Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) emas di pasar modal Indonesia pada hari Senin (10/8/2026) diproyeksi menjadi salah satu langkah konkret dalam memperdalam pasar modal sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi bagi masyarakat.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, peluncuran ETF emas tersebut sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang tengah dijalankan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), serta pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Juda, minat terhadap ETF berbasis emas di pasar modal global juga terus meningkat. Pada 2025, aset kelolaan ETF emas global mencapai US$ 559 miliar dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.
Baca Juga: Investor Pasar Modal RI Tembus 30 Juta, Sudah Lampaui Target 2027
“Ini mencerminkan semakin pentingnya instrumen ini di dalam ekosistem investasi global. Jadi, yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menambah satu produk. Kita sedang memperluas pilihan investasi sekaligus memperdalam pasar keuangan kita agar dapat bersaing dengan pasar modal regional maupun global,” terang kata Juda dalam acara peluncuran ETF emas di Main Hal BEI, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Untuk diketahui, ada lima produk ETF emas yang diluncurkan hari ini antara lain: Trimegah Syariah ETF Emas dengan kode XTRA dan harga perdana Rp 248 per unit, serta; Mandiri ETF Emas berkode XMES dengan harga perdana Rp 757 per unit.
Selanjutnya, ada BRI MI Gold ETF Syariah dengan kode XDES dan harga perdana Rp 1.000 per unit; Syailendra ETF Sharia Gold berkode XSGO dengan harga perdana Rp 1.000 per unit, serta; Premier ETF Gold Sharia Indonesia berkode XGLD dengan harga perdana Rp 256 per unit.
Juda bilang, kehadiran ETF emas tidak hanya berkaitan dengan penambahan instrumen investasi baru, tetapi juga menjadi bagian dari agenda yang lebih luas dalam memperkuat pasar keuangan Indonesia. Setidaknya, terdapat tiga pesan utama yang ingin disampaikan pemerintah melalui momentum peluncuran ETF emas tersebut.
Pertama, pasar modal Indonesia perlu terus diperdalam. Di tengah berbagai tantangan global, pasar modal Indonesia dinilai telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sepanjang semester I-2026, lebih dari Rp 125 triliun dana telah berhasil dihimpun melalui pasar modal, sementara jumlah investor telah mencapai 28 juta.
Meski demikian, Juda menilai perkembangan tersebut tidak boleh membuat pelaku pasar berpuas diri. Basis investor masih perlu diperluas, keragaman instrumen ditambah, likuiditas ditingkatkan, serta tata kelola pasar modal diperkuat.
Dalam konteks tersebut, pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang dijalankan OJK dan BI, mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Baca Juga: Data Ekonomi AS Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham Pilihan Pekan Ini
Kedua, ETF emas perlu menjadi bagian dari penguatan ekosistem emas nasional. Juda mengatakan pemerintah telah memulai pengembangan kegiatan usaha bullion atau bank emas di Indonesia sejak 2023.
Peluncuran ETF emas pada hari ini menjadi milestone baru karena menghubungkan ekosistem bullion dengan ekosistem pasar modal. Dengan ekosistem keuangan yang semakin terintegrasi, emas tidak hanya berhenti sebagai aset yang disimpan, tetapi dapat terhubung dengan instrumen investasi dan pasar yang lebih luas.
“Pasar bullion akan dapat terus berkembang, pasar modal akan juga semakin dalam. Pada akhirnya masyarakat akan bisa memperoleh alternatif investasi yang semakin beragam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya,” tutur Juda.
Ketiga, inovasi harus berjalan bersama integritas. Juda menekankan bahwa ETF emas merupakan produk keuangan yang memiliki underlying berupa emas fisik. “Pada akhirnya pasar hanya dapat bekerja bila ada trust. Trust adalah faktor paling fundamental di pasar keuangan,” tegasnya.
Menurut Juda, pengembangan ETF emas harus disertai dengan penguatan tata kelola, akuntabilitas dan transparansi, perlindungan investor, serta pengawasan yang kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
