kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.153   -6,00   -0,03%
  • IDX 5.097   39,78   0,79%
  • KOMPAS100 657   5,57   0,85%
  • LQ45 518   2,72   0,53%
  • ISSI 170   0,84   0,50%
  • IDX30 291   1,43   0,49%
  • IDXHIDIV20 391   -0,27   -0,07%
  • IDX80 76   0,57   0,76%
  • IDXV30 109   -0,28   -0,25%
  • IDXQ30 97   -0,51   -0,52%

Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Usai Iran Buka Peluang Negosiasi Damai


Selasa, 03 November 2026 / 05:19 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 7% Usai Iran Buka Peluang Negosiasi Damai
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang (Dok/DW.com)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 7% pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penurunan ini dipicu meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS), yang berpotensi meredakan konflik di Timur Tengah dan memulihkan pasokan minyak.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman turun US$ 8,66 atau 7,63% menjadi US$ 104,77 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi US$ 7,66 atau 7,36% ke US$ 96,46 per barel.

Optimisme pasar muncul setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Muncul Kabar Gencatan Senjata AS-Iran

Pezeshkian menyatakan Teheran akan berupaya menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah Iran.

Selain itu, pejabat Iran dan Qatar telah menggelar pembicaraan selama beberapa hari dengan tujuan mengakhiri perang. Pada Senin malam, mediator Qatar juga bertolak ke Teheran untuk bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi guna membahas kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran.

Presiden AS Donald Trump turut menyampaikan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Menurut dia, kesepakatan tersebut berpeluang terwujud.

Analis Raymond James Pavel Molchanov mengatakan, tanda-tanda kemajuan dalam perundingan AS-Iran telah menekan harga minyak. Meski demikian, pasar masih perlu bersikap hati-hati mengingat sejumlah upaya diplomasi sebelumnya belum membuahkan hasil.

"Pasar minyak masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan berita dari Timur Tengah," ujar analis UBS Giovanni Staunovo.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Menurut dia, kekhawatiran terhadap eskalasi konflik sempat mendorong harga minyak naik pada pekan sebelumnya. Namun, harga kembali merosot pada awal pekan ini seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran.

Sebelumnya, harga Brent mengakhiri Oktober di level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi kekhawatiran konflik Timur Tengah kembali meningkat setelah pemilihan paruh waktu AS pada Selasa.

Di sisi lain, perang Iran yang pecah pada akhir Februari telah menguras persediaan minyak global. Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasokan minyak dunia.

CEO perusahaan minyak milik negara Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Al Jaber, mengatakan persediaan minyak global telah terkuras hampir 1 miliar barel sejak perang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Meski demikian, ekspor minyak Arab Saudi tercatat meningkat pada Oktober dibandingkan September, berdasarkan data dua dari tiga perusahaan pelacakan kapal tanker. Kenaikan tersebut terjadi meskipun infrastruktur energi Saudi menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 2% Lebih Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Ke depan, risiko kenaikan harga minyak masih terbuka apabila gangguan pasokan kembali memburuk.

Goldman Sachs memperkirakan harga Brent berpotensi melonjak hingga US$ 140 per barel pada 2027 jika produksi minyak negara-negara Teluk tetap berada 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025.

Bank tersebut menilai peningkatan serangan terhadap kapal tanker, kerusakan infrastruktur minyak, serta risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan masih menjadi faktor utama yang dapat mendorong kenaikan harga minyak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×