Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga logam mulia kompak terkoreksi sepanjang Oktober 2026. Di tengah tekanan kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi suku bunga tinggi, paladium mencatatkan penurunan paling dalam, disusul platinum dan perak. Sementara itu, harga emas relatif lebih mampu menahan tekanan.
Mengutip data yang disampaikan Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono, harga paladium turun 18,39% secara bulanan menjadi US$ 983,50 per ons troi. Platinum menyusul dengan koreksi 15,11% ke US$ 1.452,90 per ons troi, sedangkan perak melemah 14,72% ke US$ 51,18 per ons troi.
Adapun harga emas terkoreksi sekitar 3,78%-4,34% sepanjang Oktober 2026. Koreksi yang lebih terbatas ini menunjukkan emas masih memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan logam mulia lainnya.
Wahyu bilang, tekanan terhadap harga emas salah satunya datang dari kenaikan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5%. Kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang dalam memegang emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil secara berkala.
“Setelah emas mencatatkan reli masif hingga level tertinggi historis di atas US$ 5.500, pelaku pasar institusional memanfaatkan menguatnya indeks Dolar AS untuk merealisasikan keuntungan teknikal,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Harga Emas Coba Bangkit, Arah Suku Bunga The Fed Jadi Penentu
Senada, Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyebut, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi sentimen yang menekan seluruh logam mulia. Inflasi AS yang masih tinggi membuat peluang pengetatan kebijakan moneter kembali diperhitungkan pasar.
Menurut Sutopo, kenaikan harga minyak di tengah konflik Iran turut menjaga tekanan inflasi. Situasi tersebut membuat aset yang tidak menghasilkan bunga menjadi kurang menarik ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada pada level tinggi.
“Emas, perak, platinum, dan paladium tidak memberi bunga, jadi suku bunga dan imbal hasil obligasi yang tinggi membuatnya kurang menarik,” kata Sutopo.
Meski sama-sama tertekan, koreksi perak, platinum, dan paladium lebih dalam dibandingkan emas. Sutopo bilang, ketiga logam tersebut memiliki pasar yang relatif lebih kecil dan pergerakan harga yang lebih spekulatif. Selain itu, permintaan industri membuat harganya lebih sensitif terhadap kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Sebaliknya, emas masih mendapat dukungan dari pembelian bank sentral dan statusnya sebagai aset lindung nilai. Faktor tersebut membuat harga emas relatif lebih tahan ketika sentimen pasar memburuk.
Memasuki awal November, melansir bloomberg (2/11/2026) pukul 20.15 WIB, harga emas spot tercatat sebesar US$ 3.900,58 per ons troi, naik 0,67% dibandingkan hari sebelumnya. Harga perak menguat 1,89% ke US$ 50,03 per ons troi, sedangkan platinum naik tipis 0,04% ke US$ 1.435,78 per ons troi. Berbeda dengan ketiganya, paladium melemah 0,54% ke US$ 973,32 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok 6,80% pada Oktober, Masih Bisa Rebound atau Lanjut Melemah?
Ke depan, Wahyu memperkirakan harga emas bergerak dalam rentang US$ 3.700-US$ 4.800 per ons troi hingga akhir 2026. Untuk perak, harganya diproyeksikan berada di kisaran US$ 35-US$ 60 per ons troi, platinum US$ 1.200-US$ 1.550 per ons troi, dan paladium US$ 700-US$ 1.100 per ons troi.
Sementara itu, Sutopo memproyeksikan harga emas berpeluang mencapai US$ 4.300 per ons troi pada akhir kuartal, selama level support US$ 3.950 per ons troi tidak ditembus. Adapun perak diperkirakan menuju US$ 56 per ons troi, sedangkan platinum dan paladium masing-masing berpotensi berada di kisaran US$ 1.300 dan US$ 900 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














