kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.910   0,00   0,00%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Emiten Kertas Ini Bukukan Lonjakan Laba, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis


Senin, 10 Agustus 2026 / 06:40 WIB
Emiten Kertas Ini Bukukan Lonjakan Laba, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis
ILUSTRASI. Pabrik Tjiwi Kimia (DOK/Gatra)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten kertas pada semester I-2026 menunjukkan penguatan, tercermin dari lonjakan laba dua emiten Grup Sinar Mas, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP).

Pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan penjualan mengindikasikan adanya ekspansi margin.

TKIM membukukan laba bersih US$ 262,49 juta pada semester I-2026, melonjak 166,83% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang penjualan bersih yang naik 7,79% yoy menjadi US$528,55 juta hingga akhir Juni 2026.

Kinerja serupa dicatatkan INKP. Laba bersih INKP mencapai US$ 372,33 juta, tumbuh 127,45% yoy. Penjualan perusahaan juga meningkat 8,74% yoy menjadi US$1,7 miliar.

Baca Juga: Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Siap Bayar Pokok 2 Obligasi, Total Dana US$ 7,31 Juta

Dari catatan KONTAN, hingga kini TKIM dan INKP menjadi emiten kertas yang telah merilis laporan keuangan semester I-2026.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kualitas pertumbuhan laba emiten kertas pada paruh pertama tahun ini cukup kuat karena ditopang ekspansi margin, bukan semata-mata peningkatan volume penjualan.

"Pertumbuhan laba mencerminkan adanya ekspansi margin, bukan sekadar pertumbuhan volume," ujar Wafi kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Menurut Wafi, pelebaran margin tersebut menunjukkan adanya perbaikan operasional. Namun, investor tetap perlu melihat apakah faktor pendorongnya dapat berlanjut hingga semester II-2026.

Ada tiga faktor utama yang mendorong ekspansi margin emiten kertas, yakni membaiknya harga pulp global, efisiensi biaya energi, serta pergeseran bauran produk ke segmen dengan margin yang lebih tinggi.

Baca Juga: Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bagi Dividen Rp 410,32 Miliar, Cek Jadwalnya Disini

Kombinasi faktor tersebut membuat profitabilitas perusahaan menjadi lebih kuat.

Memasuki semester II-2026, prospek industri kertas dinilai masih positif seiring mulai pulihnya permintaan global. Pasar kertas juga perlahan keluar dari kondisi kelebihan pasokan sebelumnya.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena menjadi salah satu produsen dengan struktur biaya yang kompetitif di pasar ekspor. Kondisi tersebut dapat menjaga daya saing emiten kertas domestik ketika permintaan global mulai membaik.

Meski demikian, sejumlah risiko masih membayangi industri. Perlambatan ekonomi global dan tambahan kapasitas produksi dari sejumlah negara dapat menekan keseimbangan pasokan dan permintaan.

Persaingan dari produsen China yang agresif menambah kapasitas juga menjadi perhatian.

Di sisi lain, masih ada sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja emiten kertas pada paruh kedua tahun ini. Salah satunya adalah peluang penguatan harga pulp global.

Baca Juga: Laba Emiten Kertas Melonjak, Cermati Rekomendasi Saham TKIM dan INKP

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi memberikan keuntungan bagi perusahaan yang memiliki eksposur ekspor besar.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat prospek industri kertas hingga akhir 2026 masih positif. Pemulihan aktivitas manufaktur global dan meningkatnya kebutuhan kemasan menjadi salah satu pendorong utama.

Segmen kemasan diperkirakan tetap menjadi penopang permintaan, terutama seiring pertumbuhan e-commerce dan perdagangan global. Pemulihan permintaan ekspor serta potensi kenaikan harga pulp turut menjadi sentimen positif bagi emiten kertas.

Selain itu, penurunan suku bunga global berpotensi mendorong kembali aktivitas manufaktur dan konsumsi. Namun, penguatan rupiah dapat mengurangi keuntungan dari selisih kurs bagi emiten yang memiliki pendapatan ekspor dalam dolar AS.

Dengan mempertimbangkan katalis dan risiko tersebut, Sukarno merekomendasikan saham INKP dengan target harga Rp11.600 per saham. Sementara itu, TKIM direkomendasikan dengan target harga Rp3.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×