Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Platform Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), Makmur, mencatat jumlah investor yang membuka rekening reksadana melalui platformnya saat ini telah mencapai sekitar 700.000 investor.
Dari jumlah tersebut, sekitar 100.000 investor tercatat masih aktif bertransaksi dan berinteraksi dengan platform.
Chief Investment Officer (CIO) Makmur (PT Inovasi Finansial Teknologi) Stefanus Dennis Winarto mengatakan, jumlah tersebut tercermin dari Investor Fund Unit Account (IFUA), yakni rekening reksadana yang dibuat ketika investor membuka akun reksadana.
“Kalau dari segi IFUA sendiri kita sudah di 700.000 investor. Kalau yang benar-benar aktif, mungkin hampir 100.000,” ujar Stefanus dalam Media Gathering Makmur di kantornya, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Dana Kelolaan Reksadana Tertekan, Investor Beralih ke Instrumen Konservatif
Menurut dia, investor yang dikategorikan aktif merupakan investor yang masih memiliki saldo, masih login, serta masih melakukan engagement pada platform Makmur.
Di sisi lain, Makmur membagi investor ke dalam sejumlah segmen, termasuk investor ritel dan high net worth individual (HNWI).
Untuk investor HNWI, Makmur memiliki segmen premium yang dibagi menjadi Makmur Priority dan Makmur Premier.
Makmur Priority ditujukan bagi investor dengan asset under management (AUM) Rp 1 miliar-Rp 3 miliar. Sementara itu, Makmur Premier mencakup investor dengan AUM di atas Rp 3 miliar.
Stefanus mengatakan, investor pada segmen premium masih menunjukkan tren akumulasi. Namun, pelemahan rupiah yang cukup signifikan pada Maret hingga Juni 2026 turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset yang berdenominasi rupiah.
Baca Juga: Kinerja Reksadana September 2026 Beragam, Mana yang Masih Tumbuh?
Meski demikian, pelemahan rupiah membuat sebagian investor premium mulai mengurangi eksposur pada aset berdenominasi rupiah. Menurut Stefanus, sebagian investor kemudian memindahkan dananya ke aset berdenominasi dolar AS.
“Dari Maret, April, Mei, Juni, itu mereka kelihatannya lumayan lose confidence di aset berdenominasi rupiah. Akhirnya mereka banyak yang tukar, pindahin ke reksadananya ke USD,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














