kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Marketing Sales SMRA Naik 17% di Semester I-2026, Target Harga Justru Dipangkas


Jumat, 24 Juli 2026 / 15:59 WIB
Marketing Sales SMRA Naik 17% di Semester I-2026, Target Harga Justru Dipangkas
ILUSTRASI. Summarecon (Dok Summarecon Bogor/Summarecon)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan kinerja pra-penjualan (pre-sales) yang solid pada semester I 2026 di tengah kondisi sektor properti yang masih menghadapi permintaan selektif. Berdasarkan riset Maybank Sekuritas Indonesia, pra-penjualan SMRA mencapai Rp 2,5 triliun atau tumbuh 17% secara tahunan. 

Realisasi ini melampaui ekspektasi analis maupun target perusahaan. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim dalam riset 23 Juli 2026 menilai pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kuatnya penjualan di kawasan Summarecon Serpong, sekaligus mulai membaiknya daya tarik sejumlah township baru yang dikembangkan SMRA.

“SMRA berada pada posisi yang baik di tengah kondisi permintaan properti yang semakin selektif. Permintaan yang tetap kuat dari segmen menengah hingga atas di kawasan Greater Jakarta mendukung performa township unggulan Serpong,” ujar Kevin.

Baca Juga: Sinyal Bearish Menguat, Harga Emas Diproyeksi Lanjut Tertekan Pekan Depan

Menurut Kevin, momentum pertumbuhan pra-penjualan yang kuat menjadi alasan Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham SMRA. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp 470 per saham menjadi Rp 520 per saham karena analis menerapkan diskon RNAV (real net asset value) lebih tinggi, yakni 85% dari sebelumnya 80%, untuk mencerminkan meningkatnya premi risiko ekuitas akibat sentimen sektor properti yang masih lemah.

Kevin menyebut, kawasan Serpong masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan SMRA. Pada semester I 2026, pra-penjualan Serpong meningkat 19% YoY meski perusahaan belum meluncurkan proyek baru sepanjang tahun berjalan.

Kinerja SMRA menunjukkan permintaan yang tetap kuat terhadap proyek eksisting, terutama klaster Finore dan Bellefont East yang diluncurkan tahun lalu. Kedua proyek tersebut menyasar segmen menengah hingga atas dengan kisaran harga sekitar Rp 3,5 miliar hingga Rp 8 miliar per unit.

Selain itu, insentif pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (VAT exemption) juga masih menjadi pendorong permintaan. Kontribusi penjualan yang mendapatkan fasilitas tersebut mencapai sekitar Rp 1 triliun atau sekitar 40% dari total pra-penjualan semester I 2026.

Di sisi lain, kawasan Bandung mulai menunjukkan peningkatan minat pasar. Pra-penjualan Bandung tumbuh 63% yoy, didorong oleh permintaan yang lebih kuat terhadap klaster Ivora dan Genova dengan kisaran harga Rp 1,5 miliar hingga Rp 3 miliar per unit. Pengembangan township yang semakin cepat turut mendukung peningkatan penjualan di wilayah tersebut.

Sepanjang tahun berjalan, SMRA memang baru meluncurkan sejumlah proyek berskala kecil di beberapa lokasi, seperti Centeria Loft di Bogor, Diamond Commercial di Bandung, Rinoka di Makassar, serta Emerald Commercial di Crown Gading.

Total kontribusi peluncuran baru tersebut mencapai sekitar Rp 190 miliar atau hanya sekitar 7% dari pra-penjualan semester I 2026. Tingkat penyerapan di Bandung dan Bogor mencapai 100%, sementara Crown Gading mencatat tingkat penjualan sekitar 50%. Adapun Makassar mengalami penyerapan yang lebih lambat.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.963 Per Dolar AS Hari Ini (24/7), Asia Mixed

Namun, Kevin melihat prospek pra-penjualan SMRA masih terbuka seiring adanya pipeline peluncuran yang lebih kuat pada semester II 2026. Beberapa township utama seperti Serpong dan Bogor akan menjadi fokus ekspansi, ditambah agenda tahunan Summarecon Expo pada kuartal III atau IV 2026 yang diperkirakan dapat menopang momentum penjualan.

Dari sisi keuangan, porsi pembayaran tunai masih mendominasi pra-penjualan SMRA, yakni sebesar 68%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir sebesar 58%.

Menurut Kevin, tingginya porsi penjualan dengan skema cicilan tunai memang meningkatkan kebutuhan modal kerja perusahaan karena beban pembiayaan lebih banyak ditanggung oleh pengembang dibandingkan skema pembelian dengan dukungan kredit perbankan.

“Kondisi ini dapat memberikan tekanan terhadap arus kas dan meningkatkan kebutuhan utang, namun tingkat net gearing SMRA masih berada pada level yang dapat dikelola, yakni 63%,” jelas Kevin.

Ia menambahkan, rekam jejak kuat SMRA dalam mengembangkan township serta pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) akan tetap menjadi faktor pendukung bagi ketahanan neraca keuangan perusahaan.

Dengan kombinasi pertumbuhan pra-penjualan, kekuatan kawasan Serpong, serta pipeline proyek baru pada paruh kedua 2026, SMRA dinilai masih memiliki peluang mempertahankan momentum pertumbuhan meski industri properti berada dalam fase permintaan yang lebih selektif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×