Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi faktor eksternal, mulai dari kebijakan moneter bank sentral AS yang belum sepenuhnya akomodatif, penguatan indeks dolar AS akibat divergensi pertumbuhan ekonomi global, hingga arus modal keluar dari pasar negara berkembang.
Baca Juga: WIKA Gedung (WEGE) Garap Gedung DPR II IKN Rp 1,96 Triliun, Begini Progresnya
Kondisi tersebut mendorong investor untuk meninjau ulang komposisi portofolio mereka, termasuk mempertimbangkan eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
Diversifikasi valuta asing kini tidak lagi identik dengan aksi membeli dolar saat kurs bergejolak. Semakin banyak investor yang mulai memasukkan aset berbasis dolar ke dalam perencanaan keuangan jangka menengah dan panjang, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan finansial terkait mata uang AS.
Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah instrumen investasi berbasis dolar yang dikelola secara profesional.
Melalui instrumen tersebut, investor dapat memperoleh eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS tanpa harus mengelola investasi secara langsung.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.860 Per Dolar AS Hari Ini (12/6), Sepekan Naik 0,98%
Kepala Divisi Corporate Secretary & Communication PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) Bagus Setyawan menjelaskan, volatilitas nilai tukar tidak selalu harus dipandang sebagai risiko. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengevaluasi kembali alokasi aset yang dimiliki.
"Ketika volatilitas nilai tukar meningkat, kami melihat investor mulai lebih aktif mengevaluasi komposisi asetnya. Fokusnya bukan hanya mengelola risiko, tetapi juga mencari peluang diversifikasi yang dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio dalam berbagai kondisi pasar," ujar Bagus dalam keterangannya Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, eksposur terhadap dolar AS kini semakin banyak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang, bukan sekadar untuk memanfaatkan pergerakan kurs dalam jangka pendek.
"Eksposur terhadap mata uang yang berbeda dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Bagi sebagian investor, hal ini juga berkaitan dengan kebutuhan keuangan di masa depan yang memiliki keterkaitan dengan dolar AS," katanya.
Baca Juga: Gozco Plantations (GZCO) Absen Bagi Dividen 2025, Ini Alasannya
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, BRI-MI menawarkan produk reksadana pasar uang berbasis dolar AS, yakni BRI Seruni Likuid Dolar (BSLD).
Produk ini berinvestasi pada instrumen pasar uang dan surat utang berdenominasi dolar AS dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.
Sejak diluncurkan pada 10 Juli 2025 hingga 8 Juni 2026, BSLD mencatatkan imbal hasil sebesar 3,14% dalam denominasi dolar AS.
Jika dikonversi ke rupiah, imbal hasilnya mencapai 15,54%, ditopang oleh apresiasi dolar AS terhadap rupiah selama periode tersebut.
Menurut Bagus, fokus investasi pada instrumen jangka pendek membuat BSLD memiliki tingkat likuiditas yang relatif tinggi dibandingkan instrumen dolar berjangka panjang.
"Instrumen pasar uang berbasis dolar dapat menjadi salah satu pilihan bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas dalam pengelolaan dana sekaligus ingin membangun eksposur terhadap dolar AS secara bertahap," ujarnya.
Baca Juga: Daya Intiguna (MDIY) Tebar Dividen Perdana, Begini Kata Analis
Di tengah volatilitas nilai tukar yang masih membayangi pasar keuangan, instrumen berbasis dolar AS dinilai dapat menjadi pelengkap strategi diversifikasi portofolio, baik untuk tujuan investasi jangka menengah maupun jangka panjang.
"Bagi investor yang ingin memiliki eksposur terhadap dolar AS dengan risiko yang terukur dan sesuai kebutuhan likuiditas, instrumen pasar uang dolar dapat menjadi titik awal yang relevan. Yang terpenting, setiap keputusan investasi harus tetap disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing," tutup Bagus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













