Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah yang kembali menembus US$ 100 per barel mulai menambah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya energi dan transportasi berpotensi kembali meningkat dan menekan daya beli.
Mengacu data Bloomberg, Kamis (10/9/2026) pukul 20.32 WIB, harga West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 100,25 per barel, naik 4,37% dibandingkan perdagangan sebelumnya. Sementara Brent naik 4,02% menjadi US$ 105,28 per barel.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan harga minyak terjadi bersamaan dengan munculnya tekanan inflasi dari sisi produsen di Amerika Serikat.
“PPI AS yang lebih panas mencerminkan tekanan inflasi di tingkat rantai pasok industri kembali memanas. Kondisi ini memicu pembelian komoditas sebagai lindung nilai terhadap siklus inflasi baru,” ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb Memanas, Harga Minyak WTI Tembus US$100
Data terbaru menunjukkan Producer Price Index (PPI) AS pada Agustus 2026 naik 5,4% secara tahunan, lebih tinggi dari kenaikan 4,8% pada Juli. Kenaikan tersebut turut didorong oleh lonjakan harga minyak dan gas.
Kombinasi harga minyak di atas US$ 100 dan tekanan inflasi juga menjadi tantangan bagi bank sentral. Jika harga energi bertahan tinggi, ruang pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbatas karena inflasi berisiko kembali meningkat.
Wahyu mengatakan, kondisi tersebut juga perlu diwaspadai karena harga minyak yang terlalu tinggi pada akhirnya dapat menekan permintaan.
“Pengetatan moneter Federal Reserve dan harga minyak di atas US$ 100 berisiko memicu demand destruction pada kuartal terakhir, terutama jika biaya energi terus menekan daya beli industri,” kata Wahyu.
Demand destruction terjadi ketika harga minyak yang terlalu tinggi membuat konsumen maupun pelaku usaha mengurangi konsumsi energi. Kondisi ini pada akhirnya dapat menjadi pembatas bagi kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Baca Juga: Wall Street Melemah, Inflasi yang Tinggi Meningkatkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Meski begitu, Wahyu memperkirakan harga minyak masih akan bergerak volatil hingga akhir tahun. Untuk WTI, harga diproyeksikan berada di kisaran US$ 80-US$ 110 per barel. Dalam skenario ekstrem, WTI berpotensi mencapai US$ 112-US$ 118 per barel.
Sementara Brent diperkirakan bergerak di kisaran US$ 85-US$ 115 per barel. Jika terjadi penutupan rute maritim, harga Brent berpeluang menguji US$ 120-US$ 126 per barel.
Dengan harga minyak yang sudah kembali memasuki level tiga digit, pasar kini tidak hanya mencermati risiko pasokan, tetapi juga seberapa lama ekonomi global mampu menyerap kenaikan biaya energi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














