Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat investor perlu mempertimbangkan diversifikasi aset ke mata uang lain. Sejumlah mata uang Asia, seperti dolar Singapura, yuan China, dan ringgit Malaysia, dapat menjadi alternatif untuk mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
Mengacu data Bloomberg pada Senin (2/11/2026) pukul 19.45 WIB, rupiah melemah 0,05% ke level Rp 18.156 per dolar AS. Pada perdagangan yang sama, sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap greenback. Won Korea Selatan menguat 0,64% dengan USD/KRW turun ke 1.342,48.
Dolar Singapura menguat 0,08% dengan USD/SGD berada di 1,27, sedangkan ringgit Malaysia menguat 0,34% dengan USD/MYR turun ke 4,07.
Yen Jepang juga menguat 0,23% dengan USD/JPY turun ke 157,92. Sebaliknya, yuan China melemah 0,08% dengan USD/CNY naik ke 6,64.
Baca Juga: Harga Logam Mulia Kompak Terkoreksi pada Oktober, Paladium Paling Tertekan
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, investor dapat mempertimbangkan mata uang negara yang memiliki fundamental eksternal kuat serta didukung kebijakan moneter yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam hal ini, dolar Singapura menjadi salah satu pilihan karena memiliki volatilitas relatif rendah dibandingkan mata uang regional lainnya.
"Dolar Singapura (SGD) adalah pusat stabilitas regional, didukung oleh kebijakan moneter berbasis nilai tukar (S$NEER) yang sangat efektif meredam inflasi impor dan menjadi pilihan utama aset sebagai safe haven di Asia dengan volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan peer lainnya," ujar Rahma kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Stabilitas dolar Singapura tidak terlepas dari kebijakan Monetary Authority of Singapore (MAS) yang mengelola nilai tukar melalui Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER). Kebijakan tersebut memungkinkan otoritas moneter Singapura mengendalikan tekanan inflasi impor sekaligus menjaga daya saing mata uangnya.
Selain dolar Singapura, yuan China juga dapat menjadi alternatif diversifikasi. Mata uang ini ditopang oleh surplus perdagangan serta sektor manufaktur dan ekspor yang kuat. Kendali otoritas moneter China terhadap lalu lintas devisa juga memberikan ruang bagi bank sentral China (PBOC) untuk menjaga pergerakan yuan agar tidak terlalu bergejolak.
Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi domestik China. Kebijakan pengelolaan nilai tukar yang ketat membuat pergerakan yuan tidak sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
Baca Juga: Grup Barito Pacific Lanjutkan Buyback Empat Saham, Total Capai Rp830,7 M
Adapun ringgit Malaysia memiliki daya tarik dari dukungan ekspor komoditas serta aliran investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI). Perbaikan investasi di sektor teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi turut menjadi penopang bagi prospek mata uang Malaysia tersebut.
"Ringgit Malaysia (MYR) mempunyai kinerja positif sektoral dan sempat mencatat tren kinerja yang cukup resilient di awal tahun berkat dukungan ekspor komoditas serta perbaikan aliran investasi langsung asing (FDI) di sektor teknologi dan manufaktur bernilai tinggi," kata Rahma.
Kendati demikian, diversifikasi ke mata uang asing tetap perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar dan kebutuhan investasi masing-masing investor. Penguatan suatu mata uang terhadap dolar AS tidak serta-merta menjamin keuntungan bagi investor domestik karena hasil investasi juga dipengaruhi pergerakannya terhadap rupiah.
Rahma menyarankan investor domestik mempertimbangkan instrumen berbasis valuta asing untuk melindungi nilai aset dari fluktuasi nilai tukar. Salah satunya melalui obligasi berdenominasi valas. Selain itu, investor perlu mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta neraca perdagangan Indonesia yang turut memengaruhi likuiditas valas domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














