kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.008   -24,00   -0,13%
  • IDX 6.234   -1,63   -0,03%
  • KOMPAS100 818   1,65   0,20%
  • LQ45 624   2,69   0,43%
  • ISSI 216   0,62   0,29%
  • IDX30 350   0,23   0,07%
  • IDXHIDIV20 430   0,32   0,08%
  • IDX80 94   0,31   0,33%
  • IDXV30 119   1,05   0,89%
  • IDXQ30 112   0,22   0,20%

Kinerja GOTO, BUKA dan BELI Beragam, Mana yang Paling Menarik?


Senin, 03 Agustus 2026 / 16:39 WIB
Kinerja GOTO, BUKA dan BELI Beragam, Mana yang Paling Menarik?
ILUSTRASI. Kinerja tiga emiten teknologi dan e-commerce yakni GOTO, BUKA dan BELI menunjukkan hasil beragam sepanjang semester I-2026.(KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja tiga emiten teknologi dan e-commerce menunjukkan hasil beragam sepanjang semester I-2026. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) sama-sama mencatat pertumbuhan pendapatan.

Namun, capaian ketiganya berbeda dari sisi bottom line. GOTO berhasil berbalik mencetak laba, BELI masih merugi tetapi kerugiannya menyusut, sedangkan BUKA justru berbalik mencatat kerugian.

GOTO membukukan pendapatan bersih Rp 10,99 triliun pada semester I-2026, tumbuh 28,45% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 8,56 triliun.

Baca Juga: Intervensi Bersama AS-Jepang Bayangi Dolar, Yen Diproyeksi Terus Menguat

GOTO juga mencetak laba periode berjalan Rp 423,25 miliar, berbalik dari rugi Rp 741,96 miliar. Laba usaha mencapai Rp 781,88 miliar, dari sebelumnya rugi usaha Rp 171,60 miliar.

Sementara itu, pendapatan bersih BUKA tumbuh 29,30% YoY menjadi Rp 3,99 triliun dari Rp 3,09 triliun. Namun, BUKA berbalik mencatat rugi periode berjalan Rp 817,82 miliar dari sebelumnya laba Rp 467,12 miliar.

Bottom line BUKA antara lain tertekan rugi nilai investasi Rp 1,75 triliun. Padahal, pada semester I-2025 BUKA masih mencatat laba nilai investasi Rp 243,22 miliar.

Di sisi lain, BELI mencatat pertumbuhan pendapatan tertinggi. Pendapatan bersih BELI melesat 54,55% YoY menjadi Rp 14,83 triliun dari Rp 9,60 triliun.

BELI masih membukukan rugi Rp 719,07 miliar. Namun, kerugian menyusut 43,24% YoY dari Rp 1,27 triliun. Rugi usaha juga menyusut menjadi Rp 492,97 miliar dari Rp 1,14 triliun.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai GOTO berada pada posisi paling matang di antara ketiga emiten tersebut.

"GOTO berada pada posisi yang paling matang. Keberhasilan mencetak laba menunjukkan strategi efisiensi, monetisasi ekosistem, dan disiplin biaya mulai membuahkan hasil," katanya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Baca Juga: Harga Emas Kehilangan Momentum, Peluang Koreksi Masih Terbuka

Menurut Nafan, profitabilitas GOTO relatif berkelanjutan selama perseroan mampu menjaga pertumbuhan gross transaction value (GTV), meningkatkan take rate, serta mempertahankan efisiensi biaya operasional.

Sementara BELI masih berada dalam fase transisi menuju laba. Penyusutan kerugian dinilai positif karena berasal dari efisiensi operasional serta peningkatan kualitas pendapatan.

"Jika tren peningkatan margin kotor dan pengendalian biaya terus berlanjut, peluang mencapai titik impas atau break-even dalam beberapa tahun ke depan cukup terbuka," ujar Nafan.

Adapun BUKA dinilai masih menghadapi tantangan terbesar. Meski beberapa indikator operasional membaik, laba bersih BUKA masih sangat dipengaruhi perubahan nilai investasi.

Nafan mengatakan investor perlu memisahkan kinerja operasional inti BUKA dengan komponen non-operasional. Namun, rugi investasi juga tidak bisa sepenuhnya diabaikan karena mempengaruhi nilai buku, laba bersih, dan sentimen pasar.

"Fokus utama investor sebaiknya tetap pada pertumbuhan pendapatan inti, EBITDA, arus kas operasional, serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba berulang atau recurring earnings," jelas Nafan.

Head of Research KISI Muhammad Wafi menyebut keberlanjutan profitabilitas ketiganya berbeda. GOTO sudah mencetak laba, tetapi keberlanjutannya bergantung pada pertumbuhan GMV Tokopedia dan prospek bisnis mobility.

BELI dinilai berada dalam jalur positif karena kerugiannya menyusut. Wafi melihat model B2B commerce BELI lebih efisien dari sisi modal dibandingkan B2C sehingga jalur menuju profitabilitas lebih kredibel.

Sebaliknya, kembalinya BUKA membukukan kerugian meski pendapatan tumbuh menjadi perhatian. Menurut Wafi, investor memang bisa mengeluarkan komponen non-operasional ketika menilai bisnis inti, tetapi rugi investasi tidak boleh sepenuhnya diabaikan.

"Investment portfolio losses bisa mencerminkan kualitas portofolio yang memburuk, yang berdampak terhadap neraca dalam jangka panjang," kata Wafi kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Dari sisi saham, Wafi menempatkan GOTO sebagai pilihan paling menarik, kemudian BELI dan BUKA. Dia menilai GOTO menawarkan risk-reward asymmetry yang menarik, ditopang posisi kas dan setara kas Rp 23,46 triliun per akhir Juni 2026.

"GOTO paling menarik melalui risk-reward asymmetry. Net cash Rp 23,46 triliun menjadi significant floor valuation dibandingkan kapitalisasi pasar yang sudah tertekan di level gocap," jelasnya. 

BELI menjadi pilihan kedua karena bisnis B2B commerce dinilai lebih defensif terhadap persaingan dan penyusutan rugi menunjukkan arah positif. Sementara BUKA menjadi pilihan terakhir lantaran unit keuangan dan kerugian portofolio investasi masih menjadi tantangan.

Berbeda dengan Wafi yang menjagokan GOTO, Nafan memberikan rekomendasi add untuk saham BUKA dengan target harga Rp 152 per saham.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×