Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Noverius Laoli
Menurut David, kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dinilai lebih prospektif dibandingkan emiten sawit peers.
Untuk AALI, pertimbangannya berasal dari kestabilan operasional grup, namun tetap memperhatikan volatilitas volume produksi tahunan.
Untuk LSIP, kinerjanya didukung oleh struktur neraca yang sehat tanpa utang bank (net cash position) yang memberikan ketahanan margin lebih baik terhadap fluktuasi biaya industri.
Luthfi melihat, tren kenaikan harga CPO di semester II 2026 diperkirakan mulai terbatas seiring normalisasi perdagangan di Selat Hormuz yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga minyak mentah dan mengurangi daya saing biodiesel berbasis CPO terhadap solar.
Baca Juga: Sejumlah Emiten Siapkan Rights Issue Awal 2026, Cermati Rekomendasi Analis
Namun, implementasi mandatory program B50 mulai 1 Juli 2026 diperkirakan dapat meningkatkan penyerapan CPO domestik dan menjaga ketatnya pasokan global.
“Dengan pertimbangan tersebut, harga CPO diperkirakan bergerak pada rentang MYR 4.300 – MYR 4.700 per ton sepanjang semester II 2026. Luthfi merekomendasikan beli untuk DSNG dengan target harga Rp 1.770 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














