Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus dana asing keluar dari pasar saham Indonesia masih menjadi perhatian. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, investor asing mencatatkan net sell di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp 106,9 triliun atau sekitar 1% dari kapitalisasi pasar.
Analis PT Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset 6 Oktober 2026 mengatakan, arus keluar tersebut melanjutkan tren yang telah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Sejak 2024, total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp 179 triliun atau setara US$ 10 miliar.
Nilai tersebut bahkan telah melampaui outflow asing selama periode Covid-19 yang tercatat sekitar Rp 61 triliun.
Baca Juga: IHSG Melesat 1,21% ke 6.192, Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing, Selasa (6/10)
Jovent mengatakan, IHSG mengalami arus keluar dana asing yang signifikan sepanjang sembilan bulan di 2026, mencapai Rp 106,9 triliun atau setara 1% dari kapitalisasi pasar.
Sektor perbankan masih menjadi sumber utama tekanan dari investor asing. Sepanjang sembilan bulan di 2026, bank mencatatkan net outflow asing sebesar Rp 62,8 triliun.
Meski demikian, tekanan asing pada sektor perbankan mulai mereda pada kuartal III 2026. Pada periode tersebut, outflow asing di sektor bank hanya sekitar Rp 1,6 triliun.
Setelah perbankan, sektor utilities mencatatkan outflow asing sekitar Rp 9,4 triliun, diikuti batubara sebesar Rp 8,4 triliun dan consumer staples sebesar Rp 4,1 triliun.
Dana Domestik Angkat Pasar
Menariknya, keluarnya dana asing tidak serta-merta membuat seluruh sektor saham mengalami tekanan pada kuartal III 2026.
Jovent mencatat, sebagian besar sektor justru membukukan kenaikan harga saham secara kuartalan pada kuartal III-2026. Penguatan terutama terjadi pada sektor komoditas.
Baca Juga: Energi Mega Persada (ENRG) Gelontorkan Investasi US$ 200 Juta di HighPeak Energy
Saham sektor CPO mencatat kenaikan sekitar 32,3% secara kuartalan, disusul batubara 31% dan logam 27%. Sebaliknya, teknologi dan properti menjadi sektor dengan kinerja terlemah pada periode tersebut.
Menurut Jovent, penguatan saham komoditas tersebut terutama ditopang oleh kinerja laba yang solid. Laba sektor batubara tumbuh sekitar 80% secara kuartalan meski masih turun 11% secara tahunan.
Sementara itu, laba sektor CPO tumbuh 49% secara kuartalan dan 16% secara tahunan. Laba sektor logam juga meningkat 2% secara kuartalan dan melonjak 53% secara tahunan.
Perbankan juga mencatat kenaikan harga saham sekitar 8% secara kuartalan. Kondisi tersebut terjadi ketika laba perbankan masih tumbuh 16% secara tahunan pada kuartal II 2026, meski turun 2% secara kuartalan.
Sebaliknya, sektor dengan pertumbuhan laba yang lebih lemah juga mengalami tekanan pada harga saham. Sektor staples, misalnya, hanya mencatat pertumbuhan laba sekitar 4% secara tahunan dan harga sahamnya turun 6% secara kuartalan.
Sektor poultry bahkan mengalami penurunan laba sekitar 59% secara kuartalan dan harga sahamnya terkoreksi sekitar 8%.
Jovent menilai, kinerja laba masih menjadi faktor utama yang menentukan sektor mana yang mengalami penguatan maupun pelemahan.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa fundamental perusahaan, terutama pertumbuhan laba, masih memainkan peran penting dalam pergerakan harga saham. Dengan demikian, pergerakan pasar tidak sepenuhnya ditentukan oleh sentimen.
Baca Juga: Wall Street Menguat, S&P 500 Cetak Rekor Tertinggi Seiring Berlanjutnya Reli Saham AI
Jovent juga mencatat, penguatan pasar pada kuartal III 2026 sepenuhnya ditopang oleh aliran dana domestik. Pasalnya, investor asing masih membukukan outflow sekitar Rp 19 triliun atau sekitar US$ 1,1 miliar pada periode tersebut.
Hanya sektor rokok yang mencatatkan inflow asing sekitar Rp 700 miliar pada kuartal III-2026. Namun, harga saham sektor tersebut tetap melemah sekitar 4% secara kuartalan meski laba secara kuartalan relatif datar.
Indo Premier menduga pelemahan tersebut berkaitan dengan perubahan di Kementerian Keuangan yang dinilai investor berpotensi membawa kebijakan lebih ketat terhadap sektor tembakau.
Di tengah derasnya dana asing yang keluar, valuasi pasar saham Indonesia sebenarnya telah berada di level yang relatif rendah.
Jovent mencatat IHSG saat ini diperdagangkan pada sekitar 10 kali price to earnings ratio (P/E), jauh di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 16,7 kali.
Sementara itu, price to book value (P/B) IHSG berada di sekitar 1,6 kali, dibandingkan rata-rata 10 tahun sebesar 2,2 kali.
Kondisi serupa terlihat di sektor perbankan. Saham bank saat ini diperdagangkan pada sekitar 1,5 kali P/B berdasarkan estimasi 2026 dan 8,1 kali P/E. Angka tersebut berada di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali dan 14,3 kali.
Namun, valuasi yang relatif murah belum cukup untuk mengembalikan minat investor asing.
Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Ekspansi ke AS, Tanam Investasi US$ 200 Juta di HighPeak Energy
Jovent mencatat, posisi investor asing masih berada pada level underweight dibandingkan bobotnya dalam indeks MSCI pada sektor perbankan, telekomunikasi dan otomotif.
Berdasarkan komunikasi dengan sejumlah investor asing, terdapat beberapa persoalan yang masih perlu diselesaikan sebelum investor asing meningkatkan eksposurnya terhadap pasar Indonesia.
Pertama, masih terdapat persoalan terkait klasifikasi MSCI. Kedua, investor masih mempertanyakan stabilitas kebijakan setelah pengumuman DSI, meskipun implementasinya dinilai berjalan lebih baik dari perkiraan.
Ketiga, investor mencermati risiko nilai tukar dan stabilitas fiskal di tengah harga minyak yang masih tinggi.
Meski valuasi saham Indonesia telah berada di bawah rata-rata historis, kembalinya dana asing masih bergantung pada penyelesaian sejumlah persoalan tersebut. Sementara itu, aliran dana domestik dan pertumbuhan laba perusahaan masih menjadi faktor penting yang menopang pergerakan sejumlah sektor di pasar saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














