kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.007   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.233   -3,06   -0,05%
  • KOMPAS100 819   1,94   0,24%
  • LQ45 623   1,55   0,25%
  • ISSI 215   0,23   0,11%
  • IDX30 350   -0,18   -0,05%
  • IDXHIDIV20 429   -0,76   -0,18%
  • IDX80 94   0,28   0,30%
  • IDXV30 118   0,26   0,22%
  • IDXQ30 112   -0,18   -0,16%

Dampak Pelemahan Rupiah ke UNVR, MYOR, ICBP, dan MAPI: Cek Rekomendasi Sahamnya


Senin, 03 Agustus 2026 / 08:48 WIB
Dampak Pelemahan Rupiah ke UNVR, MYOR, ICBP, dan MAPI: Cek Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Para analis memberikan rekomendasi saham dan prospek untuk emiten UNVR, MYOR, ICBP dan MAPI saat rupiah melemah (KONTAN/Daniel Prabowo)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga kembali bergerak di atas level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan bagi sejumlah emiten, terutama yang masih bergantung pada bahan baku maupun barang impor.

Beberapa emiten seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), berpotensi mengalami kenaikan biaya yang berpotensi dapat menggerus margin laba.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, pelemahan rupiah tentu menjadi tantangan, terutama yang memiliki eksposur impor cukup besar terhadap bahan baku, bahan penolong, maupun produk jadi. 

“Kenaikan biaya dalam denominasi dolar AS berpotensi menekan margin laba apabila perusahaan tidak dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen (pass-through pricing),” ungkap nafan kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (3/8): Naik Rp 7.000 Jadi Rp 2.610.000 Per Gram

Namun demikian, Nafan bilang, dampaknya tidak akan sama bagi seluruh emiten. Perusahaan dengan posisi kas yang kuat, lindung nilai (hedging) yang baik, skala ekonomi besar, serta kekuatan merek (pricing power) umumnya lebih mampu menjaga profitabilitas dibandingkan perusahaan yang daya tawarnya lebih terbatas.

Menurut Nafan, di antara sejumlah emiten itu, MAPI menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah. Pasalnya, sebagian besar merek yang dipasarkan MAPI berasal dari luar negeri sehingga biaya pembelian barang dagangannya masih memiliki eksposur valuta asing yang cukup besar.

Kendati demikian, per Juni 2026, MAPI membukukan pendapatan bersih Rp 24,16 triliun atau naik 23,36% secara tahunan. Laba bersih MAPI juga meningkat mencapai Rp 1,21 triliun di paruh pertama 2026. Ini tumbuh 26,49% secara tahunan dari Rp 960,92 miliar.

Sementara itu, MYOR menurut Nafan, menghadapi tekanan dari sisi bahan baku impor seperti kakao, kopi, susu, gula rafinasi, hingga material kemasan tertentu.

MYOR mencatatkan, pertumbuhan penjualan 0,7% YoY menjadi Rp 17,92 triliun, dari Rp 17,80 triliun pada semester I-2025. Sejalan dengan itu, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 46,53% YoY menjadi Rp 1,71 triliun, dibandingkan Rp 1,17 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ada pun ICBP masih bergantung akan sejumlah bahan baku impor, terutama gandum. Hal ini mulai tecermin dari kinerja keuangan hingga enam bulan pertama 2026. Laba bersih ICBP tercatat sebesar Rp 3,7 triliun, nilai ini turun 33% YoY. Sementara penjualan neto ICBP tumbuh 11% ToY menjadi Rp 41,86 triliun.

Namun, Nafan menilai skala usaha yang besar, efisiensi operasional, kemampuan melakukan penyesuaian harga secara bertahap, serta diversifikasi bisnis membuat tekanan ICBP akibat pelemahan kurs relatif lebih terkendali.

Di sisi lain, UNVR juga menghadapi kenaikan biaya input impor. Kendati demikian, kekuatan merek-merek unggulannya memungkinkan perusahaan melakukan penyesuaian harga dengan lebih fleksibel. 

Baca Juga: Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) Cetak Kinerja Moncer di Semester I-2026

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp 16,89 triliun, meningkat 7,05% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 37,7% YoY menjadi Rp 2,97 triliun.

"Tantangan terbesar UNVR saat ini justru lebih banyak berasal dari persaingan industri dan perubahan preferensi konsumen dibandingkan semata-mata faktor kurs," jelas Nafan.

Di sisi lain, Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia Benny Kurniawan bilang, jika ia menyadari bahwa minat investor terhadap saham sektor konsumen masih rendah sepanjang tahun ini. 

Namun, katanya ada peluang untuk mulai mengakumulasi saham-saham berkualitas sebagai investasi jangka panjang. Valuasi sektor konsumen telah mengalami de-rating sejalan dengan penurunan valuasi pasar secara keseluruhan, sekitar 30% YTD, meskipun revisi penurunan laba emiten dalam cakupan kami relatif terbatas.

“Kami meyakini sektor konsumen akan menjadi salah satu penerima manfaat apabila terjadi reli pasar yang lebih luas, sehingga investor disarankan mulai mengambil posisi secara selektif,” ujar Benny.

Benny menjagokan saham ICBP, sebab didukung oleh valuasinya yang menarik untuk produsen mi instan terbesar di dunia, kemudian tekanan biaya produksi, terutama dari harga minyak sawit (CPO) dan biaya kemasan, diperkirakan mulai mereda.

Sementara Analis Sucor Sekuritas, Hansen Christian Seng, bilang MYOR masih didukung oleh faktor di mana 40% penjualan ekspor MYOR menggunakan denominasi dolar AS, sehingga memberikan lindung nilai serta proses pengurangan utang yang terus berjalan sehingga memperkuat struktur neraca.

 

Dari sisi rekomendasi saham, pilihan utama Benny dalam ICBP untuk overweight dengan target harga Rp 7.900 per saham. Sementara ia menurunkan rekomendasi MAPI menjadi neutral dengan target harga Rp 1.270 per saham, serta mempertahankan rekomendasi underweight UNVR dengan target harga Rp 1.240 per saham.

Kemudian Nafan memberikan rekomendasi untuk add ICBP dengan target harga Rp 7.700 dan juga add UNVR dengan target harga Rp 1.995 per saham. Hansen merekomendasikan buy MYOR tapi menurunkan target harga saham MYOR menjadi Rp 2.050 per saham, dari sebelumnya Rp 2.450 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×