Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjalankan aksi korporasi yang berpotensi mengubah struktur pengendali. Beberapa di antaranya yakni PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ), PT IdeA Indonesia Akademi Tbk (IDEA), dan PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT).
Skema yang digunakan beragam, mulai dari rights issue, akuisisi langsung, hingga private placement. Perubahan pengendali tersebut dinilai dapat menjadi katalis bagi prospek bisnis emiten, tetapi dampaknya sangat bergantung pada realisasi aksi korporasi serta kemampuan pengendali baru dalam menjalankan strategi bisnis.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, pergantian pengendali dapat menjadi katalis apabila disertai dengan suntikan modal, aset baru, perubahan strategi bisnis, maupun sinergi yang mampu meningkatkan kinerja perusahaan.
"Pergantian pengendali dapat menjadi katalis bagi emiten jika disertai suntikan modal, aset baru, perubahan strategi, atau sinergi yang dapat meningkatkan kinerja," kata Azis kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: FrieslandCampina Jadi Pengendali ULTJ Saham Baru di Hargai Rp 2.150, Begini Dampaknya
Menurut dia, dampak pergantian pengendali tidak bisa hanya dilihat dari sentimen pasar saat aksi diumumkan. Investor juga perlu mencermati bagaimana pengendali baru merealisasikan rencana bisnis dan aksi korporasi yang telah disampaikan.
Perubahan strategi bisnis juga berpotensi cukup signifikan setelah pengendali baru masuk. Hal tersebut terutama dapat terjadi apabila pergantian pengendali dilakukan melalui aksi seperti rights issue, private placement, maupun pemasukan aset atau inbreng.
"Perubahan strategi juga berpotensi cukup signifikan, terutama melalui rights issue, private placement, atau inbreng aset," ujar Azis.
Di sisi saham, pergantian pengendali dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap prospek emiten. Namun, pergerakan harga tetap perlu dilihat bersama dengan harga transaksi, valuasi perusahaan, ketentuan tender offer, serta prospek bisnis setelah perubahan pengendali.
Azis menilai investor perlu memperhatikan harga transaksi dan valuasi yang digunakan dalam aksi korporasi. Selain itu, harga tender offer juga menjadi salah satu aspek penting yang perlu dicermati ketika terjadi perubahan pengendali.
Baca Juga: Idea Indonesia Akademi (IDEA) Jadi Target Akuisisi, Ini Calon Pengendali Barunya
Untuk ULTJ, MBSS, NAYZ, IDEA, dan MKNT, ia menilai kondisi fundamental serta tahapan aksi korporasi masing-masing emiten berbeda. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya menggunakan sentimen pergantian pengendali sebagai dasar dalam mencermati saham-saham tersebut.
"Fundamental dan tahap aksi korporasinya berbeda, sehingga sebaiknya tidak hanya melihat sentimen pergantian pengendali," jelasnya.
Di sisi lain, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Risiko tersebut antara lain potensi dilusi, aksi korporasi yang tidak terealisasi sesuai rencana, perubahan strategi yang tidak menghasilkan sinergi, hingga potensi peningkatan utang maupun belanja modal.
Dengan demikian, manfaat pergantian pengendali terhadap kinerja emiten akan sangat bergantung pada eksekusi setelah transaksi. Suntikan modal, aset, atau strategi baru akan memberikan dampak positif apabila mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kinerja dan prospek bisnis perusahaan.
Baca Juga: Gelar Private Placement, Mitra Telekomunikasi (MKNT) Bakal Punya Pengendali Baru
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














