Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah menutup pekan ini dengan penguatan tipis. Mata uang Garuda berhasil rebound setelah sempat melemah di tengah sesi perdagangan, Kamis (4/7).
Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 16.185 per Jumat (4/7), menguat 10 poin dari hari sebelumnya. Adapun dalam sepekan rupiah menguat tipis 0,32%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berhasil ditutup menguat tipis setelah berhasil rebound karena dolar AS mendapat tekanan kekhawatiran menjelang batas akhir penundaan tarif resiprosikal pada 9 Juli nanti. Ditambah lagi keputusan Kongres AS yang meloloskanRUU ‘megabill’ Trump yang semakin meningkatkan kekhawatiran pasar.
Padahal sebelumnya, rupiah sempat bergerak turun setelah rilis Data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan pada Juni 2025. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan NFP Juni naik menjadi 147.000 atau lebih baik dari ekspektasi pasar yang diperkirakan hanya mencapai 110.000.
Baca Juga: Masih Banyak Tantangan, Rupiah Diramalkan Tembus Rp 16.700 di Kuartal III 2025
Segendang sepenarian, pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi pun melihat penguatan rupiah didorong oleh faktor eksternal atas rencana tarif resiprosikal AS. Trump sendiri sudah mengatakan akan mulai mengirim surat yang menguraikan tarif yang direncanakannya ke sejumlah mitra dagang. Politikus Partai Republik itu menyebut pungutan tarif impor akan berkisar pada 20% - 50% dan akan berlaku mulai 5 Juli.
Hal tersebut menandai perubahan tajam dari klaim sebelumnya bahwa Washington akan menandatangani 90 kesepakatan perdagangan dalam 90 hari. Sejauh ini, AS baru menandatangani perjanjian perdagangan dengan Inggris dan Vietnam, serta perjanjian kerangka kerja dengan Tiongkok.
“Tarif tersebut, jika diberlakukan dalam skala penuh, akan mengganggu perdagangan global dan menekan ekonomi berorientasi ekspor utama di Asia,” ujar Ibrahim, Jumat (4/7).
Selain itu, menurutnya kekhawatiran atas defisit fiskal AS juga semakin meningkat ketika Kongres menyetujui RUU pemotongan pajak besar-besaran Presiden Trump. Kantor Anggaran Kongres yang nonpartisan memperkirakan RUU tersebut akan menambah US$ 3,4 triliun ke utang nasional US$ 36,2 triliun.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,06% ke Rp 16.185 per Dolar AS pada Jumat (4/7)
Sementara di Asia, tanda-tanda membaiknya hubungan perdagangan antara China dan AS semakin jelas setelah Washington mencabut beberapa kontrol ekspor chip di Tiongkok. Tiongkok mengisyaratkan bahwa mereka sedang meninjau lisensi ekspor untuk perusahaan tanah jarang domestik.
Lalu, dari faktor internal, Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal pemangkasan lanjutan suku bunga acuan atau BI-Rate. Sejauh ini Bank Sental telah dua kali menurunkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis point (bps) pada Januari dan Mei 2025 hingga ke level 5,50%.
Ibrahim bilang BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga ke depan. Ini sejalan dengan sejalan dengan proyeksi inflasi yang tetap rendah. Terbukanya ruang pemangkasan BI-Rate diyakini akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.140 – Rp 16.190,” tandasnya.
Selanjutnya: Mantan Mendag Tom Lembong Dituntut 7 Tahun Penjara dalam Kasus Impor Gula
Menarik Dibaca: Cek Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Minggu 6 Juli 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News