR.
Baruna menilai ekspansi distribusi, transformasi digital, optimalisasi persediaan, dan stabilisasi harga berpotensi mendukung pemulihan kinerja UNVR secara bertahap.
Namun, CGS International Sekuritas menurunkan target harga UNVR berbasis discounted cash flow (DCF) menjadi Rp2.040 per saham.
Penurunan target harga terutama disebabkan kenaikan asumsi weighted average cost of capital (WACC) dari 9,3% menjadi 10,4%. Kenaikan tersebut dipicu peningkatan asumsi risk-free rate menjadi 7,1% dari sebelumnya 6,0%, sejalan dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun.
Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), saham UNVR ditutup naik 0,83% ke Rp1.820 per saham. Dalam sepekan, saham UNVR telah menguat 3,41%.
Dengan target harga Rp2.040, masih terdapat ruang kenaikan sekitar 12,1% dari harga penutupan tersebut.
Tonton: 14 Manfaat Kapulaga bagi Kesehatan yang Jarang Diketahui, Benarkah Bisa Turunkan Gula Darah?
Katalis dan risiko saham UNVR
Menurut Baruna, terdapat sejumlah katalis yang dapat mendorong re-rating saham UNVR. Dua faktor utama yang perlu diperhatikan adalah keberlanjutan perbaikan pangsa pasar pada semester II 2026 dan peningkatan disiplin fiskal perusahaan.
Perbaikan fundamental juga menjadi perhatian karena Unilever Indonesia mencatatkan pertumbuhan penjualan dari operasi berkelanjutan selama empat kuartal berturut-turut hingga semester I 2026.
Meski demikian, investor perlu mencermati sejumlah risiko. Di antaranya potensi kenaikan kembali biaya input, tekanan permintaan akibat persaingan dan melemahnya daya beli masyarakat, serta risiko eksekusi terkait pemisahan segmen food and refreshments.
Dengan demikian, kenaikan pangsa pasar pada kuartal II 2026 menjadi sinyal positif bagi pemulihan UNVR. Tantangan perseroan berikutnya adalah mempertahankan momentum pertumbuhan tersebut sekaligus memperbaiki tekanan margin pada semester II 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
