Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih direkomendasikan beli oleh analis meski laba bersih kedua emiten terkoreksi hingga kuartal III-2026.
Solidnya bisnis inti, prospek konsumsi domestik, serta peluang normalisasi biaya produksi menjadi alasan rekomendasi positif tersebut.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, merekomendasikan trading buy saham ICBP dengan target harga Rp 6.100. Sementara itu, saham INDF direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.800–Rp 6.900.
Adapun Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, merekomendasikan akumulasi beli saham ICBP dengan target harga Rp 7.575 dan INDF sebesar Rp 7.675.
Baca Juga: Harga Saham Naik 34%, Analis Tetap Rekomendasi Beli Saham Tambang Batubara BUMN Ini
Rekomendasi tersebut didukung kinerja bisnis inti kedua perusahaan yang masih tumbuh, meskipun kenaikan pendapatan belum mampu mendorong pertumbuhan laba bersih.
Hingga September 2026, INDF membukukan pendapatan Rp 101,49 triliun, tumbuh sekitar 12% secara tahunan. Sementara itu, penjualan ICBP meningkat 15% menjadi Rp 64,45 triliun.
Namun, laba bersih INDF turun tipis 0,19% menjadi sekitar Rp 7,8 triliun. Penurunan lebih dalam dialami ICBP, dengan laba bersih merosot 13,25% menjadi Rp 6,16 triliun.
Azis menjelaskan, tekanan laba terutama berasal dari kenaikan harga bahan baku, kemasan, dan biaya logistik. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga meningkatkan beban selisih kurs, terutama pada ICBP.
Rugi selisih kurs ICBP meningkat menjadi Rp 3,35 triliun dari sebelumnya Rp 1,43 triliun.
Baca Juga: Laba Erajaya (ERAA) Melonjak 123%, 16 Analis Kompak Rekomendasikan Beli
Selain itu, kenaikan harga gandum, minyak nabati, dan bahan kemasan menekan margin laba usaha ICBP menjadi 21,2% dari sebelumnya 22,6%.
Meski demikian, profitabilitas bisnis inti kedua emiten masih menunjukkan pertumbuhan.
"Core profit INDF dan ICBP masih tumbuh masing-masing 11% dan 5%, sehingga kinerja bisnis inti sebenarnya masih cukup solid," ujar Azis dalam wawancara tertulis, Senin (2/11/2026).














