Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Noverius Laoli
Senada, Nafan menilai penurunan laba bersih lebih banyak dipengaruhi faktor non-operasional dan kenaikan biaya input ketimbang pelemahan fundamental bisnis.
Rugi selisih kurs yang belum terealisasi akibat depresiasi rupiah turut membebani laporan keuangan, terutama terkait kewajiban valuta asing dan obligasi global ICBP pasca-akuisisi Pinehill.
Baca Juga: Diakuisisi Asing, Analis Rekomendasi Beli Saham Blue Chip Ini, Target Harga Tinggi!
Menurut Nafan, prospek INDF dan ICBP masih ditopang karakteristik bisnis barang konsumsi (consumer staples) yang relatif defensif serta permintaan pasar yang cenderung stabil.
Memasuki kuartal IV-2026 hingga 2027, stabilisasi rupiah, normalisasi harga bahan baku, dan peningkatan efisiensi operasional berpeluang memperbaiki margin keuntungan.
Momentum konsumsi Natal dan Tahun Baru, belanja pemerintah, serta potensi penurunan biaya pendanaan seiring pelonggaran suku bunga juga dapat menjadi penopang kinerja.
Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati risiko volatilitas nilai tukar, kenaikan harga komoditas global, biaya logistik, dan pelemahan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Laba Grup Indofood (INDF) dan (ICBP) Berlawanan Arah, Cek Rekomendasi Sahamnya
Persaingan industri yang ketat juga dapat membatasi kemampuan perusahaan meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.
Nafan menilai tekanan yang terjadi saat ini belum mencerminkan pelemahan fundamental kedua perusahaan.
"Secara keseluruhan, koreksi laba saat ini lebih dipicu oleh faktor moneter eksternal dibanding pelemahan fundamental, sehingga prospek jangka panjang kedua emiten tetap tergolong solid," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














