Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten produsen minyak kelapa sawit di kuartal I 2026 terpantau beda arah kala harga crude palm oil (CPO) masih naik sejak awal tahun ini.
Melansir Trading Economics, harga CPO sekarang ada di level MYR 4.574 per ton, naik 12,94% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Sejumlah emiten CPO tampak mendulang cuan di periode ini. Misalnya, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 7,5 triliun di kuartal I 2026, naik 6,8% year on year (YoY). Laba bersih tercatat Rp 373,40 miliar per akhir Maret 2026, naik 34,78% YoY.
Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan, pertumbuhan kinerja Astra Agro selama kuartal I 2026 berkat peningkatan efisiensi operasional di seluruh lini serta pengendalian biaya dan belanja perseroan.
“Hal itu tercermin pada net profit margin (NPM) perseroan yang menjadi 5% pada kuartal I 2026 dibandingkan dengan kuartal I 2025 pada posisi 3,9%,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat Jadi 7.101, Simak Rekomendasi Saham MEDC, BRPT, HMSP
Selain itu, kinerja Astra Agro kuartal I 2026 ditopang oleh volume penjualan CPO dan derivatif yang naik 6,3% YoY dan penjualan kernel & derivatif yang meningkat 9,8% YoY.
“Perseroan optimistis harga CPO akan cukup suportif sepanjang tahun dengan kondisi permintaan dan kebutuhan di level yang relatif sama,” katanya.
Kendati demikian, Tingning bilang, faktor kondisi cuaca dan usia tanaman masih menjadi komponen utama yang akan mempengaruhi pertumbuhan produksi. Astra Agro pun berupaya untuk menjaga kinerja sampai dengan akhir tahun melalui perencanaan yang matang serta alokasi biaya yang tepat sasaran tanpa mengurangi kualitas operasional.
“Strategi tersebut untuk menjaga daya saing biaya produksi dan mengantisipasi volatilitas harga CPO dan kondisi geopolitik,” ungkapnya.
Lalu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mengantongi pendapatan Rp 2,88 triliun di kuartal I 2026, tumbuh 8% YoY. Laba bersih tercatat Rp 430,43 miliar di akhir Maret 2026, naik 16,91% YoY dari Rp 368,15 miliar.
Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo menyampaikan bahwa segmen kelapa sawit masih menjadi kontributor utama terhadap pendapatan perusahaan.
Penjualan CPO perseroan meningkat 18%, namun harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun sekitar 3% pada kuartal pertama tahun 2026. Meskipun demikian, segmen kelapa sawit tetap memberikan kontribusi positif terhadap kinerja pada periode ini.
“Perseroan menyiapkan berbagai langkah strategis dan penuh kehati-hatian, termasuk program replanting untuk menjaga produktivitas kebun. Hingga saat ini, realisasi replanting mencapai sekitar 5.000-an hektar,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (27/4/2026).
Sementara, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) mencatatkan penurunan kinerja sepanjang kuartal I 2026. Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan SGRO sebesar Rp 1,25 triliun sepanjang kuartal I 2026, turun 23,06% YoY. Laba bersih pun turun 67,7% YoY ke Rp 107,93 miliar di akhir Maret 2026.
Senasib, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) mencatatkan penurunan penjualan 8,54% YoY ke Rp 776,51 miliar di kuartal I 2026. Laba bersih tahun berjalan yang dikantongi JARR sebesar Rp 41,33 miliar periode ini, turun 30,79% YoY.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyebut, perbedaan kinerja para emiten CPO itu disebabkan karena ada perbedaan volume produksi dan efisiensi biaya.
Baca Juga: Laba Astra Tertekan Awal 2026, Begini Penjelasan Bos Astra (ASII)
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menyebut, kenaikan harga CPO lebih dari 12% YTD tidak otomatis mengangkat kinerja para emiten sawit.
Ini lantaran kuartal I merupakan low season, sehingga volume dan biaya lebih dominan.
AALI dan DSNG tetap tumbuh berkat volume solid dan efisiensi, sementara SGRO, JARR, dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) tertekan oleh penurunan produksi dan kenaikan biaya.
“Sementara, TAPG dan LSIP diprediksi cenderung inline dengan harga namun masih terpengaruh musiman, sedangkan SMAR lebih defensif karena eksposur downstream,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).
Untuk di tahun 2026, kata Wafi, sentimen positif di tahun 2026 berasal dari permintaan biodiesel domestik stabil via B40, permintaan India dan China, dan produksi nasional diproyeksi hanya tumbuh 1% sehingga supply terbatas menjaga harga.
“Kenaikan pungutan ekspor adalah sentimen negatif jangka pendek yang bisa menekan margin dan menghilangkan tambahan permintaan domestik,” katanya.
Kebijakan B50 di satu sisi menjaga permintaan domestik dan menopang average selling price (ASP). Namun, di sisi lain, harga CPO yang terlalu tinggi akibat B50 bisa menekan daya beli minyak goreng rumah tangga dan memaksa pemerintah intervensi harga.
Kinerja AALI dan DSNG dinilai paling defensif di tahun ini, dengan skala besar, integrasi baik, dan efisiensi tinggi. Kinerja TAPG dan LSIP juga masih menarik sebagai value play dengan valuasi masih murah.
“Sementara, kinerja SGRO dan NSSS paling rentan karena skala lebih kecil dan produksi lebih sensitif cuaca,” ungkapnya.
Saham AALI punya price to book value (PBV) sebesar 0,63x dan LSIP 0,59x, sehingga masih di bawah nilai buku. Sementara, TAPG memiliki price to earnings ratio (PER) 8,36x dan DSNG 8,69x, sehingga masih jauh di bawah rata-rata sektor consumer atau agribisnis.
“Dividend payout ratio sektor sawit sekitar 36% dengan proyeksi pertumbuhan laba rata-rata 24%,” tuturnya.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk AALI, LSIP, DSNG, dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 12.000 per saham, Rp 2.000 per saham, Rp 1.800 per saham, dan Rp 1.840 per saham.
Baca Juga: IHSG Rebound ke 7.101, Bagaimana Peluangnya pada Perdagangan Besok?
Sukarno melihat, prospek kinerja di tahun 2026 tetap positif ditopang harga tinggi dan permintaan domestik. Namun, kinerja para emiten CPO kemungkinan tidak akan merata akibat siklus produksi dan volatilitas biaya.
Implementasi B50 bisa saja menopang harga lewat penyerapan domestik, tetapi bukan katalis agresif. Risiko tekanan permintaan bisa muncul jika harga terlalu tinggi, sehingga efeknya lebih ke stabilisasi.
“Emiten efisien seperti AALI, TAPG, dan DSNG berpotensi outperform, SMAR diuntungkan hilirisasi, sementara yang berbiaya tinggi dan leverage besar lebih rentan yang menunjukkan polarisasi berbasis kualitas aset,” tuturnya.
Valuasi sektor sawit saat ini dilihat secara mayoritas cenderung masih murah. Strategi terbaik investor tetap selektif pada saham emiten dengan pertumbuhan dan efisiensi yang baik.
Sukarno pun merekomendasikan trading buy untuk DSNG dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













